ВойтиIbunya menunjuk wajah Ardan sambil membentak, "Durhaka! Kamu tahu apa yang kamu lakuin? Kamu bikin keluarga kita malu!"Ayah sepupuku ikut bicara dengan wajah marah, "Ardan, kalau kamu nekat batalkan pernikahan ini, kerja sama dua keluarga selesai."Ardan berdiri di depan aku seperti pelindung. Suaranya tenang tetapi mantap. "Bu, Om, maaf. Dari awal, pernikahan ini sudah keliru. Aku nggak bisa terus jalan di jalur yang salah. Untuk urusan perusahaan, biar aku cari jalan keluar sendiri. Aku nggak mau nyeret siapa pun.""Kamu cari jalan keluar? Kamu bisa apa?!"Ibunya gemetar karena marah. "Semuanya ini gara-gara dia ya?"Tatapannya langsung menusuk ke arahku, membuatku tidak berani bergerak.Tiba-tiba sepupuku angkat suara dengan nada serak. "Ibu, Ayah, cukup."Semua orang langsung menoleh padanya. Dia menghapus air matanya lalu menatap Ardan, kemudian menatapku.Suaranya pelan tapi tegas. "Sebenarnya aku sudah tahu kalau hati Ardan bukan buat aku. Di hari pernikahan saja, aku bisa liha
Namun, senyum sepupuku kembali muncul di pikiranku dan langsung menahan kata-kataku. "Tapi, sepupuku...""Aku sudah bicara sama dia." Ardan memotong pelan, "Setelah resepsi selesai, kami tanda tangan kesepakatan. Nanti kalau waktunya pas, kami akan bercerai baik-baik. Orang yang dia suka sebenarnya sudah menunggu dia dari lama."Aku menatapnya kaget. "Dia tahu?""Tahu." Dia tersenyum getir. "Kami berdua cuma korban dari perjodohan itu. Aku sama sekali nggak nyangka bakal ketemu kamu."Mobil berhenti di tepi sungai. Angin malam masuk lewat celah jendela dan membawa dingin yang menusuk.Ardan mengulurkan tangan dan menggenggam tanganku. Hangatnya masih sama seperti malam itu."Aku tahu ini nggak adil buatmu, membuatmu berada di posisi sulit. Tapi aku nggak mau kehilangan kamu lagi."Jantungku berdetak makin cepat. Hangat dari tangannya membuat resahku perlahan runtuh tetapi perasaan takut tetap menghantui. "Kalau keluargamu nggak setuju? Kalau sepupuku…""Biar aku yang urus." Dia menggen
Kalimat itu seperti petir dan membuat kepalaku seketika kosong.Kata-kata untuk mengungkapkan perasaan yang ingin keluar terasa menumpuk di ujung lidah, tetapi bayangan sepupuku yang memakai gaun pengantin langsung menyapu semuanya.Aku mundur selangkah dan menghindari tatapannya. "Kakak ipar, sepupuku masih nunggu kamu."Tatapannya meredup, dia tidak berkata apa-apa lagi.Aku berbalik pergi, sempat mendengar dia menghela napas pelan di belakangku.Saat kembali ke meja, sepupuku menggandeng lengannya dengan senyum bahagia.Melihat tangan mereka saling menggenggam membuat hatiku terasa seperti tersayat.Kalau aku bicara, mungkin pernikahan sepupuku akan hancur. Kalau aku diam, aku akan memendam penyesalan ini seumur hidup.Saat acara bubar, Ardan diam-diam menyelipkan selembar kertas ke tanganku. Di atasnya tertulis nomor teleponnya."Nanti kalau kamu sudah memutuskan..." bisiknya di telingaku. "Apa pun pilihanmu, aku ikut."Kertas itu kuselipkan di genggaman sampai hampir kusam dan nom
Aku mengingat kejadian malam itu dan berkata, "Awalnya, kukira itu cuma jari yang sentuh aku, jadi aku nggak perhatikan. Tapi kemudian aku merasa ada yang nggak beres. Jari ini tebal, keras, dan sangat panas, lalu menekan tepat ke pantatku."Mata teman sekamarku hampir berbinar, dia buru-buru bertanya, "Bagaimana rasanya? Apa enak?"Aku melanjutkan, "Perasaan itu, kalau nggak dipikirkan, nggak apa-apa, tapi kalau dipikirkan, rasanya nggak terkendali. Waktu aku sadar sama jari itu, aku merasa pantatku gatal, tubuhku mengeluarkan cairan."Ekspresi teman sekamarku juga jadi bersemangat, nada bicaranya menjadi ambigu."Terus, terus gimana masuknya?"Aku malu sekali sampai wajahku merah."Lalu dia terus mendorong masuk sekuat tenaga. Aku nggak bisa tahan dia, jadi aku menjepitnya sekuat tenaga."Rani pun terkekeh.Mungkin kami terlalu berisik, dua teman sekamar yang tidur di dekat situ mengeluh."Bisa pelan sedikit nggak? Kami mau tidur."Aku buru-buru berkata, "Eh, oke, kami akan lebih pel
Aku berusaha melepaskan diri, tetapi pria itu menekan dadaku dengan erat dan mendorong tubuhku mendekat ke arahnya sampai aku tidak bisa bergerak.Sensasi aneh itu membuat pikiranku seketika kacau dan sulit berkonsentrasi.Tubuhku yang telah lama kering, kini disirami hujan musim semi yang menyejukkan.Perlahan, tubuhku tenggelam dalam sensasi kenikmatan ini.Aku ingin menjauh, tetapi kakiku terasa lemas dan tidak sanggup menolak.Pria itu mendekat dan menggigit pelan telingaku dengan penuh semangat.Dia berkata, "Kamu sendiri yang bergerak ke arahku tadi, jangan salahin aku ya."Aku kesal dan malu, tapi tidak tahu harus bersikap seperti apa.Orang di depanku tadi juga tidak sengaja menabrak, jadi aku pun tidak bisa menyalahkannya.Lagi pula, aku sama sekali tidak mungkin berteriak dan mengatakan apa yang sebenarnya terjadi.Pria itu mendorong dengan liar ke dalam tubuhku.Sensasi itu datang begitu cepat hingga membuat pikiranku serasa ditenggelamkan.Penglihatanku bergetar, suaraku hi
Begitu aku selesai bicara, pria itu mendekat ke telingaku dan berbisik, "Sensasinya, terlalu kuat, ya?"Aku hampir menangis karena malu, lalu berkata padanya dengan suara bergetar, "A... aku masih perawan dan belum pernah lakukan itu… Aku cuma mohon lepaskan aku."Namun, setelah kalimat itu keluar, sorot matanya justru makin menggebu.Dia menatapku penuh gairah. Lalu dia mencengkeram pinggangku dengan kedua tangannya dan makin mengeratkan cengkeramannya."Benar belum pernah? Kakak bisa bikin kamu merasakan kebahagiaan sebagai seorang wanita, mau coba?"Anehnya, saat dia mengucapkan itu, reaksi pertamaku bukan menolak, melainkan muncul perasaan yang bercampur antara takut dan sebuah harapan yang sulit aku mengerti.Apa aku benar-benar wanita jalang?Di rumah, aku sering mencoba memahami tubuhku sendiri, tetapi tidak pernah benar-benar merasa puas.Dalam hati, aku selalu berharap ada seorang pria yang bisa menenangkan sisi gelisah itu.Namun, aku tidak pernah membayangkan hal itu muncul







