Sejak malam kejadian itu, Bastian benar-benar menghilang. Pria itu tidak berani menampakkan batang hidungnya di rumah yang Dinara tempati, sengaja memberi jarak demi memberikan ruang bagi Dinara, sekaligus untuk menata kembali logikanya yang sempat runtuh. Namun, bagi Dinara, kepergian Bastian tidak lantas membuat beban pikirannya berkurang. Sebaliknya, rasa bersalah, kecanggungan, dan ketakutan akan masa depan justru kian menggunung. Ditambah lagi, rasa sakit di perut bawahnya sejak malam mimpi buruk itu tak kunjung reda. Kembung dan kram halus terus menyiksanya, sisa dari gejolak emosi yang belum stabil. Puncaknya terjadi pada hari ketiga. Dengan kondisi fisik yang melemah dan kelelahan mental yang hancur, Dinara memaksakan diri berjalan ke pasar untuk membeli beberapa kebutuhan dapur. Keadaan pasar yang ramai, pengap, dan bising mendadak membuat kepalanya berputar hebat. Pandangan Dinara mengabur. Langkah kakinya terasa sempoyongan dan goyah. Dunia di sekitarnya seolah berputar m
Baca selengkapnya