Cahaya matahari pagi terasa berbeda hari ini. Lebih hangat. Lebih nyata.Aku menggeliat pelan di balik selimut sutra tebal, merasakan setiap otot tubuhku yang pegal dan nyeri—sisa-sisa pertempuran panas semalam yang menghancurkan semua batasan di antara kami.Sebuah tangan kekar melingkar di pinggangku, menahanku agar tidak beranjak.“Mau ke mana, Honey?”Suara itu serak, rendah, dan berat, berbisik tepat di telingaku. Napas hangatnya menggelitik tengkukku, mengirimkan getaran listrik ke tulang punggung.Aku menoleh. Ethan sedang menatapku. Rambut hitamnya berantakan, matanya masih sayu khas bangun tidur, tapi sorot posesif itu sudah menyala terang. Tidak ada lagi dinginnya es di sana. Yang ada hanya api.“Ke kamar mandi,” jawabku pelan, wajahku memanas mengingat apa yang kami lakukan di sana—dan di lantai, dan di meja rias—semalam.Ethan tersenyum miring. Ia menarikku kembali jatuh ke pelukannya, membenamkan wajahnya di ceruk leherku, menghirup aromaku dalam-dalam.“Nanti sa
Terakhir Diperbarui : 2025-12-24 Baca selengkapnya