Rasman, yang tubuhnya masih didera lemas dan wajah pucat, hanya bisa bersandar pasrah pada jok mobil.Dia tidak melarang ketika mendengar bunyi klik logam saat Raj mencabut senjata dari balik jaketnya.Rasman sendiri perlahan meraba pistol di pinggangnya, bersiaga, meski dia memilih untuk tetap tidak bergerak. Dalam kondisi sekritis ini, gegabah sama saja dengan bunuh diri.“Jangan memancing tembakan. Kita tunggu sampai tahu apa mau mereka,” bisik Rasman, suaranya parau namun penuh penekanan, agar Raj jangan bertindak berlebihan.Raj mengangguk cepat. Keringat dingin mulai membasahi pelipis pemuda itu. Jantungnya bertalu hebat, seolah ingin melompat keluar dari dada.Menjadi pengawal pribadi dalam situasi normal saja sudah membuatnya tegang, apalagi sekarang—di saat Rasman, mentor sekaligus benteng utamanya, sedang tidak berdaya karena sakit.Sementara itu, di kursi depan, si sopir mobil sewaan mereka masih asyik bersenandung.Lelaki paruh baya itu sama sekali tidak menyadari kalau dua
Última atualização : 2026-09-28 Ler mais