Fajar menyapu langit dengan warna lembayung yang nyaris putih dan Gunung Rakata tampak berdiri diam seperti penjaga waktu dan di lembah di bawahnya, kehidupan baru terlihat mulai bernapas.Dunia telah berubah, bukan secara tiba-tiba, tetapi perlahan, seperti layaknya bunga yang membuka kelopaknya di musim yang abadi.Saat itu Larisa sedang berdiri di tepi lembah seraya menatap permukiman yang kini tumbuh alami dari bumi, bukan dibangun, tapi tumbuh. Rumah-rumah terbuat dari batu hidup dan kayu yang berakar di tanah, atapnya berkilau lembut seperti daun di bawah embun.Tak ada suara mesin, tak ada jalan raya, yang ada hanya aliran air yang berbisik dan angin yang bernyanyi.Larisa menghela napas pelan. “Inikah… Pajajaran Eling?”Nagara berdiri di sampingnya, rambutnya kini sedikit panjang, matanya terlihat tenang dan dalam.“Iya, Kak Larisa. Bukan kerajaan seperti dulu. Tapi ingatan yang hidup,” ujar Nagara.Larisa menatapnya. “Ingatan?”Nagara tersenyum samar. “Pajajaran dulu adalah t
Baca selengkapnya