Share

Dia Gampang Dibujuk
Dia Gampang Dibujuk
Author: Tujuh

Bab 1

Author: Tujuh
Pesan yang kukirim untuk meminta putus tidak mendapat balasan, seolah-olah tenggelam begitu saja tanpa jejak.

Justru Bella yang langsung mengirimkan sebuah video.

Di dalam video itu, terlihat sebuah klub pribadi yang ramai. Beberapa bawahan yang dekat dengan Arthur sedang bersorak dan menggoda.

"Bos, Valerie sudah mencintaimu selama delapan tahun, tapi malah berani minta putus? Jangan-jangan dia serius?"

Arthur memainkan dadu di tangannya. Nadanya terdengar santai dan tidak terlalu peduli ketika membalas, "Dia cuma ngambek, ingin memaksaku pulang menemaninya saja."

"Sebenarnya aku berniat minum sebentar lalu pulang. Tapi makin dia bersikap seperti ini, makin aku nggak mau memanjakannya. Biarkan dia menenangkan diri dulu selama beberapa hari."

Sambil berbicara, Arthur menyodorkan segelas anggur ke bibir Bella. "Coba ini. Hari ini baru diterbangkan langsung, rasanya lumayan."

Bella tersenyum, lalu meminum anggur itu sambil mengikuti arah tangan Arthur.

Para orang kepercayaannya saling bertukar pandang dengan senyum penuh makna.

"Lagian Valerie cuma wanita yang kamu asal cari untuk menghadapi keluarga. Lebih baik putus saja."

"Benar. Siapa sih yang nggak tahu, orang yang paling disayang Bos tetap Nona Bella? Orang lain sama sekali nggak punya kesempatan ikut campur."

"Kalau menurutku, kalian berdua benar-benar pasangan yang serasi."

Arthur mengerutkan kening, seolah-olah ingin membantah. Hanya saja, dia malah disela oleh Bella.

Dengan nada manja, wanita itu menepuk ringan lengan Arthur.

"Apa yang kalian bicarakan? Kak Arthur, cepat pergi bujuk Valerie. Nanti, orang-orang malah mengira aku yang menyebabkan kalian bertengkar."

Sudut bibir Arthur terangkat sedikit. Dia melirik wallpaper ponselnya yang menampilkan diriku. "Tenang saja. Dia itu gampang banget dibujuknya."

Aku menonton video itu tanpa ekspresi, tetapi di dalam dadaku terasa dingin dan berat.

Aku teringat saat pertama kali bertemu dengan Arthur, diriku masih belum tahu bahwa dia adalah pewaris keluarga mafia.

Malam itu hujan turun deras. Aku salah belok dan tanpa sengaja masuk ke sebuah gang sempit, lalu tiba-tiba dikepung oleh suara tembakan, kekerasan, dan bau darah.

Sebuah peluru memelesat melewati telingaku. Aku ingin lari, tetapi kakiku sama sekali tidak bisa digerakkan.

Kemudian, Arthur muncul. Dia berdiri di depanku, lalu menggunakan punggungnya yang tegap untuk menahan semua bahaya.

Saat menyadari tubuhku gemetar, Arthur menggenggam tanganku dengan lembut dan menyalurkan kehangatan tubuhnya. "Jangan takut. Aku akan melindungimu."

Perlahan, suara tembakan dan jeritan menghilang dari pandanganku.

Ketika aku tersadar dan ingin mengucapkan terima kasih, Arthur sudah lenyap bagaikan hantu.

Sejak malam itu, aku tidak bisa lagi menahan perasaanku terhadap Arthur. Saat tidur pada malam hari, aku terkurung dalam pelukan lengan Arthur yang hangat di dalam mimpiku. Di siang hari ketika membaca buku, tanpa sadar pena di tanganku menggambar wajah samping Arthur yang tegas dan tampan ....

Sebulan kemudian, seolah-olah digerakkan oleh sesuatu yang tak terlihat, aku kembali berbelok ke gang itu. Di sana, aku melihat Arthur bersimbah darah. Dia duduk dan bersandar di dinding sambil terengah-engah.

Aku menangis ketika berlari ke sisi Arthur dan bertanya apa yang bisa kulakukan untuk menolongnya.

"Kenapa kamu gampang sekali menangis?" tanya Arthur sambil mendekat. Tangannya menyibakkan rambutku yang basah oleh hujan. "Tolong aku satu hal. Bawa aku ke rumahmu dan sembunyikan aku."

Saat tenggelam dalam tatapan mata Arthur yang dalam, aku benar-benar yakin bahwa aku telah melangkah ke dalam dunia yang tak bisa kutinggalkan lagi.

Tanpa perlu banyak kata di antara kami, aku menyerahkan diriku pada Arthur dan menjadi satu-satunya kekasih di sisinya.

Hingga setahun yang lalu, ketika berada dalam keadaan setengah sadar di atas ranjang, Arthur tanpa sengaja memanggil satu nama. "Bella."

Seluruh darah di tubuhku terasa membeku.

Keesokan harinya, Arthur mengenakan sebuah gelang batu permata bernilai fantastis di pergelangan tanganku, lalu mengecup ujung jariku dengan lembut. "Jangan berpikir macam-macam. Bella cuma adik angkatku kok. Sudah lama nggak bertemu dengannya, jadi aku sedikit merindukannya."

Melihat lingkar hitam pekat di bawah mata Arthur, hatiku pun melunak.

Bagaimanapun, Arthur memang benar-benar memperlakukanku dengan baik.

Di malam musim dingin yang dingin, Arthur akan memasukkan tanganku ke dalam mantel panjangnya untuk menghangatkanku. Ketika kakiku terkilir karena salah langkah, selama berminggu-minggu dia akan menggendongku naik turun tangga. Setiap kali aku menstruasi, selalu ada secangkir cokelat panas yang sudah dia siapkan di samping ranjang ....

Aku pernah berpikir bahwa akulah wanita yang akan menemaninya sampai akhir.

Namun setengah tahun lalu, adik angkat Arthur, Bella, yang sebelumnya dikirimnya ke luar negeri untuk dilindungi telah kembali.

Bella menggandeng lengan Arthur. Dia memiringkan kepala sambil menatapku lama, lalu akhirnya tersenyum polos.

"Kak Arthur, kenapa kamu mencari kakak ipar yang wajahnya mirip sekali denganku?"

Pada saat itulah aku akhirnya menghadapi kebenaran yang kejam.

Sejak kecil, yang bertubuh lemah dan tidak tahan dingin adalah Bella. Yang sering terkilir karena memakai sepatu hak tinggi juga Bella. Bahkan, cokelat panas itu pun adalah merek favorit Bella.

Ternyata semua cinta yang selama ini diam-diam kunikmati dan kenang setiap malam di dalam selimut, semuanya adalah milik Bella. Aku hanya meminjamnya.

Arthur pernah berjanji padaku.

"Valerie, setelah semua musuh yang mengincarku disingkirkan, aku akan memberimu pernikahan besar yang akan membuat dunia tercengang."

"Kamu menyukai rasa seremoni. Mulai sekarang, setiap hari Valentine aku akan selalu merayakannya bersamamu."

Sekarang, Arthur sudah tidak punya musuh lagi, tetapi kabar tentang persiapan pernikahan tak pernah kunjung ada.

Arthur sudah melupakan janjinya dan aku pun tidak perlu mengingatnya lagi.

Sebab, aku juga akan pergi.
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Dia Gampang Dibujuk   Bab 8

    Sejak hari itu, duniaku akhirnya kembali tenang.Luka tembak Franklin sangat parah, tetapi pemulihannya berjalan dengan sangat baik.Selama dia dirawat di rumah sakit, aku selalu menemaninya tanpa beranjak sedikit pun, sama seperti dulu aku menjaga Arthur berkali-kali.Namun, rasanya tetap berbeda.Saat dia tak sadarkan diri, dia akan tanpa sadar menggenggam erat tanganku. Setelah sadar, hal pertama yang dia tanyakan adalah apakah aku ketakutan. Dia tidak pernah menyebut Arthur, juga tidak pernah menyinggung masa lalu. Dia hanya menemaniku dengan tenang, seolah-olah ingin menggunakan kelembutannya untuk menarikku sedikit demi sedikit keluar dari mimpi buruk tujuh tahun itu.Aku mulai berpikir, mungkin aku juga bisa mencoba berjalan menuju tempat yang penuh cahaya.Aku kira setelah hari itu, Arthur akhirnya akan memahami ketegasanku dan tidak akan pernah muncul lagi.Namun, setengah bulan kemudian, pada suatu malam hujan, dia datang lagi.Kali ini, tidak ada iring-iringan mobil, tidak a

  • Dia Gampang Dibujuk   Bab 7

    Ucapan Bella yang mengatakan "kami sudah memaafkanmu" membuatku seketika tertawa.Tawa itu sangat pelan, tetapi wajah Arthur menjadi semakin suram."Apa yang kamu tertawakan?""Aku mentertawakan diriku sendiri, Arthur." Aku menghentikan tawa, mengangkat kepala. Nada suaraku dingin. "Aku mentertawakan diriku sendiri karena butuh tujuh tahun untuk akhirnya melihat dengan jelas, kamu itu pria seperti apa."Aku maju satu langkah, menatap langsung ke matanya, lalu berkata kata demi kata."Kamu bilang aku adalah kekasihmu? Ternyata kamu juga tahu aku ini kekasihmu.""Pada Hari Valentine itu, hanya karena satu kalimat kesepian darinya, kamu meninggalkanku begitu saja, membiarkanku menunggu sendirian di rumah semalaman. Saat itu, apa kamu menganggapku kekasihmu?""Saat aku diserang, terbaring penuh luka di ranjang rumah sakit, kamu bilang akan pergi mengurus pengkhianat untukku, tapi malah terbang ke Parisa menemani dia menonton peragaan busana. Saat itu, apa kamu menganggapku kekasihmu?""Sek

  • Dia Gampang Dibujuk   Bab 6

    "Nggak apa-apa."Aku menenangkan Lindsay dengan beberapa kalimat, mengatakan padanya bahwa aku hanya keluar untuk menenangkan pikiran dan akan menghubunginya lagi setelah beberapa waktu.Setelah memutus panggilan video, aku menatap ke luar jendela, ke arah malam yang tenang di kota kecil itu. Namun, hatiku sama sekali tidak tenang.Aku tahu, dengan cara-cara Arthur, menemukanku di sini hanyalah soal waktu.Benar saja, sebulan kemudian, dia datang.Sore itu, matahari tidak terlalu terik. Aku mengenakan celemek, berdiri di depan toko sambil merawat satu pot bunga hortensia yang baru tiba. Sebuah iring-iringan mobil hitam berhenti di ujung jalan, tampak sama sekali tidak selaras dengan suasana santai di sekitarnya.Pintu mobil depan terbuka. Arthur turun dari dalam mobil.Dia mengenakan setelan jas custom yang pas, rambutnya tersisir rapi tanpa cela. Penampilannya tak jauh berbeda dari sebulan lalu, tetapi di balik matanya ada kelelahan dan semburat merah yang belum pernah kulihat sebelum

  • Dia Gampang Dibujuk   Bab 5

    Aku pergi ke negara lain. Dengan kesombongan Arthur, kupikir dia tidak akan pernah menghubungiku lagi.Kami akan benar-benar menghilang dari dunia satu sama lain.Tak kusangka, seminggu kemudian dia mengirimkan satu pesan.[Valerie, kamu di mana? Setelah merenungkan kesalahanmu, kembalilah. Pernikahan kita sudah siap.]Aku menatap pesan di layar, lalu perlahan mengetik satu baris kata. Setiap kata membawa ketegasan yang dingin.[Arthur, kita sudah putus. Aku sudah pergi dan nggak akan lagi mengganggumu dan adik angkatmu.]Aku sama sekali tidak menyangka Arthur akan menghubungiku lebih dulu. Bahkan setelah aku mengatakan hal seperti itu, dia masih membombardirku dengan pesan.Aku menatap layar yang penuh dengan deretan kata, tanpa membalas satu pun.Tak lama kemudian, panggilannya langsung masuk.Aku melihat nama yang begitu familier menyala di layar.Tanpa ragu sedikit pun, aku langsung menolak, memblokir, dan menghapus kontak.Hubungan kami benar-benar sudah berakhir.Ucapan "jangan b

  • Dia Gampang Dibujuk   Bab 4

    Sejak hari itu, Arthur tidak pernah pulang ke rumah lagi.Itu memang cara yang biasa pria itu gunakan.Arthur memakai sikap dingin dan mengabaikan untuk membuatku hancur perlahan di tengah rasa curiga dan keraguan pada diri sendiri.Setelah itu, Arthur akan muncul kembali, lalu mengucapkan beberapa kata manis dengan santai dan kami pun berdamai seperti semula.Dulu aku selalu mengalah karena aku masih mencintainya.Sekarang, aku sudah tidak peduli lagi.Aku mulai membereskan barang-barang. Di vila pribadi Arthur, semua yang terlihat adalah barang-barang mewah yang dia beli. Yang benar-benar milikku hanyalah beberapa set pakaian ganti.Baru saat itu aku menyadari, aku sudah terlalu lama berputar di sekeliling Arthur.Keesokan harinya, aku kembali ke markas besar keluarga dan menyerahkan surat pengunduran diri.Aku memutuskan keluar dari keluarga, juga melepaskan semua jabatan dan kekuasaan yang kumiliki saat ini.Yang menangani serah terima adalah sahabat baikku, Lindsay.Begitu melihat

  • Dia Gampang Dibujuk   Bab 3

    Ekspresi Bella terlihat mengejek, seakan-akan sedang menonton sebuah pertunjukan yang seru.Wanita itu sedang menungguku runtuh dan kehilangan kendali, seperti yang selalu terjadi sebelumnya.Memang, aku sudah berkali-kali hancur karena dirinya.Pada hari peringatan hubungan kami, hanya dengan satu panggilan dari Bella, Arthur bisa meninggalkanku begitu saja untuk menemaninya balapan.Saat aku diserang dan terluka, bahkan terbaring di ranjang rumah sakit, Arthur bilang ingin membantuku menyingkirkan para pengkhianat, tetapi dia justru terbang ke Parisa untuk menemani Bella menonton peragaan busana.Aku pernah menjerit histeris untuk menuntut penjelasan, juga pernah merendahkan diri untuk memohon agar Arthur tetap tinggal.Hanya saja, yang selalu kudapat hanyalah satu kalimat dingin yang sama. "Jangan ribut. Aku dan dia cuma kakak beradik."Aku menarik napas dalam-dalam untuk menekan emosi yang bergolak, lalu berbalik dan hendak pergi.Akan tetapi, Arthur malah mengerutkan kening dan me

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status