Zhen Ming hari ini mengenakan setelan hanfu agak ketat sesuai untuk berburu. Rambut hitam panjangnya diikat sebuah mahkota giok hitam menjadi kunciran kuda utuh. Memperlihat diamond face-nya yang khas dan maskulin. Garis-garis rahangnya lurus dengan ujung dagu tajam. Bibir tebal alaminya nampak berwarna kemerahan samar, seolah menggoda seseorang untuk mampir sekedar mencicipi. Bahu lebar, pinggang kencang nan kuat, sepasang kaki panjang. Lengan kekar yang tercetak jelas melalui kain hanfu ketatnya— ah, semua nona muda menahan teriakan mereka. Pria setinggi 1,9 meter itu berhenti di depan Mei Anqi, menenggelamkan tubuh mungil wanita itu dalam bayang-bayang badan besarnya. Di sebelah kiri Mei Anqi, ada Cai Lun berdiri mematung kaku. Keringat dingin membasahi dahinya. Ia memberi salam sopan, “Raja Yan.” Zhen Ming mengangguk sekilas, “Ikuti aku baik-baik. Jangan katakan apapun, kecuali Kaisar Wu bertanya padamu.” “Baik, Yang Mulia. Saya mengerti,” balas Cai Lun patuh.
Read more