Share

Berangkat

Penulis: Zhu Phi
last update Terakhir Diperbarui: 2026-03-04 20:38:26

Zhang Yin mengangguk pelan.

Gerakannya kecil, tapi berat.

“Chao-Xing melakukan kudeta,” ucapnya, suaranya turun satu tingkat. “Pemimpin lama dibunuh… dengan bantuan Zhao Shin.”

Kata dibunuh terdengar lebih keras dari seharusnya.

Seolah ruangan ikut menyerap gema kata itu.

Udara mendadak terasa lebih dingin.

Bukan karena angin malam.

Melainkan karena aura yang perlahan merembes dari tubuh Shu Jin.

Tekanan halus, seperti suhu yang turun beberapa derajat dalam sekejap.

Namun kali ini… tidak ada le
Zhu Phi

Bab Utama : 3/3 selesai. Bab terakhir malam ini... Selamat beristirahat.

| Sukai
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Legenda Dewa Pedang    Berangkat

    Zhang Yin mengangguk pelan.Gerakannya kecil, tapi berat.“Chao-Xing melakukan kudeta,” ucapnya, suaranya turun satu tingkat. “Pemimpin lama dibunuh… dengan bantuan Zhao Shin.”Kata dibunuh terdengar lebih keras dari seharusnya.Seolah ruangan ikut menyerap gema kata itu.Udara mendadak terasa lebih dingin.Bukan karena angin malam.Melainkan karena aura yang perlahan merembes dari tubuh Shu Jin.Tekanan halus, seperti suhu yang turun beberapa derajat dalam sekejap.Namun kali ini… tidak ada ledakan amarah.Tidak ada qi yang menggila.Shu Jin berdiri diam. Wajahnya tidak berubah.Hanya matanya yang sedikit menggelap.“Aku akan menghadapi Wu Chao-Xing nanti.”Suaranya tenang, tapi menyesakkan dada.“Tapi sekarang… negeri ini lebih dulu.”Zhang Yin menarik napas panjang.“Benar,” katanya lirih. “Ia bahkan berani membujuk Keluarga Zhang untuk ikut memberontak. Iming-iming jabatan tinggi di istana.”Bibirnya menegang.“Ayahku menolaknya.”Sekilas kilatan kemarahan muncul di wajahnya.Namu

  • Legenda Dewa Pedang    Misi Rahasia

    Ruangan itu masih dipenuhi hawa tegang ketika Shu Jin memasukkan tangan ke dalam lipatan dalam jubahnya.Gerakannya tenang.Namun, semua mata mengikuti gerakan tangannya.Ia menarik keluar sebuah benda kecil yang terbungkus kain gelap. Kain itu dibuka perlahan, memperlihatkan kilau hijau pucat yang memantulkan cahaya lentera.Sebuah stempel giok tua.Permukaannya halus, namun sudut-sudutnya sudah sedikit aus oleh waktu. Ukiran naga berkuku lima melilit di sekelilingnya. Tubuhnya terukir begitu hidup hingga bayangannya di dinding tampak seperti benar-benar bergerak.Aura samar memancar darinya.Bukan aura qi liar seperti milik cultivator.Melainkan wibawa.Tekanan halus yang membuat napas terasa lebih pendek.Semua langsung terdiam.Shin Ling yang biasanya tak bisa berhenti berceloteh kini hanya menatap dengan alis terangkat.Mei Shia berbisik pelan, hampir tak terdengar.“Ini…”Matanya membesar sedikit.“Stempel Kekuasaan Keluarga Shu.”Shu Jin mengangguk.Cahaya lentera memantulkan k

  • Legenda Dewa Pedang    Rencana Shu Jin

    Malam sudah larut ketika satu per satu mereka berkumpul di kamar Shu Jin.Lentera minyak di sudut ruangan menyala redup, nyalanya kecil tapi stabil. Cahaya keemasan itu memantul di dinding kayu, menciptakan bayangan panjang yang bergerak pelan setiap kali angin malam menyelinap melalui celah jendela.Shin Ling datang paling akhir.Rambutnya masih setengah terurai, jubahnya dipakai terbalik tanpa ia sadari. Ia menguap lebar tanpa menutup mulut, matanya setengah terpejam.“Apa ini rapat darurat?” gumamnya serak. “Kalau bukan makanan tengah malam, aku protes.”Ia menjatuhkan diri di kursi kayu tanpa basa-basi, hampir tersandung kaki meja.Di luar, genteng berderak.Sesosok bayangan putih melompat turun dari atap dengan gesit.Byakko mendarat di ambang jendela. Bulunya acak-acakan oleh angin malam. Beberapa helai masih berdiri tegak seperti jarum. Matanya menyipit, pupil emasnya berkilat di bawah cahaya lentera.Harimau putih itu menggoyangkan tubuhnya, membuat debu beterbangan tipis.Dal

  • Legenda Dewa Pedang    Antara Balas Dendam dan Perang

    Lampion di luar jendela masih bergoyang pelan.Cahayanya bergetar lembut di kaca tipis, memantulkan bayangan kuning keemasan yang menari di dinding kamar. Angin malam Ganzhou masuk melalui celah jendela terbuka, membuat kamar Shu Jin menjadi lebih sejuk dengan kabar yang membuat udara terasa panas ini.Di dalam kamar, kata-kata Zhang Yin belum sepenuhnya menghilang.Perang besar.Bukan lagi benturan antar sekte yang bisa diselesaikan dengan duel di atas panggung batu.Bukan lagi dendam pribadi yang bisa dibalas dengan satu tebasan bersih.Melainkan perang yang bisa mengguncang seluruh Song Selatan.Suasana mendadak terasa lebih sempit.Lebih berat.Shu Jin berdiri perlahan dari posisi duduknya.Kayu lantai berderit pelan di bawah pijakannya. Bayangannya memanjang di lantai, membelah ruangan menjadi dua—setengah terang oleh lampion, setengah lagi tenggelam dalam biru pucat cahaya bulan.Ia melangkah mendekati jendela.Langit malam Ganzhou terbentang luas.Bintang-bintang bertaburan sep

  • Legenda Dewa Pedang    Bertemu Teman Lama

    Perjalanan keluar dari markas Sekte Pedang Dewa berlangsung tanpa banyak kata. Tubuh mereka lelah, energi qi terkuras, dan luka pertarungan masih terasa panas di bawah kulit.Ketika pusat Kota Ganzhou akhirnya terlihat di kejauhan, bahkan Byakko menguap panjang.Kota itu ramai, lampion merah menggantung di sepanjang jalan utama. Pedagang malam mulai membuka lapak. Aroma sup hangat dan daging panggang memenuhi udara.Kondisi yang hampir terasa tidak nyata setelah pertempuran hidup-mati sebelumnya.Shin Ling meregangkan bahu.“Aku bersumpah… kalau ada lagi pertarungan hari ini, aku akan pura-pura mati saja.”Lian Hua melirik datar. “Kau sudah pura-pura mati tiga kali tadi.”“Itu strategi bertahan hidup!”Mei Shia menghela napas kecil. Sudut bibirnya terangkat tipis.Shu Jin hanya menggeleng pelan.Mereka sepakat bermalam di Ganzhou sebelum berangkat subuh menuju Kota Jiuquan, jalur yang lebih aman dari perampok cultivator yang sering menyerang rombongan malam.Penginapan yang mereka pil

  • Legenda Dewa Pedang    Bara Dendam Sang Dewa Pedang

    Dunia Makam Dewa Pedang.Tanah suci yang hanya disebut dalam rumor legenda.Di sana, ribuan pedang kuno tertancap seperti nisan bagi para legenda. Angin yang berhembus melewati lembahnya selalu membawa dengung samar—seolah bilah-bilah itu masih mengingat tangan para pemiliknya. Cahaya matahari pun tak pernah jatuh sepenuhnya terang; ia terpecah oleh aura pedang yang tak kasat mata.Tempat para pedang abadi beristirahat.Tempat nama-nama besar sejarah terlelap dalam keheningan panjang.Dan di pusatnya—berdiri satu sosok yang namanya sendiri sudah cukup membuat langit menahan napas.Luo Fei—Raja Pedang Abadi.***Di reruntuhan Sekte Pedang Dewa, nama itu menggantung di udara seperti lonceng kematian.Shin Ling menelan ludah.Tenggorokannya terasa kering, pahit oleh debu dan sisa tekanan energi. Jantungnya masih berdegup tak teratur, seakan belum percaya bahwa ia baru saja menyaksikan benturan dua kekuatan yang bisa menghancurkan dunia.Di sampingnya, Lian Hua mengepalkan tangan.Tatapann

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status