LOGIN“Dia orang kaya, Ayu. Dia bisa melunasi semuanya. Kamu hanya perlu menikah dengannya, dan hidup kita selamat.” *** Ayu chintya maheswari adalah wanita cantik yang hampir di jual oleh ibunya sendiri karena hutang yang ditinggalkan ayahnya setelah menghilang secara misterius. Ia pikir cerita hidupnya akan segera berakhir, tapi takdir berkata lain. Ia diselamatkan oleh seorang mafia yang malah menculiknya dan memberikan nya dua pilihan. “Enam bulan. Belajarlah mencintaiku, atau aku sendiri yang akan mengantarmu pulang ke nerakamu yang lama.” *** Kini, Chintya terjebak di antara dua pilihan. Lari dan kembali ke neraka lamanya atau mencintai orang yang pernah menculiknya?
View MoreTiga miliar rupiah.
Angka itu berputar di kepalaku, lebih berisik daripada debur ombak Pantai Melasti yang menghantam karang malam ini. Tiga miliar adalah harga yang dipasang oleh bank untuk menyita rumah warisan Ayah. Dan tiga miliar juga harga yang dipasang Ibu untuk menjualku. "Dia orang kaya, Ayu. Dia bisa melunasi semuanya. Kamu hanya perlu menikah dengannya, dan hidup kita selamat." Kata-kata Ibu terngiang lagi, membuat perutku mual. Aku berdiri di pasir basah yang dingin, menggigil. Aku sudah mematikan ponselku sejak sore, melarikan diri dari rumah sesaat sebelum rombongan keluarga Bram datang untuk melamar—atau lebih tepatnya, membeli—diriku secara resmi. Aku pikir tempat ini aman. Pantai selatan di jam sebelas malam sunyi senyap, tersembunyi di balik tebing kapur raksasa. Aku hanya butuh waktu untuk berpikir. Lari ke mana? Siapa yang bisa membantu? Namun, lamunanku hancur seketika. Suara ban mobil menggilas kerikil terdengar di belakangku. Sorot lampu yang menyilaukan tiba-tiba memotong kegelapan, menangkap tubuhku seperti rusa di tengah jalan. Jantungku berhenti berdetak. Mereka menemukanku. Sebuah SUV hitam memblokir jalan keluar. Pintu terbuka. Bram Kusuma Wardhana turun. Ia mengenakan kemeja batik sutra yang lengannya digulung, terlihat santai namun mematikan. Di tangannya, sebatang rokok menyala merah di kegelapan. "Sudah kubilang, jangan main petak umpet, Sayang," suaranya tenang, namun terdengar jelas di antara suara ombak. "Ibumu panik. Dia takut cek pelunasannya batal cair kalau pengantin wanitanya hilang." Aku mundur hingga tumitku menyentuh air laut. "Aku tidak mau menikah denganmu, Bram. Aku bukan barang pelunas utang." Bram tertawa kering. Ia membuang rokoknya ke pasir, lalu menginjaknya. "Kamu memang bukan barang. Kamu aset. Dan aset keluarga Maheswari sekarang adalah milikku." Ia menjentikkan jari. Tiga pria berbadan tegap turun dari mobil, langsung mengepungku. "Bawa dia," perintah Bram datar. "Ikat kalau perlu. Besok pagi akad nikah tetap dilaksanakan, suka atau tidak." Dua orang maju. Aku mencoba lari, tapi pasir basah menghisap langkahku. Sebuah tangan kasar mencengkeram lenganku, menyakitkan. "Lepas!" teriakku. Aku meronta, tapi tenagaku kalah jauh. "Percuma," desis Bram, mendekat dan mencengkeram daguku kasar. Bau alkohol menguar dari mulutnya. "Malam ini kamu tidur di kamarku, Ayu. Kita akan pastikan kamu tidak punya alasan untuk menolak besok pa—" Kalimatnya terputus. Cahaya lain muncul membelah kegelapan dari arah jalan masuk pantai. Sebuah sedan hitam matte melesat masuk, berhenti mendadak tepat di samping mobil Bram dengan presisi militer. Pintu terbuka. Seorang pria turun. Tinggi, mengenakan setelan jas hitam slim-fit yang terlihat terlalu mahal untuk berada di pantai kotor ini. Ethan Alejandro Mahendra. Tamu VVIP hotel tempatku bekerja. Pria misterius yang selama tiga hari ini selalu mengawasiku dari jauh. Ethan tidak bicara. Ia berjalan lurus ke arah Bram, tatapannya dingin dan kosong. "Lepaskan tanganmu," ucap Ethan datar. Bram menyipitkan mata. "Siapa kau? Ini urusan kelua—" DOR! Satu tembakan melesat tanda peringatan. Aku menjerit. Bram melompat mundur dengan wajah pucat pasi. Ethan tidak menembak ke langit. Ia menembak pasir, tepat satu inci di depan ujung sepatu Bram. "Langkah berikutnya, aku tidak akan meleset ke pasir," kata Ethan tenang. Pistol di tangannya terarah stabil ke kepala Bram. Anak buah Bram melepaskanku karena kaget, tapi Ethan bergerak secepat kilat. Krak! Suara tulang patah terdengar mengerikan. Pria itu ambruk seketika setelah Ethan memelintir lengannya dan menghantamkan gagang pistol ke pelipisnya. Bram mundur ketakutan hingga menabrak mobilnya sendiri. "K-kau... Kau Mahendra? Pebisnis dari Amerika itu?" Ethan mengabaikannya. Ia menatapku. "Masuk ke mobil." "A-apa?" "Masuk. Atau kau mau tetap di sini bersamanya?" Aku tidak punya pilihan. Aku berlari masuk ke mobil sedan Ethan. Ethan menoleh ke Bram untuk terakhir kalinya. "Pergi. Dan anggap wanita ini sudah mati. Jika kau mencarinya lagi, aku akan menghancurkan seluruh bisnis ilegalmu di pelabuhan." Bram lari terbirit-birit masuk ke mobilnya. Ethan masuk ke kursi pengemudi, lalu memacu mobil meninggalkan pantai. Napasku masih memburu. Tanganku gemetar hebat. "Terima kasih," bisikku lirih. "Tolong antar aku ke kantor polisi. Aku bisa minta perlindungan di sana." Ethan tidak menjawab. Ia malah menekan tombol di pintu, dan suara KLIK keras terdengar. Pintu terkunci otomatis. Mobil berbelok ke arah berlawanan dari kantor polisi. "Ethan?" tanyaku panik. "Ini bukan jalan ke kantor polisi. Kita mau ke mana?" Ethan akhirnya menoleh sekilas. Tatapannya gelap, membuat darahku yang tadinya panas karena adrenalin, kini membeku karena ketakutan baru. "Polisi tidak bisa melindungimu dari mereka, Chintya," katanya dingin. "Kita tidak akan ke kantor polisi. Dan kita tidak akan pulang." "Lalu ke mana?" "Ke tempat di mana kau tidak akan pernah ditemukan lagi."Makan siang itu seharusnya romantis.Ethan membawaku ke restoran rooftop privat lainnya, tempat di mana awan-awan Los Angeles terlihat begitu dekat seolah bisa disentuh. Pelayan menuangkan wine terbaik, dan hidangan laut segar tersaji di meja.Namun bagiku, makanan itu terasa seperti pasir."Kau diam saja dari tadi, Honey," suara Ethan memecah keheningan. Ia tidak sedang makan. Ia sedang mengawasiku, memutar gelas wine-nya dengan gerakan santai yang menipu.Aku tersentak, memaksakan seulas senyum kaku. "Aku hanya... lelah. Kejadian di kantor tadi cukup menguras tenaga."Ethan terkekeh pelan, suara rendah yang biasanya membuat perutku bergejolak, tapi kini membuatku waspada."Tenaga, ya?" godanya, matanya berkilat nakal. Tangan besarnya terulur di atas meja, menggenggam tanganku.Dulu—atau lebih tepatnya satu jam yang lalu—sentuhan ini akan membuatku merasa aman. Tapi sekarang, saat kulitnya bersentuhan dengan kulitku, bayangan foto di dalam map merah itu melintas di kepalaku.
Napas kami masih memburu, beradu di keheningan ruang kerja yang luas.Kemeja putih Ethan sudah tidak berbentuk, kancing-kancingnya terlepas beberapa. Gaun sutraku melorot di bahu, rambutku berantakan. Dokumen-dokumen penting yang tadi tersusun rapi di meja, kini berserakan di lantai, menjadi saksi bisu kegilaan yang baru saja terjadi.Ethan masih mengurungku di atas meja kerjanya. Kedua tangannya bertumpu di sisi pinggulku, keningnya menempel di keningku. Matanya terpejam, menikmati afterglow yang menenangkan saraf-saraf tegangnya.Tanganku bergerak pelan, menelusuri garis rahangnya yang keras, lalu turun ke lehernya yang basah oleh keringat."Ethan..." panggilku lembut.Ia membuka matanya. Hitam pekat, namun sekarang terlihat teduh. Seperti laut tenang setelah badai."Hmm?" gumamnya, mengecup ujung hidungku.Aku menatapnya lekat-lekat. Mengingat ancamannya di kamar mandi pagi itu, tentang kontrak enam bulan. Tentang ancaman akan memulangkanku jika aku tidak mencintainya. Rasa
Cahaya matahari pagi terasa berbeda hari ini. Lebih hangat. Lebih nyata.Aku menggeliat pelan di balik selimut sutra tebal, merasakan setiap otot tubuhku yang pegal dan nyeri—sisa-sisa pertempuran panas semalam yang menghancurkan semua batasan di antara kami.Sebuah tangan kekar melingkar di pinggangku, menahanku agar tidak beranjak.“Mau ke mana, Honey?”Suara itu serak, rendah, dan berat, berbisik tepat di telingaku. Napas hangatnya menggelitik tengkukku, mengirimkan getaran listrik ke tulang punggung.Aku menoleh. Ethan sedang menatapku. Rambut hitamnya berantakan, matanya masih sayu khas bangun tidur, tapi sorot posesif itu sudah menyala terang. Tidak ada lagi dinginnya es di sana. Yang ada hanya api.“Ke kamar mandi,” jawabku pelan, wajahku memanas mengingat apa yang kami lakukan di sana—dan di lantai, dan di meja rias—semalam.Ethan tersenyum miring. Ia menarikku kembali jatuh ke pelukannya, membenamkan wajahnya di ceruk leherku, menghirup aromaku dalam-dalam.“Nanti sa
Restoran itu bernama L'Obscur. Gelap, eksklusif, dan hening. Hanya ada lima meja di ruangan VIP ini, dan malam ini, Ethan menyewa seluruh tempat.Aku duduk di hadapannya, mengenakan gaun sutra hitam backless yang memamerkan punggungku. Udara terasa dingin, tapi keringat dingin membasahi tengkukku.Di meja kami, makan malam sudah tersaji. Steak wagyu yang dimasak rare—masih merah di bagian tengah. Di samping piringku, tergeletak pistol Glock 19 yang sudah kusembunyikan di balik clutch pestaku."Makan," perintah Ethan. Ia memotong daging di piringnya dengan tenang. Pisau peraknya mengiris daging merah itu tanpa suara."Aku tidak bisa makan," bisikku. "Kau bilang kita akan berburu. Di mana targetnya?""Dia sudah di sini," jawab Ethan santai.Pintu ruangan VIP terbuka. Seorang pria paruh baya dengan setelan jas abu-abu masuk, dikawal oleh dua penjaga restoran. Wajahnya pucat pasi saat melihat Ethan duduk di ujung meja.Itu Mr. Tan. Salah satu investor terbesar Mahendra Corp."Eth






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.