Malam itu, setelah kembali dari pertemuan di kafe, Suxuan hampir tidak bisa tidur. Ia berbaring di ranjang, lampu kamar temaram, tirai tipis berayun pelan diterpa angin malam. Pikiran tentang ucapan Zuxiao terus menghantui."Kamu harus memilih. Wuhan… atau aku."Kalimat itu berulang-ulang bergema di kepalanya, membuatnya sesak. Bukan hanya karena isinya, tapi karena tatapan Zuxiao saat mengatakannya. Tatapan tajam, penuh penguasaan, seolah ia bukan sedang meminta, melainkan menuntut.Suxuan menggigit bibirnya. Ia mencoba memejamkan mata, namun suara telepon berdering tiba-tiba memecah kesunyian. Jantungnya melompat ketika melihat nama yang tertera di layar: Zuxiao.Dengan tangan gemetar, ia mengangkat. “Halo?”Suara berat pria itu terdengar, tak memberi kesempatan untuk basa-basi.“Besok pagi. Datang ke perusahaanku. Aku ingin jawabanmu!”Suxuan terdiam. Hanya deru napasnya yang terdengar.“Aku tidak mau mendengar alasan. Datang, Suxuan. Jangan buat aku menjemputmu sendiri,” u
Read more