Nyawa Shu Jin terancam tapi ia tampak tenang.Pedang Dewa Ilahi diayunkan dengan santainya.“FIRE PHOENIX BLAST!”BOOOOOOM!!!Raungan api meledak dari pedang Shu Jin—liar, membabi buta, memakan udara di sekitarnya. Cahaya merah menyala menyilaukan mata, panasnya menghantam wajah seperti dinding yang tiba-tiba runtuh.Api itu… tidak sekadar menyala.Ia hidup.Dari pusaran kobaran itu, bentuk mulai tercipta—sayap membentang luas, bulu-bulu api bergetar, ekor panjang menyapu udara dengan percikan bara yang beterbangan.Seekor feniks.Jeritannya menggema—tinggi, tajam, menusuk hingga ke tulang. Suara itu merobek hiruk-pikuk medan perang, membuat banyak kepala menoleh tanpa sadar.Dan tanpa ragu—ia menerjang.Mempersempit jarak.Menuju Helian.SHRRRRAAAK!!!Benturan terjadi.Api dan bayangan bertabrakan seperti dua dunia yang saling menolak. Feniks itu mencabik dengan cakar berapi, sayapnya menghantam seperti badai panas, paruhnya menyambar dengan niat membakar habis segalanya.Api menjila
Read more