Arya mengepalkan tangannya. Ia melirik Freya, berharap melihat rasa cemburu di mata yang jernih itu, tapi yang ia lihat hanyalah kekosongan."Zea, pergilah. Aku sedang ada urusan bisnis," desis Arya."Urusan bisnis atau sedang mencoba membodohi wanita lain lagi?" Zea terkekeh, suaranya mengandung racun. Ia menatap Freya dengan tatapan pura-pura kasihan. "Hati-hati, Freya. Arya ini ahli dalam mengarang cerita. Dia akan melakukan apa saja untuk mendapatkan apa yang dia mau, lalu membuangnya saat sudah bosan. Aku tahu betul bagaimana rasanya 'dijebak' oleh narasinya."Kata-kata Zea bagaikan garam yang ditaburkan di atas luka Freya yang masih basah. Freya menatap Arya, lalu beralih ke Zea."Terima kasih atas peringatannya, Mbak Zea," ujar Freya, suaranya stabil namun dingin. "Sepertinya kalian punya banyak hal untuk dibicarakan. Masa lalu memang selalu punya cara untuk datang kembali, Kan?""Fre, jangan dengarkan dia—" Arya mencoba melangkah maju."Selamat s
Last Updated : 2026-01-09 Read more