“Sakit! Papa, ini sakit.” Joice berbisik lirih tak bertenaga. Wajahnya sudah pucat, mungkin sebentar lagi akan kehilangan kesadaran. Jimmy menggeleng menahan tangis. Ia dipaksa menyaksikan dengan mata kepala sendiri, bagaimana tangan putrinya dipotong. “Joice, tahan dulu, jangan tidur, Joice.” Nigel menoleh ke belakang, ia melirik Dizon. “Lanjutkan.” “Baik, Tuan.” Dizon menunduk hormat kepada Nigel yang langsung pergi keluar dari rumah itu. Masih 1 tangan. Nigel meminta 2 tangan Joice. Sangat tragis. Nigel langsung masuk ke dalam mobil, ia tak menurunkan Bea dari gendongan. Bea sudah lemas, ia tak memiliki tenaga untuk berbicara ataupun bergerak. Dalam mobil, Bea duduk di atas paha Nigel, masih dengan posisi seperti digendong tadi. Nigel sendiri tak berniat membiarkan Bea duduk sendiri di sa
Last Updated : 2026-01-14 Read more