Aula Paviliun Mentari pagi itu dipenuhi cahaya keemasan. Tirai tipis bergoyang pelan, membiaskan sinar matahari ke lantai marmer yang berkilau. Para selir telah berkumpul, duduk anggun sesuai kedudukan masing-masing.Sejak awal, Selir Agung Ivony tak melepaskan pandangannya dari Isabella.Tatapan itu tajam, dingin, dan sarat kecemburuan.Meski tak terang-terangan, Isabella merasakannya jelas. Dari ekor matanya, ia menangkap kilat amarah yang berusaha disembunyikan Ivony di balik senyum bangsawan. Diam-diam, Isabella mengulas seringai tipis—halus, nyaris tak terlihat.“Bagaimana malammu, Selir Imelda?” tanya Isabella ringan, seolah tak terjadi apa-apa.Selir Imelda tersentak kecil, lalu tersenyum tersipu. Wajahnya merona, matanya berbinar.“Terima kasih atas bantuan Anda, Yang Mulia,” ucapnya dengan nada hormat.Ivony langsung menoleh. Ada sesuatu dalam sorot matanya—tajam, menguji. Seolah ia ingin menguliti setiap kata yang keluar dari mulut Imelda.D
Última actualización : 2025-12-23 Leer más