Lorong cahaya itu memanjang tanpa ujung, seperti perjalanan tanpa jarak, hanya perubahan warna, dari keemasan menjadi lembayung, lalu biru tua yang tenang. Udara di dalamnya tidak bergerak, namun setiap langkah terasa seperti melangkah di antara detak jantung dunia.Larisa menatap sekeliling, matanya terbelalak kagum. “Juna… di mana kita?”Arjuna berjalan di depan, langkahnya pelan tapi pasti. “Di antara waktu dan rasa, Larisa. Tempat ini bukan masa depan, bukan masa lalu, tapi jembatan di antara keduanya.”Raksa menatap sekeliling, wajahnya tegang. “Seperti mimpi yang sadar.”Ratih mengangguk pelan. “Atau seperti ketika kita bermimpi tentang sesuatu yang sudah terjadi, tapi belum selesai.”Arjuna tersenyum tipis. “Itu karena semua waktu sebenarnya tidak terpisah. Mereka hidup di dalam rasa yang sama.Cahaya di ujung lorong pun tampak mulai berubah. Kini warnanya seperti api lembut, bukan panas, tapi hidup. Di tengah cahaya itu, tampak gerbang raksasa dari energi murni, penuh dengan u
Read more