Laila tak pernah menyangka, pertanyaan semacam itu justru bisa keluar dari mulut Bima. Laila menarik napas dalam-dalam, lalu melangkah maju dan menatap Bima lurus.“Orang yang mengorbankan hubungan kita bukan aku, tapi kamu. Orang yang main gila dengan orang lain juga bukan aku, tapi kamu.”Laila berhenti sejenak, lalu tersenyum dingin dan melanjutkan, “Oh tidak, sekarang ini bahkan bukan sekadar ‘main gila’. Lebih tepatnya, kamu sudah punya anak dengan wanita itu, benar, kan? Kalau begitu, jalani saja tanggung jawabmu sebagai seorang ayah dengan baik. Jangan pernah muncul lagi di hadapanku.”Setelah selesai dengan kalimatnya, Laila langsung mengambil pakaian basahnya, lalu berbalik dan berjalan ke arah Hendri.“Hendri, ayo kita pergi.”Begitu mendengar namanya dipanggil, alis Hendri terangkat sedikit. Lengkungan senyum di sudut bibirnya nyaris tak bisa disembunyikan. Hendri pun melangkah maju, kemudian merangkul bahu Laila dengan alami. Tak lupa, Hendri melirik Bima dengan tatapan pen
اقرأ المزيد