Angin pegunungan menyayat seperti bilah tak terlihat.Qing Jian berdiri tegak di punggung Byakko saat mereka menembus lapisan awan terakhir. Kabut terbelah di belakang mereka, hutan mati tenggelam jauh di bawah, berganti tebing-tebing curam yang menjulang angkuh. Jalur batu muncul di hadapan—dipahat rapi, lurus, dan tua. Bukan sekadar batu. Setiap pijakannya memancarkan niat pedang yang tenang namun tajam, seolah ribuan ayunan pernah mengukir tempat ini.Byakko memperlambat langkah, lalu menundukkan kepala besar itu.Qing Jian melompat turun.“Kau tunggu di sini,” katanya pelan, suaranya nyaris terseret angin. “Jaga jalur belakang.”Byakko mengaum rendah—patuh, waspada.Begitu telapak kaki Qing Jian menyentuh jalur batu—WUUUNG—!!Udara bergetar. Tekanan tak kasatmata datang dari segala arah, bukan untuk melukai melainkan menimbang, menguji, dan menyaring.Ujian Huashan.Qing Jian tidak mundur. Ia melangkah maju.Satu langkah—tekanan menekan bahu. Dua langkah—udara mengeras seperti di
Last Updated : 2025-12-22 Read more