Lampu minyak di kamar penginapan kecil itu menyala rendah, cukup untuk menerangi meja kayu yang permukaannya penuh bekas pisau. Di luar jendela, roda gerobak malam melewati jalan batu wilayah barat Benua Longhai, membawa suara kasar yang sebentar muncul lalu tenggelam bersama angin.Rong Tian duduk tanpa jubah kebesaran, hanya pakaian putih sederhana yang ujung lengannya sudah menyimpan debu perjalanan. Di hadapannya ada lima lembar kertas berbeda mutu, dua batang kuas, satu batu tinta, tiga segel kecil tanpa lambang keluarga, dan sebuah keranjang obat yang mengeluarkan bau akar pahit.Ia menulis surat pertama dengan tekanan kuas kasar. Kalimatnya dibuat tajam, terlalu berani, dan cukup bodoh untuk membuat mata-mata mana pun merasa telah menemukan jalan leher musuh.Surat kedua memakai segel yang sengaja ditekan tidak sempurna. Di salah satu sudut, ia membiarkan bercak tinta kecil seperti kesalahan orang gugup yang menulis terlalu cepat sebelum dikejar.Surat ketiga lebih halus. Di da
Read more