LOGINJiwa seorang pembunuh bayaran bertransmigrasi ke dalam tubuh seorang wanita muda yang baru menikah ke dalam keluarga bangsawan. Ingin menindasnya? Jangan harap! Menyakitinya seratus kali? Ia akan membalasmu seribu kali! Li Yuan, yang sejak awal muak dengan kehidupan terkurung bak dalam sangkar, akhirnya merasakan kebebasan setelah mencicipi sedikit intrik halus para wanita halaman dalam. Berkelana di dunia luar, ia akhirnya bertemu Tuan Muda Wu, seorang jenderal dari Perbatasan Selatan. Reputasinya sebagai tangan kanan kaisar sudah terkenal sampai ke pelosok negeri. Setelah melewati berbagai peristiwa bersama, mereka pun menjadi rekan seperjalanan. Namun, tanpa sepengetahuan Li Yuan, sang jenderal telah menumbuhkan perasaan yang tak biasa terhadapnya. Merasa tertolak bahkan sebelum mengakui perasaannya, bagaimana akhirnya nasib Jenderal Wu? Mampukah ia meluluhkan hati sang pembunuh bayaran? Catatan: Meskipun mengambil latar Tiongkok kuno, beberapa aturan yang saya buat sendiri telah saya tambahkan untuk menunjang alur cerita.
View MoreMalam itu di luar kediaman angin kencang bertiup seakan hendak menumbangkan pepohonan yang ada di halaman. Di selatan cakrawala, kilatan petir sesekali akan terlihat menerangi malam yang pekat.
Li Yuan turun dari balik balok penyangga atap tanpa suara. Pedang pendeknya tersembunyi dengan baik di balik lengan baju hitamnya. Ia melangkah maju tanpa suara. Kemampuan meringankan tubuhnya termasuk yang terbaik di antara orang-orang di dalam organisasi. Organisasi mereka merupakan organisasi gelap yang terkenal di dunia bawah tanah karena memilki sekumpulan pembunuh bayaran terbaik di seluruh Dinasti Xin. Malam ini adalah pertama kalinya ia keluar dari benteng untuk melakukan misi pertamanya. Misinya yaitu untuk melenyapkan nyawa seorang pejabat tinggi pemerintah. Setelah dilatih oleh para ahli dalam organisasi selama bertahun-tahun, akhirnya ia memenuhi syarat untuk melakukan tugas pertamanya. Jika ini berhasil, ia akan secara resmi menjadi salah satu pembunuh bayaran yang akan dipekerjakan oleh organisasi. Ini menandai berakhirnya masa magangnya. Li Yuan hendak berbelok ke sudut ketika melihat sekelebat bayangan melintas sejauh beberapa ruangan darinya. Apakah organisasi telah mengirim pembunuh bayaran lainnya? Ia bertanya-tanya. Tak heran mengingat target kali ini adalah seorang pejabat tinggi yang untuk keselamatannya ia telah mempekerjakan banyak pengawal ahli tingkat tinggi. Menghilangkan keraguan sesaatnya, ia dengan mantap berbelok. Sebelumnya ia sudah mencari tahu lokasi kamar tidur pejabat itu. Karena telah meracuni minuman para pengawal dengan obat bius, ia yakin tidak akan ada gangguan yang berarti. Ia sudah mencapai pintu depan ruang tidur ketika tiba-tiba sekelompok pengawal yang seharusnya tidak sadarkan diri menerjang ke arahnya. Li Yuan bingung, sebelumnya ia telah memastikan para pengawal ini meminum anggur yang bercampur dengan obat bius yang disiapkan olehnya. Bagaimana mereka bisa terlihat baik-baik saja saat ini? Namun ia tidak diberi waktu untuk mencerna apa yang telah terjadi. Sudah tidak sempat lagi untuk bersembunyi, kelompok pengawal itu telah melihatnya. Karena sudah seperti ini, ia hanya bisa menggertakkan giginya berniat untuk bertempur melawan para ahli tingkat tinggi itu. Lolos tanpa cacat adalah sebuah keberuntungan. Mati tanpa tempat pemakaman merupakan sesuatu yang hanya bisa disesalkan. Bagaimanapun, orang-orang yang berkecimpung dalam pekerjaan ini seringnya tidak akan menemui akhir yang baik. Pandangannya menatap tajam ke depan. Kedua pedang pendeknya segera terhunus dari balik lengannya. Ketika para penyerang berada dalam jangkauan pedang pendeknya, segera tebasan demi tebasan ia layangkan. Darah berceceran memenuhi koridor. Tidak lama kemudian, dari penglihatan tepinya, sementara ia sedang menghadapi lima orang pengawal yang menyerangnya sekaligus, ia melihat sosok berpakaian hitam diam-diam telah tiba di depan pintu ruang tidur. Sebelum masuk ke dalam, orang itu sempat menoleh ke arahnya. Sebuah seringai tipis menghiasi wajah pemuda kurus yang terbungkus dalam pakaian serba hitam itu. Xu Chen?! Beraninya dia! Amarah segera bangkit dalam dirinya. Gangguan sesaat itu telah membuat celah hingga sebuah tusukan dari pedang panjang berhasil menembus dadanya, dan pikirannya segera menjadi jelas. Ia begitu bodoh hingga berpikir akan segera dipekerjakan secara resmi oleh organisasi. Kenyataannya, ia hanya dimanfaatkan oleh organisasi untuk menutupi celah dalam mencapai misi kali ini. Ia sangat yakin misi ini pastilah sangat penting hingga seorang anggota seperti dirinya harus dikorbankan. Li Yuan dengan cepat kehilangan kekuatannya. Tubuhnya terjatuh begitu saja di atas ubin yang dingin. Beberapa serangan pedang lawan telah berhasil melukai tubuhnya, mengiris dagingnya menjadi sayatan-sayatan yang dalam maupun ringan. Meski begitu ia kini tidak bisa lagi merasakan luka kecil seperti itu. Seluruh tubuhnya hanya terasa amat sakit. Sakit yang tak tertahankan. Di akhir napasnya, ia tersenyum dingin. Sepertinya jalan jahat yang hendak diarunginya dalam kehidupan ini tidak ditakdirkan untuk ia jalani lebih lama lagi. Jika ada kehidupan berikutnya, ia tidak akan pernah mengampuni orang-orang yang berbalik melawannya. -------- Kediaman Bangsawan Shen. "Nyonya! Nyonya Muda! Seseorang tolong selamatkan Nyonya Muda!" Seorang pelayan wanita berteriak meminta tolong, namun entah bagaimana teriakannya terdengar semakin pelan sehingga bahkan orang-orang yang berada di dekat sana pun kemungkinan tidak akan bisa mendengar teriakan minta tolong itu. Karena 'merasa' tidak ada yang mendengarnya, ia pergi mencari bantuan ke tempat yang lebih jauh, meninggalkan sang majikan berjuang sendirian di dalam kolam yang dingin. Beberapa pelayan muda yang kebetulan lewat di dekat sana segera menyadari seseorang sedang tenggelam di kolam. Salah seorang di antara mereka yang tahu berenang segera masuk ke dalam air untuk menarik orang yang tenggelam itu. Mereka sangat terkejut ketika mendapati bahwa yang tenggelam adalah Nyonya Muda Pertama yang baru menikah ke dalam keluarga. Kemudian keadaan mulai sibuk saat Nyonya Pertama itu dibawa kembali ke halamannya. Tabib sudah dipanggil dan sedang memeriksa. Para pelayan di luar berbisik-bisik satu sama lain. "Mengapa Nyonya Muda Pertama bisa tenggelam di tempat terpencil seperti itu?" "Sebenarnya apa yang ingin dilakukan Nyonya dengan pergi ke sana?" "Nyonya belum lama di kediaman ini, bagaimana mungkin dia tahu cara ke sana!" "Kalau begitu, apakah ada yang sengaja membawanya ke sana? Untuk apa?" Berbagai pertanyaan dan dugaan mulai bermunculan. Nyonya Muda ini baru saja menikah ke dalam keluarga namun sebelum menjalani malam pernikahannya, Tuan Muda Pertama segera menerima Dekrit Kekaisaran yang memerintahkan agar ia secepatnya berangkat ke Perbatasan Selatan. Tuan Muda Shen tanpa penundaan segera berangkat ke Perbatasan Selatan malam itu juga. Meninggalkan istri baru yang bahkan belum sempat ia lihat. Tak sedikit yang mengasihani nasib sang Nyonya baru. Seorang pengasuh tua datang dari luar, segera masuk ke dalam untuk menanyakan keadaan Nyonya Muda. Itu adalah Chen Mama, orang dari pihak Nyonya Besar. Sepertinya Nyonya Besar telah diberitahu mengenai kecelakaan Nyonya Muda Pertama dan segera mengirim orang kepercayaannya untuk datang melihat. "Tabib Mo, bagaimana keadaan Nyonya Muda?" Pria tua berkumis putih itu menggelengkan kepalanya, "Sulit untuk memastikan. Kita akan lihat lagi setelah Nyonya berhasil melewati malam ini." Setelah itu Tabib Mo segera menginstruksikan pemberian berkala ramuan obat yang diresepkannya. Merasa tidak ada lagi yang bisa dilakukan, pria tua itu mengundurkan diri. Chen Mama mengantarnya keluar. Selepas mengantar Tabib Mo, sang pengasuh pergi ke halaman Nyonya Besar tinggal. Begitu masuk ke dalam ruangan, ia membungkuk dengan hormat, segera mendekat, sedikit menunduk untuk berbicara dengan pelan yang hanya bisa didengar oleh mereka berdua. Kilatan senyum sinis terlihat di wajah Nyonya Besar. Wanita itu hanya putri seorang pedagang rendahan, siapa yang akan menuntut keluarga bangsawan mereka jika ia tiba-tiba meninggal? Nyawanya sama sekali bukan apa-apa. Kalau saja ayah mertuanya tidak begitu saja menjodohkan wanita itu dengan putra sulungnya, bagaimana mungkin ia akan mati semuda ini? Sang Nyonya melambaikan tangannya dan Chen Mama segera keluar dengan patuh. Berada di luar ia menginstruksikan seorang pelayan untuk terus memantau halaman tempat Nyonya Muda Pertama tinggal. Siapa yang akan mengira bahwa Nyonya Muda itu hanya bertahan hidup selama sebulan setelah tiba di kediaman ini. Takdirnya sungguh tragis.Jadi di sore hari, ketika Bing’er dibawa bermain ke halaman neneknya, Li Yuan meminta izin untuk berjalan-jalan keluar.Beberapa hari lagi keluarga kecilnya akan kembali ke perbatasan demi mengikuti sang suami yang harus kembali bertugas. Dia hanya punya waktu ini untuk menjalankan rencananya.Li Yuan keluar dari kediaman Marquis dengan kereta. Karena tidak terbiasa dengan pelayan wanita, kecuali jika ia sedang bersama putranya, maka ia menolak ketika salah seorang pelayannya ingin ikut.Kereta kemudian membawanya ke sebuah restoran di distrik timur.Begitu masuk ke dalam, bukannya memesan sebuah ruang pribadi maupun duduk dan memesan hidangan, Li Yuan terus berjalan hingga ke halaman belakang restoran.Melihat tidak ada siapa-siapa di sana, ia mengeluarkan cadar gelap yang dibawa dan mengenakannya. Setelah itu ia dengan mudah melompati tembok.Beberapa waktu kemudian…“Hei, yang di sana, berhenti!”Empat orang pelayan laki-laki dari kediaman Shen berlari di jalanan, melewati kerumuna
Ketika mengingat kejadian setahun yang lalu, Li Yuan kembali kesal karena merasa tertipu.Siapa yang menyangka, setelah ia mengatakan kondisi tubuhnya kepada Wu Zhaojun, tiga bulan kemudian ia mendapati dirinya telah mengandung.Dua orang itu terkejut setengah mati. Namun tidak lama setelah kejutan itu, Tuan Kedua Wu segera dipenuhi kebahagiaan, merasa keberuntungan sedang berpihak padanya.Jadi dengan keadaan itu, ia membujuk Li Yuan untuk menikah. Mengatakan padanya bahwa dia harus memikirkan status anak mereka di masa depan. Li Yuan yang memang tidak lagi keberatan, hanya mengangguk menyetujui usulannya. Setelah mengirim surat kepada ibunya di ibu kota, Tuan Kedua Wu mengajak Li Yuan kembali ke rumah keluarga kelahirannya di Nanling. Itu hanya membutuhkan satu hari berkendara dari desa.Tidak lama kemudian mereka telah bertukar surat pertunangan. Hanya menunggu kembali ke ibu kota agar upacara pernikahan secara resmi bisa diadakan.Jadi ketika masa cuti sang jenderal hampir berakh
Ibu KotaTidak biasanya Marquis Wu, seorang pria baruh baya yang santai berjalan mondar-mandir di pelataran depan. Wajahnya terlihat amat serius, alisnya yang tebal sejak tadi terus berkerut.“Marquis, Tuan Muda Kedua telah tiba!” Seorang pelayan pria yang mengenakan ikat kepala abu-abu bergegas masuk dari luar gerbang. Setelah melaporkan hal itu, ia kemudian berdiri sedikit di belakang sang majikan.Di luar gerbang yang terbuka, moncong kuda ferghana kemerahan segera muncul. Sang penunggang sedikit menarik kekangnya, lalu turun dengan ringan dari pelana. Setelah menyerahkan Zhuifeng kepada seorang penjaga di depan, dengan langkah yang lebar ia masuk ke dalam gerbang.Melihat sang ayah berdiri di halaman depan, ia mempercepat langkahnya menghampirinya. Wajahnya dipenuhi kegembiraan.Ia menyapa dengan senyum lebar, “Ayah.”Namun begitu ia kembali mengangkat kepalanya, sebuah tongkat kayu telah melayang ke tubuh.Sang marquis tanpa ampun memukulinya, alih-alih menyambutnya riang. Oran
Alih-alih menjawabnya, air mata itu mengalir makin deras. Wu Zhaojun panik. Ia bangkit lalu duduk di sampingnya. Merendahkan suaranya, ia mencoba membujuk, “Kau bisa ceritakan padaku setelah tenang.”Hatinya terasa tidak nyaman. Ketika ia akan menariknya ke dalam pelukannya, ia berhenti sejenak, menurunkan kepalanya, bertanya ragu-ragu, “A-Yuan, apakah kau kesal karena aku masih di sini?”Saat berkata begini, wanita itu kembali mencengkram kerahnya. Matanya yang sembab menatapnya lama sebelum menggeleng, kemudian bergumam, “Jangan pergi.”Wu Zhaojun melihat ke dalam sorot matanya yang penuh tekad. Menunggu beberapa saat, memastikan dia tidak mengubah ucapannya barusan. Kedua tangannya kembali terulur, menyeka basah di wajahnya.Meski hatinya tidak nyaman melihat semua air mata itu, ia tidak bisa menahan senyum lebar yang perlahan merekah di wajahnya. Tanpa ragu ia menariknya untuk memeluknya, mengangguk di atas kepalanya, “Mmh, aku tidak akan pergi.”Ia menepuk pelan punggungnya, “Ja
Dua sosok itu bertukar jurus tanpa menimbulkan keributan besar. Lebih tepatnya, sosok jangkung itu terus menangkis dan mengelak sebisa mungkin, sementara sosok pendek itu tanpa ampun memukulinya.Di tengah-tengah pertukaran jurus, Tuan Kedua Wu menangkap bayangan orang-orang yang perlahan mendekat
“Pergilah, pergi… Tidak ada lagi lilin sisa yang bisa kau kumpulkan di belakang,” ujar pemilik kedai minum yang terletak di deretan kanan jalan. Salah satu dari tiga kedai yang masih beroperasi di deretan panjang itu.Anak laki-laki berpakaian compang camping yang baru saja diusir masih tinggal di
Pukulan dua puluh kali telah selesai. Wanita itu ditarik dari atas bangku, dihempaskan ke tanah. Para penjaga pasar berbicara singkat dengan pemilik toko sebelum membawa tongkat pukul mereka dan pergi dari sana.Orang-orang yang berkerumun sedikit demi sedikit mulai bubar setelah menyaksikan keribu
Tak terima diremehkan oleh seorang pemuda, pria tertua di antara mereka mengabaikan tatapan tajam kekasih wanita itu. Ia menggebrak meja keras, lalu menunjuk tajam, “Kau—apa yang membuatmu begitu angkuh hingga berani menyerang orang lain?” bentaknya. Temannya melihat dia memar






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore