LOGIN"Aku mohon, Kak. Berhenti, aku nggak kuat lagi." Di konser yang penuh sesak itu, seorang pria berdiri persis di belakangku dan terus menekan bokongku. Sialnya, hari ini aku pakai rok mini sebatas pantat, sedangkan di dalamnya cuma pakai celana dalam model thong. Pria itu bahkan mengangkat rokku dan menempel kuat pada pantatku. Suasana makin heboh, seseorang di depanku menabrakku sampai aku mundur selangkah. Tubuhku mendadak menegang, rasanya seperti ada sesuatu yang tiba-tiba masuk…
View MoreIbunya menunjuk wajah Ardan sambil membentak, "Durhaka! Kamu tahu apa yang kamu lakuin? Kamu bikin keluarga kita malu!"Ayah sepupuku ikut bicara dengan wajah marah, "Ardan, kalau kamu nekat batalkan pernikahan ini, kerja sama dua keluarga selesai."Ardan berdiri di depan aku seperti pelindung. Suaranya tenang tetapi mantap. "Bu, Om, maaf. Dari awal, pernikahan ini sudah keliru. Aku nggak bisa terus jalan di jalur yang salah. Untuk urusan perusahaan, biar aku cari jalan keluar sendiri. Aku nggak mau nyeret siapa pun.""Kamu cari jalan keluar? Kamu bisa apa?!"Ibunya gemetar karena marah. "Semuanya ini gara-gara dia ya?"Tatapannya langsung menusuk ke arahku, membuatku tidak berani bergerak.Tiba-tiba sepupuku angkat suara dengan nada serak. "Ibu, Ayah, cukup."Semua orang langsung menoleh padanya. Dia menghapus air matanya lalu menatap Ardan, kemudian menatapku.Suaranya pelan tapi tegas. "Sebenarnya aku sudah tahu kalau hati Ardan bukan buat aku. Di hari pernikahan saja, aku bisa liha
Namun, senyum sepupuku kembali muncul di pikiranku dan langsung menahan kata-kataku. "Tapi, sepupuku...""Aku sudah bicara sama dia." Ardan memotong pelan, "Setelah resepsi selesai, kami tanda tangan kesepakatan. Nanti kalau waktunya pas, kami akan bercerai baik-baik. Orang yang dia suka sebenarnya sudah menunggu dia dari lama."Aku menatapnya kaget. "Dia tahu?""Tahu." Dia tersenyum getir. "Kami berdua cuma korban dari perjodohan itu. Aku sama sekali nggak nyangka bakal ketemu kamu."Mobil berhenti di tepi sungai. Angin malam masuk lewat celah jendela dan membawa dingin yang menusuk.Ardan mengulurkan tangan dan menggenggam tanganku. Hangatnya masih sama seperti malam itu."Aku tahu ini nggak adil buatmu, membuatmu berada di posisi sulit. Tapi aku nggak mau kehilangan kamu lagi."Jantungku berdetak makin cepat. Hangat dari tangannya membuat resahku perlahan runtuh tetapi perasaan takut tetap menghantui. "Kalau keluargamu nggak setuju? Kalau sepupuku…""Biar aku yang urus." Dia menggen
Kalimat itu seperti petir dan membuat kepalaku seketika kosong.Kata-kata untuk mengungkapkan perasaan yang ingin keluar terasa menumpuk di ujung lidah, tetapi bayangan sepupuku yang memakai gaun pengantin langsung menyapu semuanya.Aku mundur selangkah dan menghindari tatapannya. "Kakak ipar, sepupuku masih nunggu kamu."Tatapannya meredup, dia tidak berkata apa-apa lagi.Aku berbalik pergi, sempat mendengar dia menghela napas pelan di belakangku.Saat kembali ke meja, sepupuku menggandeng lengannya dengan senyum bahagia.Melihat tangan mereka saling menggenggam membuat hatiku terasa seperti tersayat.Kalau aku bicara, mungkin pernikahan sepupuku akan hancur. Kalau aku diam, aku akan memendam penyesalan ini seumur hidup.Saat acara bubar, Ardan diam-diam menyelipkan selembar kertas ke tanganku. Di atasnya tertulis nomor teleponnya."Nanti kalau kamu sudah memutuskan..." bisiknya di telingaku. "Apa pun pilihanmu, aku ikut."Kertas itu kuselipkan di genggaman sampai hampir kusam dan nom
Aku mengingat kejadian malam itu dan berkata, "Awalnya, kukira itu cuma jari yang sentuh aku, jadi aku nggak perhatikan. Tapi kemudian aku merasa ada yang nggak beres. Jari ini tebal, keras, dan sangat panas, lalu menekan tepat ke pantatku."Mata teman sekamarku hampir berbinar, dia buru-buru bertanya, "Bagaimana rasanya? Apa enak?"Aku melanjutkan, "Perasaan itu, kalau nggak dipikirkan, nggak apa-apa, tapi kalau dipikirkan, rasanya nggak terkendali. Waktu aku sadar sama jari itu, aku merasa pantatku gatal, tubuhku mengeluarkan cairan."Ekspresi teman sekamarku juga jadi bersemangat, nada bicaranya menjadi ambigu."Terus, terus gimana masuknya?"Aku malu sekali sampai wajahku merah."Lalu dia terus mendorong masuk sekuat tenaga. Aku nggak bisa tahan dia, jadi aku menjepitnya sekuat tenaga."Rani pun terkekeh.Mungkin kami terlalu berisik, dua teman sekamar yang tidur di dekat situ mengeluh."Bisa pelan sedikit nggak? Kami mau tidur."Aku buru-buru berkata, "Eh, oke, kami akan lebih pel






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.