Pagi itu, langit Bandung tampak berbeda.Langitnya lebih bersih dari biasanya, tapi bukan karena cuaca. Ada cahaya lembut yang seolah datang dari dalam bumi, cahaya yang tidak bisa diukur, namun bisa dirasakan.Di jalan-jalan kota, orang-orang berjalan dengan langkah pelan. Tidak ada yang sadar sepenuhnya, tapi setiap orang seolah menahan napas sejenak sebelum bicara, seperti sedang mendengarkan sesuatu yang datang dari bawah tanah.Di bawah gedung-gedung kaca dan aspal panas, getaran halus menjalar perlahan.Bukan gempa, bukan mesin, tapi sesuatu yang lebih lembut, layaknya denyut bumi yang mulai hidup lagi.Di lantai tertinggi Gedung Riset Geologi ITB, seorang peneliti muda menatap layar monitornya dengan dahi berkerut.“Pak, lihat ini…” katanya kepada atasannya. “Sensor magnetik menangkap getaran berulang dari bawah kota. Pola getarannya mirip... detak jantung?”Sang profesor mendekat. “Tidak mungkin. Itu pasti interferensi alat.”“Tapi, Pak,” jawab si peneliti, “getarannya seragam
Read more