Sejak hari itu, duniaku akhirnya kembali tenang.Luka tembak Franklin sangat parah, tetapi pemulihannya berjalan dengan sangat baik.Selama dia dirawat di rumah sakit, aku selalu menemaninya tanpa beranjak sedikit pun, sama seperti dulu aku menjaga Arthur berkali-kali.Namun, rasanya tetap berbeda.Saat dia tak sadarkan diri, dia akan tanpa sadar menggenggam erat tanganku. Setelah sadar, hal pertama yang dia tanyakan adalah apakah aku ketakutan. Dia tidak pernah menyebut Arthur, juga tidak pernah menyinggung masa lalu. Dia hanya menemaniku dengan tenang, seolah-olah ingin menggunakan kelembutannya untuk menarikku sedikit demi sedikit keluar dari mimpi buruk tujuh tahun itu.Aku mulai berpikir, mungkin aku juga bisa mencoba berjalan menuju tempat yang penuh cahaya.Aku kira setelah hari itu, Arthur akhirnya akan memahami ketegasanku dan tidak akan pernah muncul lagi.Namun, setengah bulan kemudian, pada suatu malam hujan, dia datang lagi.Kali ini, tidak ada iring-iringan mobil, tidak a
Read more