LOGINPerang Song Selatan semakin menarik... Mohon bersabar untuk bab banyak ya sobat readers...
Di seluruh hamparan Gurun Gobi, darah mengalir tanpa henti.Bukan lagi tetesan.Bukan lagi semburan kecil.Tapi aliran merah yang mengisi cekungan pasir, mengalir di sela-sela jejak kaki, membentuk genangan yang memantulkan langit merah yang kian menghitam.Teriakan keras mengguncang udara di tengah hiruk pikuk pertempuran besar.Cakar merobek daging.Taring menembus tulang.Pedang menghantam tubuh dengan bunyi basah yang mengerikan.Hewan roh dan hewan iblis saling mencabik seperti makhluk tanpa akal, namun justru karena itu… lebih mengerikan.Seekor harimau roh menerjang, cakarnya menyapu tiga serigala iblis sekaligus—tulang mereka patah seperti ranting kering.Namun, di detik berikutnya—seekor burung iblis raksasa menukik, paruhnya menembus punggung harimau itu, mencabut dagingnya hidup-hidup.Di sisi lain—ada manusia.Tidak kalah brutal dengan makhluk iblis dan hewan roh.Pedang bertemu pedang.Tombak menghujam perut.Panah menancap di mata.Setiap langkah—menginjak darah.Setiap
Angin… tiba-tiba lenyap di Gurun Gobi.Bukan mereda—tapi seolah ditelan oleh sesuatu yang tak terlihat oleh mata biasa.Butiran pasir yang tadi berputar liar di udara kini menggantung, jatuh perlahan… seperti dunia kehilangan napasnya sendiri.Di kejauhan, dentuman perang masih ada—namun terdengar jauh.Seakan dipisahkan oleh tirai tak kasat mata.Dan di pusat kehampaan itu—Shu Jin melangkah dengan tenang.Tanah di bawah kakinya retak.Retakan itu menjalar, memanjang seperti luka yang dipaksa terbuka.Ia meneruskan langkahnya...Pasir terangkat tipis… lalu hancur menjadi debu halus.Ia terus maju.Tidak tergesa-gesa ataupun ragu.Namun, setiap langkahnya membawa tekanan yang semakin berat—seolah gunung tak kasat mata turun perlahan dari langit untuk menghantam bumi.Pedang di tangannya terangkat pelan.Namun saat bilah itu naik—sesuatu berubah.Aura di sekitarnya bergetar.Udara menegang tak seperti biasanya.Langit di atas mereka… berdenyut.Awan yang semula menggantung pecah.Terbela
Nyawa Shu Jin terancam tapi ia tampak tenang.Pedang Dewa Ilahi diayunkan dengan santainya.“FIRE PHOENIX BLAST!”BOOOOOOM!!!Raungan api meledak dari pedang Shu Jin—liar, membabi buta, memakan udara di sekitarnya. Cahaya merah menyala menyilaukan mata, panasnya menghantam wajah seperti dinding yang tiba-tiba runtuh.Api itu… tidak sekadar menyala.Ia hidup.Dari pusaran kobaran itu, bentuk mulai tercipta—sayap membentang luas, bulu-bulu api bergetar, ekor panjang menyapu udara dengan percikan bara yang beterbangan.Seekor feniks.Jeritannya menggema—tinggi, tajam, menusuk hingga ke tulang. Suara itu merobek hiruk-pikuk medan perang, membuat banyak kepala menoleh tanpa sadar.Dan tanpa ragu—ia menerjang.Mempersempit jarak.Menuju Helian.SHRRRRAAAK!!!Benturan terjadi.Api dan bayangan bertabrakan seperti dua dunia yang saling menolak. Feniks itu mencabik dengan cakar berapi, sayapnya menghantam seperti badai panas, paruhnya menyambar dengan niat membakar habis segalanya.Api menjila
Di sisi lain medan perang—segala sesuatu berhenti. Bukan karena sunyi. Bukan karena damai. Melainkan karena… membeku. Angin yang semula berdesir kini terasa seperti dinding tak kasatmata—kaku, dingin, dan menusuk. Setiap hembusan berubah menjadi pisau tipis yang mengiris kulit. Butiran pasir yang beterbangan perlahan kehilangan bentuknya… lalu mengeras. Kristal. Satu per satu. Kilatan putih kebiruan memantul dari permukaannya, menciptakan pemandangan yang indah—dan mematikan. Napas menjadi berat. Setiap tarikan terasa seperti menghirup serpihan es. Dan di pusat semua itu—seorang wanita berdiri. Diam. Tak tergoyahkan. Rambut putihnya melayang perlahan, seolah tak terpengaruh hukum dunia. Helai-helainya berkilau samar di bawah cahaya redup, seperti untaian salju yang hidup. Kulitnya pucat tanpa cela. Namun, yang paling mencolokadalah matanya. Dingin dan kosong. Tanpa emosi. Seolah tak ada satu pun makhluk di dunia ini yang layak mendapat perhatian darinya. Nara Baixue.
Di tengah pusaran kekacauan yang meraung tanpa henti—jeritan, benturan logam, dan dentuman energi saling bertubrukan—Shu Jin berdiri tegak dengan tenang.Terlalu tenang untuk seseorang yang berada di pusat medan pembantaian.Matanya bergerak perlahan, tajam, membaca setiap pergerakan. Setiap desir angin. Setiap perubahan aliran Qi. Bahkan partikel pasir yang beterbangan pun seolah tak luput dari pengamatannya.Lalu—angin berubah.Terasa dingin.Bukan dingin biasa. Ini dingin yang merayap ke dalam tulang, membawa aura kegelapan yang menekan dada. Seolah dunia di sekitarnya… kehilangan warna.Bayangan Shu Jin memanjang di tanah.Namun, itu tidak lagi mengikuti tubuhnya.Ia bergerak sendiri.SWOOSH!!!Udara bergetar tipis—hampir tak terdengar.Sosok itu muncul begitu saja di belakangnya.Tanpa jejak.Tanpa niat yang bisa ditangkap.Hanya satu hal yang nyata—pedang hitam yang sudah meluncur, membelah udara, mengarah lurus ke leher Shu Jin.TRANG!!!Percikan api meledak.Shu Jin sudah berge
Langit merah di atas Gurun Gobi tidak lagi sunyi.Gemuruh di atas langit terdengar jelas.Bukan oleh kilat.Bukan oleh badai.Tapi oleh suara yang lebih purba—lebih tua dari perang itu sendiri.AWWWWOOOOO!!!Raungan panjang itu menggulung di atas pasir, merayap di antara bukit-bukit tandus, mengguncang tulang siapa pun yang mendengarnya. Udara seakan bergetar, membawa bau darah yang bahkan belum tumpah.Lalu—RAAAAAWWW!!!Auman balasan membelah langit.Lebih dalam dan berat.Seperti petir yang jatuh langsung ke jantung dunia.Itu adalah suara Byakko.Dan pada detik itu—tak ada lagi ruang untuk ragu.Tak ada lagi jalan untuk mundur.Neraka… benar-benar telah dibuka.***BOOOOOM!!!Benturan pertama tidak terdengar seperti suara biasa.Ia seperti dua dunia yang dipaksa bertabrakan.Gelombang hitam dan putih menghantam satu sama lain di tengah gurun—pasukan hewan iblis dari Dinasti Jin melawan kawanan hewan roh yang mengikuti Byakko.Pasir terangkat tinggi.Angin berputar liar.Langit yang
Pil itu telah melewati tenggorokan Aylin.Namun dunia tidak berubah.Tidak ada kilatan cahaya. Tidak ada gelombang Qi yang meledak memecah udara. Tidak ada luka yang menutup atau napas yang tiba-tiba stabil. Aula Pengadilan Dalam tetap sama—dipenuhi debu halus yang melayang, batu-batu retak yang men
Angin gurun tiba-tiba mengamuk.Bukan hembusan biasa—melainkan raungan rendah yang menggulung dari segala arah, menghantam dinding batu, mencabik pasir dari tanah dan mengangkatnya ke udara. Butiran pasir berputar liar, membentuk pusaran yang menanjak ke langit malam seperti naga tanpa kepala.Aylin
Sementara itu—jauh dari badai dan darah... di jantung Sekte Gobi-Pay.Aula utama bermandikan cahaya obor yang bergoyang tak tenang. Api-oranye memantul di dinding batu berukir, menciptakan bayangan yang memanjang dan saling menelan, seolah roh-roh gurun ikut mengintip dari celah-celah batu. Setiap h
Author akan memberikan sedikit gambaran tentang ranah kultivasi di cerita ini agar sobat readers yang baru pertama kali membaca karya wuxia-xian xia tentang kultivasi, bisa memahaminya.Untuk kisah Legenda Dewa Pedang Shu Jin, Author menggunakan ranah yang umum digunakan di kisah-kisah kultivasi :







