Kalandra berjongkok di depan anaknya. Pria itu mengusap puncak kepala anaknya. Hatinya seperti tertusuk sembilu. Wajar saja kalau Nabila merasa jenuh melakukan semua prosedur perawatan. Anak itu masih kecil. Di saat anak seusianya tengah asik bermain, Nabila justru harus bolak-balik ke rumah sakit. Alya mengalihkan pandangannya ke arah lain. Wanita tak kuasa menahan airmata yang sudah menggenangi kedua matanya. Perasaan bersalah kembali menghantam hatinya. Karena dirinya, Nabila harus menderita sel sabit. “Sayang.. Nabil kan anak kuat. Kita perawatan lagi ya, sayang. Supaya Nabil bisa beraktivitas lagi. Bisa main lagi, jalan-jalan sama Papa dan Mama. Ya, sayang..” bujuk Kalandra. “Tapi Papa temani Nabil di dalam.” “Iya, sayang. Papa akan temani Nabil sampai selesai. Sekarang kita jalan lagi ya.” Kepala Nabila mengangguk pelan. Dia mengasongkan tangannya, ingin digendong oleh Kalandra. Pria itu segera menggendong Nabila, kemudian melanjutkan langkahnya. Setibanya di lantai
Terakhir Diperbarui : 2026-01-24 Baca selengkapnya