“Wanita suci!” Penasihat Agung memanggil gembira tepat setelah melihat kedatangan Mei Anqi di halaman depan Istana utama. “Anda sudah datang!” Mei Anqi, dibantu Nenek Chu, pergi menerima sambutan hangat Penasihat Agung. Suara lembutnya agak serak karena mengalami muntah hebat dini hari. ”Ah Jue,” sapanya ramah. “Aku dengar kamu sakit, kenapa ikut rapat pagi? Tubuhmu sudah baikkan?” Lian Fengjue memberikan tangan kanannya untuk menuntun wanita itu. Suara lembutnya melirih kala menjawab dengan telinga merona, “Pengawalku bilang anda akan ikut serta, jadi saya tidak ingin melewatkan kesempatan.” Dari balik cadar merah muda, bibir Mei Anqi mengencang. Ia sesaat merasa bersalah pada pemuda ini. “Ah Jue, tidak bisakah kamu menghapus cintamu?” Ekspresi wajah Lian Fengjue menegang kaku sekilas. Lalu kembali normal. “Sayangnya tidak bisa, jikalau memang bisa, pasti sudah saya hapus sedari awal.” Jawabannya disertai gurauan. Keduanya memasuki aula rapat beriringan. Banyak pejabat
Read more