Aku mengingat kejadian malam itu dan berkata, "Awalnya, kukira itu cuma jari yang sentuh aku, jadi aku nggak perhatikan. Tapi kemudian aku merasa ada yang nggak beres. Jari ini tebal, keras, dan sangat panas, lalu menekan tepat ke pantatku."Mata teman sekamarku hampir berbinar, dia buru-buru bertanya, "Bagaimana rasanya? Apa enak?"Aku melanjutkan, "Perasaan itu, kalau nggak dipikirkan, nggak apa-apa, tapi kalau dipikirkan, rasanya nggak terkendali. Waktu aku sadar sama jari itu, aku merasa pantatku gatal, tubuhku mengeluarkan cairan."Ekspresi teman sekamarku juga jadi bersemangat, nada bicaranya menjadi ambigu."Terus, terus gimana masuknya?"Aku malu sekali sampai wajahku merah."Lalu dia terus mendorong masuk sekuat tenaga. Aku nggak bisa tahan dia, jadi aku menjepitnya sekuat tenaga."Rani pun terkekeh.Mungkin kami terlalu berisik, dua teman sekamar yang tidur di dekat situ mengeluh."Bisa pelan sedikit nggak? Kami mau tidur."Aku buru-buru berkata, "Eh, oke, kami akan lebih pel
Magbasa pa