LOGINBelum sempat Om Bram membalas ucapan lancang itu, terdengar ketukan heels yang nyaring di atas lantai marmer. Sesosok wanita muda berparas cantik dan bertubuh sintal tiba-tiba muncul dari balik pilar. Usianya terlihat jauh lebih muda daripada Tante Lin, namun pakaiannya tidak kalah glamor. Lanjut baca novel: SATU MILIAR DEMI KESENANGAN MAKSIMAL
Mendengar nama 'Kampung Lok Latat' disebut, atmosfer di dalam warung kayu itu mendadak drop menjadi sunyi senyap sejenak. Pemilik warung menghentikan tangannya yang sedang mengelap meja.“Waduh... masih jauh kampung itu. Sekitar 50 kiloan lagi dari sini. Mana jalan ke sana rusak parah, apalagi sekarang sudah mulai masuk musim hujan begini, jalurnya bisa jadi kubangan lumpur hidup,” salah satu warga paruh baya menyela dengan logat Dayak Kalimantan Tengah yang kental dan berat.“Hati-hati, Om... Kampung di sana itu mistisnya masih sangat kuat. Orang luar jarang ada yang berani masuk ke sana kalau tidak ada urusan nyawa,” sambung warga satunya lagi dengan suara setengah berbisik, matanya melirik tajam ke arah luar warung seolah takut ada yang menguping.Mendengar penuturan itu, Rasman dan Irman sesaat saling pandang. Bulu kuduk mereka berdesir tipis.Isu mistis yang kuat di Kampung Lok Latat seolah menegaskan bahwa tempat bersemayamnya Mak Ketoh dan sisa-sisa terkutuk dari sejarah minyak
“Makasih, Bang. Kamu makin sakti aja,” canda Irman terkekeh, mencoba mencairkan ketegangan batinnya setelah berhadapan langsung dengan manifestasi gaib silsilah Hantu Siti.“Teror Iblis Pirunduk memang akan selalu membayangi kita di sepanjang jalur ini, Man. Makanya kamu perlu ekstra hati-hati dan tetap fokus,” sahut Rasman kalem. Matanya menatap lurus ke depan.Kali ini, roda-roda tangguh SUV mereka sudah jauh menempuh jalur pedesaan yang bervariasi. Kadang mereka melintasi jalanan tanah bergelombang yang gersang, kadang berganti aspal mulus saat memasuki area pemukiman warga.Mereka kini sudah bergerak jauh meninggalkan pusat Kota Kandangan, membelah hamparan hutan tropis Kalimantan yang rimbun dan sesekali melewati perkampungan terpencil di pinggiran kabupaten.Sembari menatap lurus ke jalanan yang mulai menyempit, Irman kembali membuka obrolan sensitif yang sejak semalam mengganjal di otaknya.“Bang, aku sebenarnya bingung. Bagaimana kelak tanggapan ketiga Mami kita di Jakarta kal
“Iblis itu rupanya mulai menyadari kalau kamu dan aku akan mengakhiri kutukan ini. Agaknya dia akan terus mengganggu perjalanan kita besok,” kata Rasman kalem, mencoba menganalisis situasi dengan kepala dingin.“Alemoonggg, hantunya nekat muncul coii! Serem pakaiii bangeettt!” sahut Irman spontan dengan gaya bahasa gaulnya yang kocak.Mendengar celetukan Irman, Kiah dan Nenek Ibar yang tadinya tegang setengah mati langsung tertawa bersamaan.Mereka baru tahu kalau adik Rasman yang berwajah tengil ini ternyata memang lucu dan sangat menghibur di tengah situasi mencekam sekalipun.Sembari mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan yang didominasi kayu tua, Irman kembali berceplos spontan tanpa beban, “Ih Bang, kok rumah bini kamu begini? Rubah dong lebih bagus, masa dibiarin sederhana begini?”Deg!Mendengar ucapan Irman, Kiah dan Nenek Ibar seketika kaget dan langsung saling pandang.Mereka berdua mengerutkan dahi, sebab sampai detik ini, baik Kiah maupun Nenek Ibar sama sekali tidak tah
“Jadi... kamu sekarang jadi agen?” Rasman menatap adiknya yang tersenyum kecil sembari melirik ke arah Kiah.Malam makin larut, dan Kiah yang sedang hamil muda tampak begitu manja. Gadis desa itu tidur berbantalkan paha kokoh Rasman, memeluk pinggang suaminya dengan erat seolah takut kehilangan.‘Wajar aja sih, masih muda, mana lagi ngidam begitu, pasti manja banget bawaannya,’ batin Irman menahan tawa, merasa maklum melihat polah kakak ipar barunya ini.Irman sendiri belum tahu, bagaimana tanggapan orang tua mereka, kalau tahu Rasman diam-diam memiliki istri dan sudah ngidam pula.“Iya, Bang. Makanya aku cuma tiga tahunan aja menjalani pendidikan akselerasi, tapi sekarang pangkatku tetap Inspektur Dua kok,” sahut Irman santai.Ia menyugar rambut cepaknya yang rapi dan menambahkan kalau mulai saat ini, dia berniat memanjangkan rambutnya agar tidak terlalu kentara sebagai aparat.Irman yang hobby nyanyi ini memang sejak dulu pingin gondrong, dan kini niat itu kesampaian.“Irman, Abang
Yang namanya enak...pasti lupa jalan pulang, begitu juga Rasman. Setiap hari dia dan Kiah seolah enggan pisah, maunya bersama mulu siang malam.Nenek Ibar sampai ketawa dan sering menyindir, kalau mereka ini bak prangko ajee, lengket terusssss...Tak terasa berbulan-bulan Rasman tinggal di sini dan, suatu hari...Huikk....huikk...huikk...!Rasman yang lagi enak-enak molor terbangun mendengar suara Kiah muntah-muntah di pagi yang dingin ini.“Sayang, kamu kenapa?” tanya Rasman sambil memegang bahu Kiah yang kini lemas, setelah isi perutnya keluar semua.“Nggak tahu bang, aku pingin muntah mulu?” sahut Kiah dan kini tubuhnya di gendong penuh kasang oleh suaminya.Nenek Ibar yang sedang bikin kopi senyum lebar. “Rasman, istrimu lagi ngidam itu?” sahut si nenek terkekeh, sambil geleng-geleng melihat begitu sayangnya Rasman pada bininya ini.“Hah ngidam...jadi?” mata Rasman kontan membulat, nggak nyangka istrinya hari ini hamil.“Iya, kamu bentar lagi jadi Abah dan si Kiah jadi Mama,” sahut
Setelah rahasia besar itu tumpah, ketegangan di wajah Nenek Ibar mendadak mengendur.Ia menatap wajah Kiah dan Rasman bergantian dengan senyuman tua yang hangat, seolah ingin mengusir kembali hawa mencekam yang sempat meracuni ruangan tengah tersebut.“Sekarang, masuklah kembali ke kamar dan nikmatilah bulan madu kalian. Jangan kaget, Kiah saat ini kembali bak seorang perawan. Pelan-pelan ya pelaksanaannya... Sebab, setelah kalian bergaul sebagai suami istri nanti, jiwa Kiah akan aman terjaga.""Itu karena kamu, Rasman, wadah batinmu sudah diisi penuh oleh Kakek Supardi. Nah, setelah kalian bergaul malam ini, otomatis aura batinmu akan membentengi jiwa Kiah, sehingga dia aman sekarang dan tidak akan diganggu lagi oleh iblis itu... sampai kelak dia melahirkan,” kata si nenek panjang lebar memberikan wejangan mistisnya.Mendengar penuturan panjang lebar dari Nenek Ibar, jantung Rasman kembali berdebar-debar asoi....akaiii.Ketakutan akan ancaman iblis cermin tadi mendadak menguap, digant







