Malam sudah larut ketika satu per satu mereka berkumpul di kamar Shu Jin.Lentera minyak di sudut ruangan menyala redup, nyalanya kecil tapi stabil. Cahaya keemasan itu memantul di dinding kayu, menciptakan bayangan panjang yang bergerak pelan setiap kali angin malam menyelinap melalui celah jendela.Shin Ling datang paling akhir.Rambutnya masih setengah terurai, jubahnya dipakai terbalik tanpa ia sadari. Ia menguap lebar tanpa menutup mulut, matanya setengah terpejam.“Apa ini rapat darurat?” gumamnya serak. “Kalau bukan makanan tengah malam, aku protes.”Ia menjatuhkan diri di kursi kayu tanpa basa-basi, hampir tersandung kaki meja.Di luar, genteng berderak.Sesosok bayangan putih melompat turun dari atap dengan gesit.Byakko mendarat di ambang jendela. Bulunya acak-acakan oleh angin malam. Beberapa helai masih berdiri tegak seperti jarum. Matanya menyipit, pupil emasnya berkilat di bawah cahaya lentera.Harimau putih itu menggoyangkan tubuhnya, membuat debu beterbangan tipis.Dala
Read more