Alih-alih menjawabnya, air mata itu mengalir makin deras. Wu Zhaojun panik. Ia bangkit lalu duduk di sampingnya. Merendahkan suaranya, ia mencoba membujuk, “Kau bisa ceritakan padaku setelah tenang.”Hatinya terasa tidak nyaman. Ketika ia akan menariknya ke dalam pelukannya, ia berhenti sejenak, menurunkan kepalanya, bertanya ragu-ragu, “A-Yuan, apakah kau kesal karena aku masih di sini?”Saat berkata begini, wanita itu kembali mencengkram kerahnya. Matanya yang sembab menatapnya lama sebelum menggeleng, kemudian bergumam, “Jangan pergi.”Wu Zhaojun melihat ke dalam sorot matanya yang penuh tekad. Menunggu beberapa saat, memastikan dia tidak mengubah ucapannya barusan. Kedua tangannya kembali terulur, menyeka basah di wajahnya.Meski hatinya tidak nyaman melihat semua air mata itu, ia tidak bisa menahan senyum lebar yang perlahan merekah di wajahnya. Tanpa ragu ia menariknya untuk memeluknya, mengangguk di atas kepalanya, “Mmh, aku tidak akan pergi.”Ia menepuk pelan punggungnya, “Ja
Read more