เข้าสู่ระบบKetika sebuah kesalahpahaman merubah segalanya. Cinta satu malam, itulah yang dipikiran orang-orang sehingga seorang mahasiswi bernama Qaiyara terpaksa menikah dengan dosennya sendiri.
ดูเพิ่มเติมQaiyara tidak pernah menyangka hidupnya berubah drastis hanya dalam semalam. Semuanya berawal dari keputusannya untuk menghadiri acara ulang tahun sahabatnya di sebuah restoran kecil.
Restoran itu sebenarnya tempat yang nyaman, tetapi lampunya yang remang-remang membuat suasana menjadi sedikit "curiga". Qaiyara tidak peduli. Ia sibuk tertawa bersama sahabatnya, tanpa menyadari bahwa bencana sedang menunggu. “Gue tinggal ke toilet sebentar, ya,” kata Qaiyara sambil berdiri. Namun, di koridor menuju toilet, dia menabrak seorang pria tinggi dengan wajah dingin. “Maaf, Pak!” serunya tanpa melihat siapa orang itu. Tapi begitu dia mendongak, wajahnya memucat. “Pak Sagara?” Dosen killer di kampus. Lelaki dingin yang selalu memandang mahasiswanya seperti manusia tak berguna. “Apa kamu tidak bisa melihat jalan?” suara Sagara tajam, membuat Qaiyara merasa seperti tikus kecil yang ketahuan mencuri keju. Namun sebelum sempat membalas, seorang petugas keamanan menghampiri mereka. "LARI!! ADA RAZIA!!!" teriak muda-mudi yang lari berhamburan keluar dari kamar-kamar yang ada di restoran itu. Sagara dan Qaiyara yang belum sempat berkutik sedikitpun, seketika dipergoki oleh beberapa petugas pemeriksaan. “Maaf. Apa kalian pasangan suami istri?” “Hah?!” Qaiyara melongo, sementara Sagara hanya diam dengan ekspresi datar. “Jika bukan, tolong tunjukkan kartu identitas. Kami melakukan pemeriksaan tempat. Tempat ini biasa digunakan muda-mudi yang hendak berbuat zina!” ungkap seorang petugas. "Nggak perlu kita jelasin, pasti mereka juga sudah tahu dan hendak berbuat yang enggak-enggak di tempat ini," timpal petugas yang lainnya. Sagara menjawab, “Maaf, Pak. Saya tidak tahu kalau tempat ini biasa digunakan untuk hal yang salah, saya kesini karena ada janji dengan teman saya," ucapnya, "kalau perempuan ini, saya nggak tahu niatnya ke sini, mungkin saja sesuai dengan dugaan bapak-bapak sekalian," Mata Qaiyara hampir meloncat keluar dari wajahnya. “APA?! Enak aja ngomong kek gitu, bapak pikir saya ini perempuan murahan, hah?!” protes Qaiyara yang tak terima dengan ucapan sang dosen, kini rasa takutnya pada dosen itu seketika menghilang begitu saja. "Halah, udah ketangkap basah dan kalian masih mau beralasan?!" Sagara menarik napas dalam, lalu berkata, "saya dosen, dan dia mahasiswi saya!" ungkap Sagara. Petugas itu menggelengkan kepalanya, "wah, sebuah skandal. Bagaimana para wartawan akan menulis berita ini? 'Seorang Dosen yang terlibat skandal dengan mahasiswinya sendiri di kafe remang-remang?'?" ujar ketua petugas pemeriksaan itu. "Jangan buat reputasi saya hancur!!" seru Sagara dengan tegas. "Ya sudah, masalah ini mau diselesaikan di kantor polisi atau secara kekeluargaan?" tanya ketua petugas itu. "Ayo, ke kantor polisi!" ujar sagara tanpa perasaan takut sedikitpun, "lagian, saya nggak berbuat salah. Semua akan dibuktikan oleh rekaman cctv...," ujar Sagara sambil mengedarkan pandangannya di bagian atas, mencari cctv di kafe remang-remang tersebut. Namun, sayangnya, tak ada benda kecil itu di setiap sudut kafe tersebut. Para petugas hanya tersenyum datar, "ayo, ke kantor polisi!" ujarnya sambil menarik tangan Qaiyara dan Sagara. Dengan cepat, Qaiyara menghentikan langkah mereka, "Pak, diselesaikan secara kekeluargaan saja. Bisa-bisa orang tuaku terkena serangan jantung kalau dengar anaknya yang cantik ini bersangkutan dengan polisi," ujar Qaiyara. Akhirnya, ketua petugas pemeriksaan itu menghubungi kedua belah pihak keluarga mereka. Dan memutuskan untuk diselesaikan secara kekeluargaan saja. --- Di malam itu juga, kedua belah pihak keluarga bertemu di rumah Pak Haris, orang tua Qaiyara setelah dihubungi oleh ketua petugas pemeriksaan. “Qaiyara, apa-apaan ini? Kamu tahu betapa memalukannya ini untuk keluarga kita?” bentak ayahnya, Pak Haris. “Tapi Ayah, itu cuma salah paham! Aku nggak ada hubungan apa-apa sama Pak Sagara, aku kenal dia hanya sebatas seorang dosen di kampus,” bela Qaiyara. Namun, Pak Haris tidak peduli. “Satu-satunya cara untuk menyelamatkan nama baik keluarga adalah kalian menikah.” Di sisi lain, keluarga Sagara justru terlihat bahagia. “Akhirnya, anak ini menikah juga!” seru Bu Mirna, ibunya, sambil tersenyum lega. “Ini bukan karena aku ingin menikah. Ini hanya untuk menutup skandal itu,” jawab Sagara dengan dingin. "Ayah, aku belum siap untuk menikah, apalagi sama orang yang nggak aku cintai," ujar Qaiyara. "Ikuti saja permintaan para orang tua, ini adalah jalan terbaik demi kebaikan kita berdua, kamu nggak maukan dikeluarin dari kampus hanya karena masalah ini tersebar!" pungkas Sagara. Namun, pada akhirnya, kedua keluarga sepakat. Pernikahan mereka harus segera dilangsungkan. --- Masih di malam yang sama, Qaiyara duduk di samping Sagara dengan wajah canggung. Sementara pria itu tampak tenang seperti biasa, meski sorot matanya tajam. “Saya terima nikah dan kawinnya Qaiyara Zivara dengan seperangkat alat sholat, dibayar tunai!!...” suara Sagara terdengar mantap, membuat Qaiyara menggigit bibirnya. "Sah!!" seru keluarga dari kedua belah pihak. “Mulai sekarang, kalian harus hidup bersama. Pernikahan itu sakral, bukan mainan,” ujar ayah Qaiyara tegas setelah akad selesai. Setelah melaksanakan akad nikah, Sagara langsung membawa Qaiyara ke apartemennya, mau tak mau, untuk sementara waktu ini keduanya harus tinggal di bawah atap yang sama. Bagi para orang tua mereka, pernikahan itu sangat sakral, dan tak boleh dipermainkan. Dan mereka harus tinggal berdua selayaknya suami istri pada umumnya. “Dengar, pernikahan ini hanya formalitas. Kita buat perjanjian, nggak ada yang boleh mencampuri urusan pribadi,” ucap Sagara datar. “Bagus. Aku juga nggak mau hidup sama cowok dingin kek Anda,” balas Qaiyara sambil menyilangkan tangan. Hari pertama tinggal bersama di apartemen Sagara, Qaiyara langsung menetapkan aturan. “Dengar, aku butuh ruang privasi. Jangan pernah masuk kamarku tanpa izin,” ucap Qaiyara tegas. Sagara hanya meliriknya sebentar. “Kalau begitu, jangan ganggu jam kerjaku. Aku benci orang berisik." Setelah membuat peraturan, Sagara segera masuk ke kamarnya dan Qaiyara memutuskan untuk membuat makan malamnya. "Niatnya mau makan enak. Eeh, malah kehidupanku berubah jadi tak enak!" gumam Qaiyara sambil menuju ke dapur. Baru beberapa menit yang lalu keduanya membuat peraturan, tidak butuh waktu lama untuk aturan itu dilanggar. ya, Qaiyara menggoreng telur dengan suara ribut, membuat alarm kebakaran apartemen berbunyi. Sagara keluar dari kamarnya dengan wajah kesal. “Kamu lagi ngapain?! Mau bakar apartemen ini?” “Bukan salahku! Kompor ini terlalu canggih!” bela Qaiyara sambil mematikan alarm. Sagara hanya memijat pelipisnya, berusaha menahan diri untuk tidak mengomel lebih panjang. "Lagian, dapur macam apa ini? Dalam kulkas nggak ada yang bisa di makan, hanya ada telur yang bentar lagi busuk. Apartemen sebesar ini isinya hanya udara doang!" gerutus Qaiyara. --- Keesokan paginya, Qaiyara bangun dengan suasana hati yang seperti biasanya, selalu ceria. Ia bergegas ke dapur untuk membuat sarapannya sendiri, kemudian bersiap untuk ke kampus. Sedangkan itu, sagara sudah dari pagi sekali ke kampus, karena ada beberapa tugas mahasiswa yang belum sempat ia periksa karena ketinggalan di ruangannya. Sesampainya Qaiyara di kampus, ia langsung disambut oleh Alina, sahabatnya. "Parah lo, Lin. Kok semalam ngajak gue ke tempat orang wloe-wloe, sih?!" protes Qaiyara. Alina tersenyum canggung, "hehe... Maaf, gue juga nggak tahu kalau itu tempat orang bercocok tanam," sahut Alina apa adanya. "Terus kenapa lo malah ninggalin gue sendiri, hah? Buser bener lu ninggalin gue!!" "Gue panik, coy!!" "Yee... Lu pikir lu doang yang panik?" “Terus, semalam lo gimana? Nggak kegep, 'kan?!" tanya Alina penasaran. Qaiyara masih merasa kesal pada Alin, ia menghembuskan napasnya dengan teratur, lalu menjawab, "menurut lo?" Alina memandangi Qaiyara dari atas sampai bawah, "aman-aman aja, secara lo bisa berada di depan gue saat ini dalam keadaan utuh," ujar Alina dengan santai. "Buset, punya teman gini amat!! Berarti, lu pikir, kalau gue ketangkap, gue bakalan dimutilasi, gitu?!" gumam Qaiyara dan bergegas masuk ke kelas. "Hah? Emang razia jaman sekarang kek gitu ya? Langsung dimutilasi di tempat?" gumam Alina yang berpikir dengan kedua alisnya yang mengerut. Seketika, ia tersadar, bahwa Qaiyara sudah mulai jauh darinya, "Yar, tungguin napa, woy!!!" pekik Alina sambil berlalu, mengejar langkah Qaiyara.Qaiyara bersorak gembira, ia buru-buru masuk ke dalam kamar untuk bersiap-siap pergi ke rumah orangtuanya, walaupun baru saja kemarin ia bertemu dengan ibunya, tapi hari ini ia sudah merindukannya lagi.* * * “Semoga panjang umur, sehat selalu dan bahagia terus ya, anakku!!” tutur Bu Megan sambil mengusap lembut pucuk kepala putrinya.Qaiyara tersenyum dan mengangguk, “Terimakasih ya, Bu!” seru Qaiyara sambil mendaratkan pelukan hangat pada sang ibu“Kamu makan yang banyak ya, ibu udah masakin semua makanan kesukaan kamu,” ujar Bu Megan dengan nada lembut.Qaiyara melepaskan pelukannya, melihat banyaknya menu makanan kesukaannya di atas meja, kemudian menatap ibunya dengan perasaan iba. “Seharusnya ibu nggak usah masak sebanyak ini, lihat ibu sehat aja itu udah jadi hadiah terindah buat aku, Bu.”Setelah suasana sedih memenuhi ruangan tersebut, kini mereka menikmati makan malam bersama dan setelah itu Bu Megan pamit lebih dulu untuk beristirahat, Qaiyara mengantar ibunya ke kamarnya
Karin merasa ia telah salah memilah kata-kata, ia terdiam sejenak, melirik Manda untuk meminta pertolongan pada sahabatnya itu. Manda hanya mengangguk pelan, mengisyaratkan pada Karin, agar ia tetap tenang.“Seperti yang kita tahu, pernikahan Qaiyara dan Sagara itu nggak serius, mereka bakal tetap akhiri semuanya, sesuai dengan yang tertera di surat kontrak yang mereka buat,” ungkap Manda sambil tersenyum miring, merasa puas karena sudah membeberkan hal besar itu pada sang ibu.Mendengar ucapan putri semata wayangnya itu, mata Bu Mirna seketika membulat sempurna.“Jadi, pada akhirnya, pasti Sagara dan Karin akan tetap menikah, melanjutkan pernikahan mereka yang sudah tertunda,” imbuh Manda dengan mantap.* * *Setelah kelas pagi dan satu-satunya kelas mereka hari ini, Qaiyara diajak ke kantin oleh Alina.Di kantin, Sarah dan Dion sudah siap dengan segala hal yang mereka persiapkan sedari tadi, kejutan sederhana untuk Qaiyara.
Tak tanggung-tanggung, Sarah menginjak kaki Arga, membuat lelaki itu kesakitan dan menoleh ke padanya dengan mata yang membulat sempurna. “Plis, iyain aja!!!” bisik Sarah penuh harap.Arga kembali menoleh ke layar ponsel, tersenyum canggung dan mengangguk pelan. “Hallo, Tante!” sapanya pada Bu Sani.* * * Setelah Qaiyara mengganti bajunya, ia dan suaminya menikmati sarapan pagi yang dimasak oleh lelaki itu. Kemudian, setelah sarapan, ia memutuskan untuk segera ke kampus.Begitu membuka pintu utama, ia terkejut, matanya membulat sempurna saat melihat sebuah boneka beruang putih berukuran besar dan sebuah balon yang ada di depan pintu apartemen.“Mas Gara, kita kedatangan tamu!!” panggil Qaiyara.Sagara yang tengah bersiap untuk ke kampus, segera keluar dari kamar dan menghampiri Qaiyara.“Siapa?” tanyanya.Tanpa mengeluarkan suara untuk menjawab, Qaiyara hanya menunjuk ke arah boneka dan balon tersebut. Dan Sagara ikut melihat ke arah yang ditunjuk perempuan itu.“Grizzly dan balonn
Di tempat lain, tampak seorang pria sudah sampai di depan toko kue, dengan langkah gusar dan napas lelahnya, ia masuk ke dalam toko tersebut.“Haduh, lain yang jatuh cinta, lain yang repot. Gini banget ya, kalau cowok baru ngerasain jatuh cinta setelah sekian lamanya dia mati rasa akan yang namanya cinta,” gerutu Arga begitu memasuki toko kue langganannya.Begitu ia berdiri di depan etalase yang menyuguhkan banyaknya pilihan kue, Arga mengeluarkan ponselnya dari dalam saku jaket dan membuka ruang obrolannya dengan Sagara.Sagara : “Cariin kue yang menyimbolkan keromantisan, tapi jangan terlalu alay, kalau bisa yang sederhana aja gitu, tapi keliatan elegan dan mewah.” Begitulah isi pesan dari Sagara yang dikirimkan dari jam 6 pagi tadi. Ya, itu terlalu pagi.Setelah membaca pesan tersebut untuk yang kedua kalinya, Arga hanya mampu memutar mata jengah dan menghembuskan napasnya dengan kasar.“Sederhana tapi keliatan mewah, gima






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
ความคิดเห็น