LOGINDinara Arumi diremehkan Elang Adikara, seorang CEO di perusahaan properti villa besar, ketika sesi wawancara sebagai sekretarisnya. Namun betapa terkejutnya Dinara ketika mengetahui bahwa ia justru diterima! Bekerja bersama Elang Adikara memang sulit, Dinara harus selalu menyesuaikan ritmenya. Tetapi, jauh lebih sulit untuk melupakan kejadian yang menimpa Dinara di malam panas itu bersama Elang.
View More“Din, rumah Ibu sudah Abang jual.”
Kalimat itu, keluar begitu saja dari mulut Ibrahim minggu lalu. Ibrahim adalah satu-satunya kakak laki-laki yang dimiliki Dinara. Sudah seminggu berlalu, tapi pikirannya tetap kusut.Bahkan saat ia duduk menunggu giliran di ruang interview hari ini, kecamuk itu belum juga reda. Dinara menarik nafas pelan, mencoba menenangkan diri namun ia tetap gelisah.
Bagaimana tidak? Rumah satu-satunya peninggalan Ibu, lenyap dijual kakaknya bahkan tanpa sepengetahuannya! Alasannya? Untuk membayar hutang pinjaman online, untuk berjudi!Dinara tidak habis pikir. Berulang kali, ia berharap kakaknya bisa berubah, tapi yang ia dapat justru kekecewaan yang semakin dalam.
Yang membuatnya semakin sesak, haknya atas warisan itu pun tidak diberikan secara utuh. Ibrahim hanya memberi sekadarnya, seolah-olah dialah yang paling berkuasa atas harta warisan itu.Ketika ia mencoba protes, kakaknya malah bersikap tak peduli.
Dan sekarang, rumah itu harus dikosongkan minggu depan. Tujuh hari lagi. Panik mulai merambat. Dinara belum memiliki pekerjaan lagi, sementara biaya hidup terus berjalan.Tabungannya makin menipis, dan uang warisan mendiang ibu pun sudah hampir habis digunakan untuk menyambung hidup. Belum lagi, ia akan kehilangan tempat tinggalnya.
Maka, ketika sahabatnya memberi kabar tentang lowongan di perusahaan properti tempatnya bekerja – sebuah perusahaan properti villa besar dengan reputasi solid, Dinara pun langsung mengiyakan.Ia tahu seleksinya terkenal ketat, tapi ia harus mencoba, harus berusaha diterima. Dinara betul-betul membutuhkan pekerjaan ini.
Sekarang, di ruang interview, Dinara duduk berhadapan dengan dua sosok penting dari perusahaan properti tersebut. Seseorang dari bagian HRD dan Elang Adikara, sang CEO yang dikenal sebagai sosok dingin, perfeksionis dan sulit ditebak. Dinara kini mengerti maksud ucapan sahabatnya tentang sang CEO beberapa hari lalu. Elang Adikara memang tampan dengan rahang tegas, sorot mata tajam, dan aura yang entah bagaimana membuat ruangan menjadi seperti kekurangan oksigen. Tetapi pesona itu tidak membantu Dinara merasa lebih nyaman. Beberapa kali Dinara menarik nafas pelan, mencoba menenangkan diri. Ia jelas butuh pekerjaan ini. Ini adalah pekerjaan formal pertama Dinara.Dulu, Dinara hanya pernah bekerja sebagai bagian administrasi di sebuah gudang kecil, pekerjaan yang ia dapat berkat kenalan ibunya dulu. Meski pekerjaan itu tak bertahan lama karena ia harus mengurus ibunya yang sakit.
Ia membantu seluruh proses administrasi gudang agar berjalan lancar. Dinara juga beberapa kali menemani atasannya.Namun, Dinara pikir semua itu tidak sebanding dengan hari ini. Ia harus berhadapan dengan seorang CEO, dengan tanggung jawab pekerjaan yang jauh lebih besar, jauh lebih banyak.
‘Aku harus dapat pekerjaan ini, nggak boleh gagal!’ pikir Dinara dengan tekad bulat. Namun sejak tadi, Dinara dapat merasakan tatapan yang menusuk dari sang CEO. Seolah-olah pria itu menilai tiap detail dirinya. Itu membuat Dinara merasa sedikit tidak nyaman. Meski begitu, Dinara menjawab semua pertanyaan Bu Reva dengan mantap. Meski tidak memiliki pengalaman yang signifikan, Dinara percaya diri dengan kemampuannya. Ia yakin bahwa dirinya sudah siap ketika harus menghadapi tekanan, jadwal padat, hingga klien yang sulit. Dari cara Bu Reva mengangguk-angguk, Dinara merasakan adanya kepuasan, seakan jawabannya lebih dari cukup. Membuatnya sangat yakin akan diterima di perusahaan tersebut. Namun begitu sang CEO akhirnya bersuara, atmosfer ruangan langsung berubah drastis. “Dinara Arumi.” Nada beratnya membuat kepala Dinara terangkat perlahan. “Iya, Pak,” jawabnya sopan. Tatapan pria itu tidak bergeser sedikit pun. Seakan ia sedang menilai apa pun yang tidak tertulis di CV. Matanya dingin, namun intens. Lalu sebuah pertanyaan datang tanpa peringatan. “Tidak ada pengalaman… Memang tahu apa tentang menjadi sekretaris?” Dinara terdiam. Dunianya seperti berhenti sesaat. Ia tidak yakin apakah ia salah dengar, atau memang pria di depannya itu baru saja meremehkan kandidat pegawainya. Dinara memang belum pernah bekerja sebagai sekretaris sebelumnya. Namun, bukan berarti Dinara sama sekali tidak memahami tentang menjadi seorang sekretaris. Dinara sempat terpelatuk rasa kesal. Ia merasa direndahkan dengan satu pertanyaan itu. Namun, ia harus menahan perasaan itu, karena bagaimanapun ini adalah sebuah kesempatan yang tidak bisa didapatkan dua kali. Dada Dinara kembali menegang. Lengan Dinara ikut kaku di pangkuan. Sebagian dirinya ingin tertawa tidak percaya, sebagian ingin berdiri dan pergi saja. Tapi ia butuh pekerjaan ini. Ia tidak bisa kehilangan kesempatan ini hanya karena emosi. Seluruh kesan elegan Elang Adikara di mata Dinara lantas runtuh begitu saja. Yang ia lihat sekarang adalah seorang pria yang dengan mudah merendahkan orang lain. Orang yang bahkan tidak dikenalnya. Barangkali pria itu memandang orang lain sebagai rendahan. Cara pria itu menatapnya juga membuat Dinara merasa seolah sedang dihakimi. Ia seperti diperlakukan sebagai masalah bahkan sebelum diberi kesempatan membuktikan siapa dirinya. Elang berdehem, terdengar tidak sabar ketika Dinara tidak langsung menjawab. Dinara tersentak kecil. “Mohon maaf, apa boleh diulang pertanyaannya, Pak?” Dinara akhirnya bersuara, mencoba terdengar tegas. Ia berharap Elang Adikara akan menarik ucapannya. Mengubah pertanyaan itu menjadi sesuatu yang lebih relevan. Namun harapan itu langsung padam ketika Elang Adikara kembali memindai dirinya dari atas sampai bawah. Ia menegaskan dengan lebih perlahan namun lantang. Elang menghela napas sebelum kembali berujar, “Pertanyaan sepele seperti itu saja tidak bisa jawab, bagaimana bisa kamu begitu percaya diri melamar menjadi sekretaris saya?” Mata Dinara membesar. Apakah pria ini serius!?“Anak?” Dinara mengulangi kata itu dengan suara yang hampir menghilang.“Iya, aku menginginkan anak darimu...” Elang berbisik tepat di depan wajah Dinara, memastikan setiap katanya meresap ke dalam benak wanita itu. Tak ada keraguan dalam suaranya, hanya sebuah keinginan yang dalam dan bersifat mutlak.Dinara terdiam, nafasnya masih memburu di bawah kungkungan tubuh Elang. Ia masih bisa merasakan denyut hangat yang menjalar di bagian intimnya, seolah pria itu baru saja menumpahkan seluruh sari pati kehidupannya hingga tetes terakhir ke dalam rahimnya. Sensasi itu begitu nyata, sebuah segel tak kasatmata yang seakan mengunci takdirnya untuk terus terikat pada sosok Elang Adikara.“Mas, yakin?” tanya Dinara pelan. Matanya mencari kepastian di balik tatapan Elang yang biasanya sulit dibaca.“Iya, sangat yakin.” Elang perlahan menarik dirinya, lalu berbaring di sisi Dinara. Ia menumpu kepala dengan satu tangan, menatap lekat wanita yang kini tampak begitu rapuh sekaligus cantik di matanya
“Pak, kita harus kembali ke Jakarta. Saya takut Arvin mengincar Julia,” ucap Dinara cemas. Ia tidak bisa membayangkan jika sahabat satu-satunya itu harus menanggung dampak dari dendam Arvin.“Tenang, Bu Dinara. Kepolisian Surabaya sudah berkoordinasi dengan Jakarta. Jika ia lolos dari stasiun, tim di sana sudah bersiaga. Kami yakin dia akan kembali ke Jakarta,” sela Ipda Adi menenangkan.“Serahkan semuanya pada polisi, Dinara,” tambah Elang singkat. Dinara terdiam, meski hatinya masih dirayapi ketakutan.Menjelang siang, para petugas berpamitan. Begitu pintu kamar tertutup, suasana menjadi sunyi. Elang menghampiri Dinara yang sedang meringkuk di atas ranjang, lalu ikut naik dan memeluknya dari belakang. Dinara tersentak.“Pak...” desahnya.“Tenang. Kamu sudah memperingatkan Julia untuk pergi dari kosnya, kan?” bisik Elang rendah.“Iya, Pak. Dia langsung pergi meski sempat panik.” Dinara membalikkan tubuh, kini menatap langsung ke dalam manik mata Elang Adikara yang kelam.“Lalu, apa y
Elang melepaskan pagutan itu perlahan, namun tidak menjauhkan wajahnya. Nafas mereka memburu. Elang menunduk, bibirnya berada tepat di samping telinga Dinara, membisikkan sesuatu dengan suara rendah yang menggetarkan.“Tenanglah,” bisik Elang rendah. “Jangan takut. Selama ada saya, siapa pun tidak bisa menyentuhmu.”Dinara terpaku. Kalimat itu terasa berbeda di telinganya. Biasanya, Elang bicara tentang ‘hak milik’ atau ‘aset perusahaan,’ tapi kali ini Elang menempatkan dirinya sendiri sebagai pelindung langsung bagi Dinara.Hening sejenak. Dinara mendongak, mencoba mencari celah di wajah kaku itu, namun yang ia temukan hanyalah sepasang mata yang menatapnya dengan intensitas yang tak pernah ia lihat sebelumnya. Ketukan di pintu penghubung memecah momen itu.“Pak Elang, Bu Dinara,” suara Ipda Adi terdengar serius. “Ada telepon tanpa nama, kemungkinan target.”Elang menarik lengan Dinara perlahan, membawa wanita itu kembali ke kamarnya.Di sana, Dinara diminta untuk tenang sejenak seb
Dinara melangkah cepat melintasi pintu penghubung. Begitu sampai di kamarnya, ia segera menutup pintu dan bersandar di tembok dengan nafas memburu.Bayangan Arvin yang selalu bersikap santun kini terasa seperti penghinaan. Dinara teringat bagaimana ia pernah memuji kinerja Arvin di depan Elang Adikara, tanpa menyadari bahwa itu semua hanya bagian dari manipulasi.“Bodoh... kamu benar-benar bodoh, Dinara,” bisiknya pada diri sendiri.Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya jatuh. Ia merasa muak karena begitu mudah percaya, sekaligus merasa telah mengecewakan Elang demi membela seseorang yang ternyata berbahaya.Beberapa saat kemudian, Elang memasuki kamar Dinara. Ia menutup kembali pintu penghubung itu dan mendapati Dinara sedang berusaha meredam isak tangisnya.“Dinara...” panggil Elang lirih sambil mendekat.Dinara susah payah menahan tangis hingga dadanya terasa sakit. Ia menutupi wajah dengan kedua tangan, menghindari tatapan Elang.Elang menumpu satu tangannya di tembok, mena
Cahaya matahari pagi menyusup melalui celah gorden, menerpa mata Dinara. Ia mengerang pelan, merasakan kepalanya masih sedikit berat, namun suhu tubuhnya sudah jauh lebih stabil dibandingkan semalam.Refleks, tangan Dinara meraba dahi. Dahinya sudah dingin. Ia langsung menoleh ke arah sofa di sudut
Cahaya matahari yang menyelinap di antara celah gorden memaksa Dinara untuk membuka mata. Kepalanya langsung terasa berdenyut, seolah ada ribuan jarum yang menusuk sarafnya. Ia mengerang, memijat pelipisnya yang berdenyut kencang sambil mencoba mengumpulkan potongan ingatan yang berceceran.“Pesta
“Biar saya, Pak Anda, dan Bu Soraya yang survei,” jawab Elang santai.Terdengar langkah kaki dari arah pintu masuk villa. Andaliman muncul dengan senyum lebar, “Pagi semuanya! Wah, ada Bu Karin...” seru Andaliman ceria.Ia berjalan menghampiri sofa di mana Karin dan Elang duduk, lalu dengan sopan
“Jangan marah-marah,” Dinara terdengar hampir menangis. “Memang saya selalu sial…hmgmh”Ia menarik nafas tajam, tubuhnya menggigil meski keringat membasahi pelipis. “Aduh… panas banget… nggak tahan… saya ingin... dima-suki...”Kalimatnya mulai tidak utuh. Pikirannya berantakan. Dunia terasa berputa






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore