Suara langkah itu semakin dekat. Berat, mantap, seperti seseorang yang sudah terbiasa memasuki rumah orang lain tanpa izin. Arga berdiri di depan Delia, tubuhnya menegang, sementara Pradipta terpojok di dinding dengan wajah pucat pasi.Arga berbisik cepat, “Delia, ambil mapnya. Jangan lepas.”Delia menggenggam map lusuh itu erat, jari-jarinya bergetar. “Kalau orang itu dapat ini, selesai sudah.”Langkah berhenti tepat di ruang tengah.Lalu sebuah suara terdengar. Tenang. Dingin. Mengiris.“Kau akhirnya ditemukan, Pak Pradipta.”Delia menelan napas. Suara itu tidak asing. Terlalu familiar.Arga mendecak pelan. “Sial. Dika.”Dika melangkah masuk dari arah dapur, mengenakan jas rapi seperti baru keluar dari rapat penting. Senyumnya tipis, angkuh, dan sama sekali tidak mengandung keramahan yang biasa ia tunjukkan di kantor.Ia melihat Delia dan Arga.“Oh. Kalian berdua,” katanya tenang. “Kupikir kalian akan lebih pintar daripada datang ke sini.”Arga maju satu langkah. “Dika, kau tidak ak
Last Updated : 2025-12-09 Read more