Sagara terdiam, matanya menatap tangan Bu Megan yang menggenggam tangannya erat. “Bu, jangan ngomong seperti itu. Ibu pasti sembuh. Setelah operasi nanti, semuanya akan baik-baik saja,” katanya, mencoba menenangkan.Namun, Bu Megan tersenyum tipis, tatapannya seolah menembus jauh ke dalam hati menantunya. “Kamu tahu, Nak, Qaiyara itu perempuan yang keras kepala. Tapi dibalik semua itu, dia sangat rapuh. Kalo ibu sudah nggak ada, dia pasti terpukul. Kamu janji, ya? Jadilah pelindung untuk dia. Bahagiakan dia, Nak. Jangan biarkan dia kehilangan dunianya.” imbuh Bu Megan tanpa menghiraukan ucapan Sagara.Sagara menelan ludah, berat mendengar kata-kata itu. Belum sempat ia menjawab, Pak Haris memotong dengan suara lembut namun tegas. “Megan, jangan ngomong kayak gitu. Kamu harus kuat. Setelah ini, kita masih punya banyak waktu bersama. Kita bisa menikmati masa tua kita sambil bermain bersama cucu,” ujar pak Haris dengan lembut, tak kuasa hatinya mendengar ucapan sang istri.Air mata tipi
Read more