Bab 83: Jejak yang TertinggalBi Siti berdiri mematung di ambang pintu ruang makan, meremas ujung celemeknya dengan cemas. Percakapannya dengan Alma di dapur tadi meninggalkan rasa pahit di lidah. Dia tahu tabiat anaknya, semakin dilarang, malah semakin menjadi-jadi. "Mau sampai kapan, Nak? Mau sampai kapan kamu begini? Kita ini orang kecil. Jangan berharap terlalu tinggi. Yang penting gaji kita dibayar, sudah itu saja.""Kerja saja yang benar. Biar kita tidak kehilangan pekerjaan. Nggak usah mengharapkan macam-macam, mereka itu orang kaya dan kita hanya sebagai orang yang bekerja pada mereka." Perempuan paruh baya itu bergumam.Dengan langkah ragu, ia berjalan mendekati meja makan di mana Ratih dan Sarita masih berbincang santai."Nyonya... Nyonya Sarita," panggil Bi Siti pelan, kepalanya menunduk dalam.Ratih menoleh, wajahnya melembut. "Iya, Bi? Ada apa?""Saya... saya ingin memohon maaf atas nama Alma," suara Bi Siti bergetar. "Anak itu memang kurang sopan. Kadang dia lupa tempat
Last Updated : 2026-02-01 Read more