MasukDi mata suamiku, aku tak lebih sebagai asisten pribadi dan teman tidur, sementara cintanya habis untuk Inara, perempuan yang memilih pergi ke luar negeri demi melanjutkan pendidikannya. Bahkan konyolnya, Inara sampai menganggapku sebagai penjaga Bima-nya, yang ketika dia sudah kembali ke negeri ini, aku dengan mudah dia singkirkan. Aku mencintai suamiku dengan tulus, terlepas dari segala kepentingan yang membuatku akhirnya bisa berjodoh dengan Bima. Namun, bagi Bima dan Inara, pernikahan hanyalah pesan di atas kertas yang bisa dirobek kapan saja. Mereka bahkan bisa bersama tanpa selembar surat nikah sekalipun, tidak peduli padaku yang mati-matian mempertahankan pernikahan ini bahkan aku sengaja menggunakan kehamilan ini sebagai tameng agar Bima tetap berada di sampingku. "Gugurkan janin itu, dan terimalah kompensasi perceraian kita! Atau, jika kamu kasih nekat, silahkan membesarkan anak itu seorang diri dan jangan pernah minta sokongan dariku sedikitpun di kemudian hari! Silahkan pergi tanpa membawa apapun, seperti halnya kamu datang pertama kali ke rumah ini!"
Lihat lebih banyakBab 1
Dia benar-benar datang! Bahkan Bima sendiri yang mengajakku untuk mendampinginya menjemput Inara di bandara. Perempuan bertubuh tinggi semampai itu masih tetap cantik seperti dua tahun yang lalu, saat ia pergi tepat di hari kelima setelah pernikahan kami. Perempuan itu melambai ke arah kami, bahkan Bima yang terlihat begitu antusias tanpa sadar menggerakkan kakinya lebih cepat menyongsong Inara, tanpa peduli aku yang kerepotan harus mengimbangi langkah-langkah lebarnya. Dan... mereka berpelukan tepat di hadapanku. Tampaknya mereka lupa menyadari jika adegan itu dipertontonkan di hadapan seorang istri. Ah, ya, Bima tidak pernah menganggapku sebagai istri, tetapi mungkin hanya teman tidur atau pembantu yang mengurus keperluannya dari A sampai Z. Pernikahan kami terasa berat sebelah. Di samping melalui perjodohan dan perjanjian antara dua perusahaan, hanya aku yang mencintai Bima, sementara Bima, cintanya habis untuk Inara yang sayangnya menolak untuk dinikahi lantaran ingin melanjutkan pendidikannya lebih dulu di negara impiannya. "Terima kasih sudah menjaga Bima selama ini, Ratih." Kalimat yang sangat manis meluncur dari mulut Inara dan sekaligus menghujamku hingga ke dasar hati. Apa dia tidak tahu, jika kedatangannya kali ini sudah menghancurkan biduk rumah tangga kami yang sebenarnya sudah rapuh dari dalam? Ah, ya, lagi-lagi aku dihempaskan oleh kenyataan, jika memang semuanya sudah perjanjian. Bima menikahiku hanya karena ingin menyenangkan neneknya yang menganggapku seperti seorang cucu. Ada campur tangan Oma Trisna, satu-satunya orang yang paling berpengaruh di dalam keluarga besar Chandrawinata di balik pernikahan kami. Keluarga Chandrawinata memiliki hubungan yang sangat dekat dengan keluarga Pramudita. Aku, Ratih Anjarwati Pramudita menikah dengan Adhyaksa Bima Sakti Candrawinata, karena faktor kedekatan itu dan hubungan bisnis yang sudah terjalin sejak lama. Aku pun mengenal Bima sejak kecil dan tahu bagaimana hubungan Bima dengan Inara. Inara, gadis cantik yang terobsesi untuk melanjutkan pendidikannya di luar negeri, karena dia memang gadis yang cerdas, dan Inara mengerti jika bea siswa itu tidak akan pernah datang dua kali. "Aku menjaganya untuk diriku sendiri, tidak ada kaitannya denganmu, Inara." Aku tersenyum tipis, lalu memegang tangan Bima yang membuat pria itu seketika menoleh, mungkin lantaran merasa aneh dengan ucapanku. "Kamu tidak mengucapkan selamat atas kedatangan Inara, Ratih?" "Dia sudah selesai dengan pendidikannya. Aku tahu Inara gadis yang cerdas. Jadi untuk apa mengucapkan selamat? Dia telah tiba di hadapan kita dengan selamat," ucapku diplomatis. Aku membiarkan Bima dan Inara berjalan bergandengan, mengabaikanku yang berdiri di belakang, mirip seperti pembantu saja, apalagi pakaian yang kukenakan pun tidaklah sama seperti Inara. Aku tidak pernah bisa merubah cara berpakaian, yang mungkin oleh Bima terlihat kuno, karena mengenakan gamis dengan jilbab yang menjuntai menutup dadaku. Dan lagi-lagi Bima yang menyetir sendiri meminta Inara untuk duduk di sampingnya, alih-alih memintaku untuk duduk di depan seperti biasanya. Padahal aku adalah sang nyonya, aku istrinya. "Apa waktu dua tahun ini tidak bisa merubah semuanya, Mas? Cerita kamu dan Inara itu sebenarnya sudah selesai, jadi tidak seharusnya diperpanjang sampai ada jilid dua segala." Aku menatap interaksi sepasang manusia itu dengan tatapan miris, ah kurang tepat sepertinya. Lebih miris dengan nasibku sendiri. Aku merutuki diriku sendiri yang mau saja menikah dengan Bima, karena aku berpikir mungkin Bima akan cepat melupakan Inara yang jauh di sana. Bukankah kata orang, LDR bisa dapat dengan mudah merubah perasaan pelakunya? "Apakah aku dengan mudahnya bisa kalah?" Aku menggigit bibirku, lalu menyandarkan punggungku di sandaran jok yang empuk. Akhirnya kami tiba di sebuah restoran. Bima sengaja memilih VIP room, karena pasti ia ingin lebih leluasa bercengkrama. Aku pun turut menyertai mereka di ruangan itu, meski rasanya seperti obat nyamuk saja. Kehadiranku seperti tidak ada artinya. Tak ada penghargaan sedikitpun atas posisiku sebagai istrinya Bima, bahkan Inara hanya melempar senyum kepadaku, meski entah kenapa senyumnya seperti terasa sangat misterius "Happy anniversary yang ke-2, Ratih. Apa kamu ingat hari ini tanggal berapa?" ucap Bima tiba-tiba. Dia mengalihkan tatapanku yang semula tertuju pada jendela ruangan ini, jendela yang terbuat dari kaca. Aku sengaja membuka gorden, sehingga pemandangan luar terlihat indah apalagi VIP room ini terletak di lantai dua restoran. "Tentu saja. Aku bahkan sudah menyiapkan kue di rumah, tetapi aku lupa menyerahkannya kepadamu karena kita buru-buru pergi menjemput Inara." Seutas harap muncul begitu saja saat menyadari jika ternyata Bima mengingat tanggal pernikahan kami. "Sebenarnya itu tidak perlu, karena Oma sudah menyiapkan semuanya untuk kita malam ini. Tapi sebelumnya, ada yang ingin ku sampaikan kepadamu, Ratih. Dan aku harap kamu bisa mengerti...." "Ya, katakan saja. Apa kamu ingin konsep acaranya di rubah sedikit, tidak mengikuti kemauan Oma seratus persen?" Suaraku bergetar. Aku bahkan mengambil ponsel dari dalam tasku, siap-siap untuk menghubungi Oma jika ternyata nanti acaranya akan berubah sedikit. "Iya bener. Mengingat Inara yang sudah kembali, maka melalui acara itu, aku ingin mengumumkan perceraian kita, sekaligus memperkenalkan Inara sebagai tunanganku...." "Tunangan?! Secepat itu?" Tubuhku tiba-tiba saja lemas. Aku tahu, Bima akan menyingkirkanku setelah Inara kembali, tapi aku tidak menyangka jika prosesnya akan secepat ini, di saat aku belum memiliki nafas dan strategi untuk mempertahankan rumah tangga kami. Seketika mataku berkunang-kunang, tetapi tanganku tetap mencengkram erat ponsel secepat itu. "Kamu mau tunggu berapa lama, Ratih? Seharusnya kamu sadar. Hari ini aku sudah datang dan kamu harus menyerahkan Bima kepadaku. Kami saling mencintai dan seharusnya kami menikah sejak dulu. Seharusnya yang menikah dua tahun yang lalu itu aku, tapi berhubung beasiswa itu tidak datang dua kali, aku lebih memilih meminta kepada Bima untuk menikahimu karena kebetulan Oma Trisna memang menyukaimu. Masa gitu saja kamu nggak paham?" Lagi-lagi tutur katanya lemah lembut dan penuh percaya diri. Namun ucapannya begitu menohok, bahkan membuatku seperti sesak nafas. "Cerita kamu dan Bima sudah selesai. Yang ada sekarang adalah ceritaku dengan Mas Bima. Kamu jangan mempermainkan yang namanya pernikahan, Inara. Bagaimanapun juga, aku dan Mas Bima sudah menikah dan kamu hanya orang lain baginya." "Siapa bilang?! Apa kamu terlalu percaya diri jika semuanya akan berakhir ketika kita menikah?! Apakah kamu lupa dengan ucapanku waktu itu? Apa kamu terlalu bodoh, sehingga mengira jika kami sudah kehilangan kontak selama ini?!" Suara laki-laki itu berapi-api. Namun seolah menemukan kekuatan, aku malah mengangkat wajah. "Apa aku perlu adukan semua ini kepada Oma, biar dia tahu jika cucunya yang tampan dan selalu ia banggakan ini begitu mudah mempermainkan sebuah pernikahan?" ancamku tanpa pikir panjang. "Dan kamu tahu, Mas, perceraian di kalangan keluarga kita itu sangat dibenci, karena suami istri yang bercerai itu seperti seorang pecundang, mereka itu orang-orang yang telah gagal mengatasi permasalahan dalam rumah tangga. Kamu ingat itu, Mas?!"Bab 60: Suara Adzan dan Sumpah Sang PenguasaSuara tangisan kecil pecah di ruang operasi yang dingin. Melengking, namun terdengar lemah, seolah bayi itu pun merasakan perjuangan hidup dan mati ibunya. Dokter Harto segera menyerahkan bayi merah yang masih berlumuran darah itu kepada tim dokter spesialis anak.Melvin, dengan dada yang bergemuruh, mengikuti langkah suster ke ruang resusitasi bayi yang berada tepat di sebelah ruang operasi. Di sana, bayi perempuan yang mungil itu diletakkan di bawah pemanas. Melvin mendekat, matanya berkaca-kaca melihat garis wajah bayi itu—sebuah perpaduan antara ketegasan Bima dan kelembutan Ratih.Pertahanan Melvin runtuh seketika. Anak ini adalah pengikat, bagaimanapun situasi hubungan kedua orang tuanya. Serumit apapun hubungan Bima dan Ratih, nyatanya mereka masih suami istri.Dia cuma orang luar yang mencoba mencari celah untuk masuk, sama seperti kakaknya. Tapi gagal. Cinta boleh cinta, tapi nyatanya takdir tidak berpihak kepadanya. Bagaimana bis
Bab 59: Taruhan Nyawa di Meja OperasiDi ruang rapat lantai 20 gedung Chandrawinata Tower, suasana yang semula tenang mendadak pecah. Ponsel pribadi Bima yang tergeletak di atas meja kayu jati itu bergetar hebat. Nama "Vina" menyala di layar. Bima mengernyit, ia tahu Vina tidak akan meneleponnya di jam kerja kecuali terjadi kiamat kecil di rumahnya."Maaf, interupsi sebentar," ujar Bima dingin kepada para kolega bisnisnya. Dia berbalik menuju meja kayu jati di samping tempatnya berdiri, tempat asisten pribadinya sedang duduk sembari memantau jalannya pertemuan.Dia meraih benda pipih itu penuh ketergesaan. "Ada apa, Vina? Aku sedang sibuk!""Mas Bima! Ratih... Ratih pendarahan hebat! Dia jatuh, Mas! Sekarang kami sudah sampai di Rumah Sakit Medika!" Suara Vina terdengar pecah di antara isak tangisnya.Jantung Bima seakan berhenti berdetak sesaat. Wajahnya yang semula kaku kini memucat. "Bagaimana bisa?! Saya sudah bayar orang untuk menjaganya!""Inara datang ke sini dan membuat kerib
Bab 58: Tragedi di Ambang PintuTaksi yang membawa Inara berhenti tepat di depan gerbang tinggi perumahan elit The Royal Residence. Begitu turun, Inara langsung melangkah menuju Blok A Nomor 1. Sebuah rumah megah dengan arsitektur modern minimalis berdiri angkuh di sana.Perasaannya campur aduk. Geram, sakit hati, sekaligus iri. Seharusnya dia lah yang ada di rumah itu, bukan Ratih. Inara tidak habis pikir, kenapa Bima akhirnya berubah pikiran, padahal dulu dia tak menerima kehamilan Ratih.Itu yang membuat Inara merasa percaya diri. Apa mungkin Bima berubah karena provokasi dari keluarganya?Ah, tidak mungkin!Ratih tidak pernah di anggap penting oleh keluarga Chandrawinata, kecuali Oma Trisna. Hanya perempuan lanjut usia itu yang menyayangi Ratih. Dan kini Oma Trisna sudah meninggal dunia. Harusnya Ratih juga di depak dari keluarga itu, bukannya malah di anggap ratu.Atau jangan-jangan Bima sudah sudah mulai jatuh cinta dengan Ratih?!Itu kemungkinan paling pahit, tapi boleh jadi
Bab 57: Ambisi dan Benang Kusut"Dari mana Kakak tahu soal Ratih?" Melvin tersentak, tangannya gemetar hingga isi kaleng minumannya nyaris tumpah ke sofa baru yang mahal itu. Matanya menatap Inara dengan penuh selidik dan kecurigaan yang mendalam.Inara tertawa sumbang, tawa yang menyimpan kepahitan sekaligus kebencian yang mendarah daging. "Tahu dari mana?" Sepasang matanya menyoroti sang adik, sembari terus melanjutkan ucapannya. "Melvin, wanita itu adalah alasan kenapa hidupku hancur! Dia istri Adhyaksa Bima Sakti Chandrawinata, pria yang seharusnya menikahiku kalau saja dia tidak mendadak berubah pikiran demi bayi di rahim perempuan itu!"Kali ini Melvin benar-benar melepaskan minuman kaleng dari genggamannya. Dia menaruhnya di meja dekat sofa, lalu memutar tubuhnya, menghadap pada sang kakak"Jadi... Bima itu pria yang selama ini kamu bangga-banggakan? Pria yang kamu bilang akan menjadikanku adik ipar konglomerat?!" Nafas Melvin sedikit terengah. Dia sangat terkejut. Namun malah












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan