LOGINDinara Arumi diremehkan Elang Adikara, seorang CEO di perusahaan properti villa besar, ketika sesi wawancara sebagai sekretarisnya. Namun betapa terkejutnya Dinara ketika mengetahui bahwa ia justru diterima! Bekerja bersama Elang Adikara memang sulit, Dinara harus selalu menyesuaikan ritmenya. Tetapi, jauh lebih sulit untuk melupakan kejadian yang menimpa Dinara di malam panas itu bersama Elang.
View More“Maksud Pak Bas, saya bisa tinggal di sini sementara waktu?” tanya Dinara memastikan lagi. Bastian mengangguk, sambil membawa tas milik Dinara. “Iya, Mbak. Bukan hanya sementara, tapi terserah Mbak Dinara mau sampai kapan.” Dinara tersenyum kecil. Perasaan hangat perlahan merayap di dadanya yang selama sebulan ini terasa beku. “Terima kasih banyak, Pak.” Bastian melangkah lebih dulu, membuka pintu kayu rumah sederhana itu yang mengeluarkan bunyi derit halus. Begitu masuk, aroma kayu yang khas dan kebersihan rumah yang terawat langsung menyambut mereka. Rumah ini tidak besar, sangat jauh berbeda jika dibandingkan dengan mansion megah milik Elang Adikara di Jakarta. Namun, di mata Dinara saat ini, kesederhanaan rumah di tepi pantai ini terasa seribu kali lebih menenangkan. Tidak ada kamera wartawan, tidak ada kilatan gosip televisi, dan yang terpenting tidak ada tekanan masalah. Bastian meletakkan tas pakaian Dinara di kursi tamu yang terlihat bersih. “Rumah ini memang jarang saya t
Untuk terakhir kalinya Julia menjenguk Dinara di kamarnya saat hendak ke kantor. Kala itu terasa sekali menjadi pelukan mereka yang terakhir kalinya.“Lo harus janji sama gue, Din...” bisik Julia parau, suaranya bergetar di dekat telinga Dinara. “Di mana pun lo berada nanti, lo harus makan yang banyak. Jangan mikirin apa-apa lagi selain kesehatan lo dan keponakan gue. Lo udah terlalu sering ngalah buat orang lain, sekarang giliran lo yang harus bahagia.”Dinara tidak menjawab lewat kata-kata. Ia hanya mampu mempererat pelukannya, memejamkan mata rapat-rapat demi menahan air mata yang sudah mendesak ingin keluar. Dadanya terasa ngilu. Kehadiran Julia di rumah ini adalah satu-satunya penghibur di tengah dinginnya pengabaian Elang selama sebulan ini. Dan kini, ia juga harus merelakan satu-satunya sandaran yang ia punya itu demi menjauh sejauh-jauhnya.Perlahan, Dinara mengurai pelukan mereka. Sebuah senyuman pasrah terlihat darinya begitu menyayat hati Julia.“Makasih ya, Jule... buat se
Beberapa hari setelah tayangan televisi yang menghancurkan hatinya itu, Bastian sebenarnya sempat datang membawa secercah harapan. Ponsel lama Dinara berhasil dinyalakan kembali, lengkap dengan seluruh data dan bukti perselingkuhan busuk antara Karin dan Paman Johan.Namun, alih-alih menggunakan bukti itu untuk menyerang balik, Dinara memilih membungkus ponsel tersebut rapat-rapat dalam sebuah kotak kecil. Ia menitipkannya pada Bastian untuk diserahkan langsung kepada Elang pada saat yang tepat. “Pak Bas, saya titip ini... serahkan pada Pak Elang di saat yang tepat,” ujar Dinara sambil menyerahkan kotak kecil itu.Dinara tahu, itu adalah kartu pamungkas untuk masalah suaminya, dan ia memercayakan benda itu disimpan oleh Bastian.Kini, waktu telah bergulir. Sudah satu bulan berlalu sejak Elang memutuskan hubungan secara sepihak tanpa kabar.Suatu malam di dalam kamar, keheningan kembali merayap di antara Dinara dan Julia. Dinara menatap ke sekeliling kamar luas yang mewah itu dengan p
Hari-hari berikutnya berlalu seperti siksaan yang lambat bagi Dinara. Sejak malam panggilan telepon itu, Elang benar-benar tidak kembali ke rumah. Pria itu seolah ditelan oleh badai masalah yang mencuat ke media.Julia yang tinggal bersamanya pun ikut didera rasa resah yang mendalam. Setiap malam pulang dari kantor, hatinya selalu mencelos melihat sahabatnya itu dirundung rindu yang begitu pekat. Wajah Dinara selalu tampak sendu, matanya sering kali menatap kosong ke arah jendela kamar, menantikan kepulangan sang suami yang tak kunjung tiba. Padahal, Julia sendiri hampir setiap hari melihat sosok Elang Adikara di kantor.“Pak Elang itu beneran super sibuk sekarang, Din. Dia nyaris nggak pernah keluar dari ruang rapat,” ujar Julia suatu malam, mencoba memberikan pengertian saat mereka sedang duduk bersama di ruang tengah.Dinara hanya mengangguk pelan tanpa suara.“Tapi lo tahu nggak yang bikin anak-anak kantor makin merinding?” lanjut Julia lagi, berusaha memancing perhatian Dinara. “
Cahaya matahari pagi menyusup melalui celah gorden, menerpa mata Dinara. Ia mengerang pelan, merasakan kepalanya masih sedikit berat, namun suhu tubuhnya sudah jauh lebih stabil dibandingkan semalam.Refleks, tangan Dinara meraba dahi. Dahinya sudah dingin. Ia langsung menoleh ke arah sofa di sudut
Cahaya matahari yang menyelinap di antara celah gorden memaksa Dinara untuk membuka mata. Kepalanya langsung terasa berdenyut, seolah ada ribuan jarum yang menusuk sarafnya. Ia mengerang, memijat pelipisnya yang berdenyut kencang sambil mencoba mengumpulkan potongan ingatan yang berceceran.“Pesta
“Biar saya, Pak Anda, dan Bu Soraya yang survei,” jawab Elang santai.Terdengar langkah kaki dari arah pintu masuk villa. Andaliman muncul dengan senyum lebar, “Pagi semuanya! Wah, ada Bu Karin...” seru Andaliman ceria.Ia berjalan menghampiri sofa di mana Karin dan Elang duduk, lalu dengan sopan
“Jangan marah-marah,” Dinara terdengar hampir menangis. “Memang saya selalu sial…hmgmh”Ia menarik nafas tajam, tubuhnya menggigil meski keringat membasahi pelipis. “Aduh… panas banget… nggak tahan… saya ingin... dima-suki...”Kalimatnya mulai tidak utuh. Pikirannya berantakan. Dunia terasa berputa






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore