Share

Bab 2

Author: Tujuh
Pukul 12 malam, Arthur masih belum pulang juga.

Aku tidak bisa tidur semalaman, sampai akhirnya mendengar suara aktivitas dari dapur di lantai bawah.

Arthur sudah kembali. Dia menggulung lengan kemejanya sampai ke siku. Pria itu memperlihatkan lengan bawahnya yang kekar, lalu memasukkan kembali steik yang kubuat untuknya semalam, yang sudah lama dingin itu, ke dalam wajan.

"Hari ini, mari kita rayakan hari Valentine sebagai pengganti."

Arthur memotong sepotong kecil steik dan memasukkannya ke mulut, tanpa menunjukkan sedikit pun ekspresi jijik.

Aku terbelalak.

Arthur sangat perfeksionis soal makanan. Dia tidak pernah menyentuh sisa makanan, apalagi steik yang sudah ditinggal semalaman.

Aku berjalan dua langkah ke arahnya, tetapi justru bertemu dengan tatapannya yang penuh kepuasan.

Cahaya di mataku pun padam. Aku sudah mengerti sekarang. Di matanya, melanggar kebiasaan demi diriku sudah dianggap sebagai cara membujukku. Menurutnya, dengan begitu aku seharusnya tidak akan ngambek lagi.

Sebelumnya, cara ini selalu berhasil. Namun, kali ini aku hanya menggeleng pelan. "Nggak perlu."

Luka sudah terlanjur tercipta. Sebesar apa pun usaha untuk menebusnya, luka di hatiku tetap tidak bisa dipulihkan.

Alis Arthur sedikit berkerut. Dia dengan santai mendorong sebuah kotak beludru ke hadapanku. "Ini hadiah hari Valentine untukmu. Soal kejadian semalam, kita anggap selesai sampai di sini."

Aku menatap kotak itu, tetapi tidak membukanya.

Arthur sendiri yang membukanya. Di dalamnya, ada sepasang anting berlian yang berkilauan.

Sudah tujuh tahun. Arthur memberiku tak terhitung banyaknya perhiasan mahal, tetapi tetap tidak pernah mengerti apa yang benar-benar kupedulikan.

Aku menatap kalung itu dengan diam, tanpa berkata apa pun.

Di mata Arthur, perlahan muncul rasa tidak sabar, tetapi nada suaranya sengaja diperlunak, seolah-olah sedang membujuk anak kecil yang sedang merajuk.

"Jangan ngambek lagi, Sayang."

Arthur memasukkan kotak itu ke tanganku. "Terima saja, lalu berhenti memasang ekspresi seolah-olah kamu diperlakukan sangat nggak adil. Harganya cukup mahal untuk membuat wanita mana pun tersenyum."

"Bahkan, Bella yang menyarankanku pakai perhiasan ini untuk membujukmu, tapi kamu malah terus cemburu padanya. Jadi, jangan bilang hal-hal yang menyakitkan lagi ya?"

Ternyata begitu.

Ternyata, bahkan penebusan yang datang terlambat ini pun diberikan kepadaku karena ucapan Bella.

"Arthur, aku serius." Aku berucap perlahan, "Kita ...."

Putus saja. Lepaskan aku, biarkan aku pergi.

Namun, kalimat itu terputus oleh dering ponsel Arthur.

"Bella?" Nada Arthur seketika berubah lembut. Seluruh perhatiannya langsung teralihkan. "Oke, aku segera ke sana."

Arthur menutup telepon, lalu berhenti sejenak dan menatapku dari atas ke bawah.

"Yang nurut ya, jangan marah lagi. Di tempat Bella ada urusan mendesak. Aku pergi sebentar, nanti aku akan kembali."

Seperti sudah tak terhitung berapa kali sebelumnya, Arthur meninggalkan janji kosong itu dan berbalik pergi dengan langkah besar.

Kali ini, aku tidak lagi menatap punggung Arthur.

Aku mengeluarkan ponsel lain dan menekan sebuah nomor.

Panggilan itu segera terhubung. Dari seberang, terdengar suara yang sudah lama tidak kudengar.

"Sudah dipikirkan matang-matang?"

"Ya." Aku menatap ke luar jendela. Suaraku sangat pelan ketika menambahkan, "Datanglah dan jemput aku."

Setelah menutup telepon, aku berganti pakaian. Menjelang malam, aku pergi sendirian ke klub pribadi paling tersembunyi di pusat kota.

Orang-orang yang dikirim sudah menungguku di sana. Mereka siap mengatur segala hal agar aku bisa melepaskan diri dari keluarga dan pergi dengan bersih.

Namun, begitu aku melangkah ke lorong khusus VIP di belakang panggung, aku melihat Arthur dan Bella di depan pintu sebuah ruang VIP yang setengah terbuka.

Mereka duduk berdampingan di sebuah sofa beludru, bahkan sangat berdekatan.

Meja di depan mereka dipenuhi hidangan favorit Bella. Wanita itu tersenyum sambil menyendokkan sesendok sup ke bibir Arthur.

"Ini enak, Kak Arthur. Aku bagi satu suap."

Arthur tetap tidak menolak.

Melihatnya langsung dengan mata kepala sendiri terasa jauh lebih menyakitkan daripada foto. Kakiku goyah. Akhirnya, aku terhuyung menabrak pintu di samping, seolah-olah seluruh tenagaku sudah terkuras habis.

Mendengar suara itu, Bella mendongak dan melihatku berdiri di luar pintu. Kemudian, dia tersenyum sembari mendorong Arthur pelan.
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Dia Gampang Dibujuk   Bab 8

    Sejak hari itu, duniaku akhirnya kembali tenang.Luka tembak Franklin sangat parah, tetapi pemulihannya berjalan dengan sangat baik.Selama dia dirawat di rumah sakit, aku selalu menemaninya tanpa beranjak sedikit pun, sama seperti dulu aku menjaga Arthur berkali-kali.Namun, rasanya tetap berbeda.Saat dia tak sadarkan diri, dia akan tanpa sadar menggenggam erat tanganku. Setelah sadar, hal pertama yang dia tanyakan adalah apakah aku ketakutan. Dia tidak pernah menyebut Arthur, juga tidak pernah menyinggung masa lalu. Dia hanya menemaniku dengan tenang, seolah-olah ingin menggunakan kelembutannya untuk menarikku sedikit demi sedikit keluar dari mimpi buruk tujuh tahun itu.Aku mulai berpikir, mungkin aku juga bisa mencoba berjalan menuju tempat yang penuh cahaya.Aku kira setelah hari itu, Arthur akhirnya akan memahami ketegasanku dan tidak akan pernah muncul lagi.Namun, setengah bulan kemudian, pada suatu malam hujan, dia datang lagi.Kali ini, tidak ada iring-iringan mobil, tidak a

  • Dia Gampang Dibujuk   Bab 7

    Ucapan Bella yang mengatakan "kami sudah memaafkanmu" membuatku seketika tertawa.Tawa itu sangat pelan, tetapi wajah Arthur menjadi semakin suram."Apa yang kamu tertawakan?""Aku mentertawakan diriku sendiri, Arthur." Aku menghentikan tawa, mengangkat kepala. Nada suaraku dingin. "Aku mentertawakan diriku sendiri karena butuh tujuh tahun untuk akhirnya melihat dengan jelas, kamu itu pria seperti apa."Aku maju satu langkah, menatap langsung ke matanya, lalu berkata kata demi kata."Kamu bilang aku adalah kekasihmu? Ternyata kamu juga tahu aku ini kekasihmu.""Pada Hari Valentine itu, hanya karena satu kalimat kesepian darinya, kamu meninggalkanku begitu saja, membiarkanku menunggu sendirian di rumah semalaman. Saat itu, apa kamu menganggapku kekasihmu?""Saat aku diserang, terbaring penuh luka di ranjang rumah sakit, kamu bilang akan pergi mengurus pengkhianat untukku, tapi malah terbang ke Parisa menemani dia menonton peragaan busana. Saat itu, apa kamu menganggapku kekasihmu?""Sek

  • Dia Gampang Dibujuk   Bab 6

    "Nggak apa-apa."Aku menenangkan Lindsay dengan beberapa kalimat, mengatakan padanya bahwa aku hanya keluar untuk menenangkan pikiran dan akan menghubunginya lagi setelah beberapa waktu.Setelah memutus panggilan video, aku menatap ke luar jendela, ke arah malam yang tenang di kota kecil itu. Namun, hatiku sama sekali tidak tenang.Aku tahu, dengan cara-cara Arthur, menemukanku di sini hanyalah soal waktu.Benar saja, sebulan kemudian, dia datang.Sore itu, matahari tidak terlalu terik. Aku mengenakan celemek, berdiri di depan toko sambil merawat satu pot bunga hortensia yang baru tiba. Sebuah iring-iringan mobil hitam berhenti di ujung jalan, tampak sama sekali tidak selaras dengan suasana santai di sekitarnya.Pintu mobil depan terbuka. Arthur turun dari dalam mobil.Dia mengenakan setelan jas custom yang pas, rambutnya tersisir rapi tanpa cela. Penampilannya tak jauh berbeda dari sebulan lalu, tetapi di balik matanya ada kelelahan dan semburat merah yang belum pernah kulihat sebelum

  • Dia Gampang Dibujuk   Bab 5

    Aku pergi ke negara lain. Dengan kesombongan Arthur, kupikir dia tidak akan pernah menghubungiku lagi.Kami akan benar-benar menghilang dari dunia satu sama lain.Tak kusangka, seminggu kemudian dia mengirimkan satu pesan.[Valerie, kamu di mana? Setelah merenungkan kesalahanmu, kembalilah. Pernikahan kita sudah siap.]Aku menatap pesan di layar, lalu perlahan mengetik satu baris kata. Setiap kata membawa ketegasan yang dingin.[Arthur, kita sudah putus. Aku sudah pergi dan nggak akan lagi mengganggumu dan adik angkatmu.]Aku sama sekali tidak menyangka Arthur akan menghubungiku lebih dulu. Bahkan setelah aku mengatakan hal seperti itu, dia masih membombardirku dengan pesan.Aku menatap layar yang penuh dengan deretan kata, tanpa membalas satu pun.Tak lama kemudian, panggilannya langsung masuk.Aku melihat nama yang begitu familier menyala di layar.Tanpa ragu sedikit pun, aku langsung menolak, memblokir, dan menghapus kontak.Hubungan kami benar-benar sudah berakhir.Ucapan "jangan b

  • Dia Gampang Dibujuk   Bab 4

    Sejak hari itu, Arthur tidak pernah pulang ke rumah lagi.Itu memang cara yang biasa pria itu gunakan.Arthur memakai sikap dingin dan mengabaikan untuk membuatku hancur perlahan di tengah rasa curiga dan keraguan pada diri sendiri.Setelah itu, Arthur akan muncul kembali, lalu mengucapkan beberapa kata manis dengan santai dan kami pun berdamai seperti semula.Dulu aku selalu mengalah karena aku masih mencintainya.Sekarang, aku sudah tidak peduli lagi.Aku mulai membereskan barang-barang. Di vila pribadi Arthur, semua yang terlihat adalah barang-barang mewah yang dia beli. Yang benar-benar milikku hanyalah beberapa set pakaian ganti.Baru saat itu aku menyadari, aku sudah terlalu lama berputar di sekeliling Arthur.Keesokan harinya, aku kembali ke markas besar keluarga dan menyerahkan surat pengunduran diri.Aku memutuskan keluar dari keluarga, juga melepaskan semua jabatan dan kekuasaan yang kumiliki saat ini.Yang menangani serah terima adalah sahabat baikku, Lindsay.Begitu melihat

  • Dia Gampang Dibujuk   Bab 3

    Ekspresi Bella terlihat mengejek, seakan-akan sedang menonton sebuah pertunjukan yang seru.Wanita itu sedang menungguku runtuh dan kehilangan kendali, seperti yang selalu terjadi sebelumnya.Memang, aku sudah berkali-kali hancur karena dirinya.Pada hari peringatan hubungan kami, hanya dengan satu panggilan dari Bella, Arthur bisa meninggalkanku begitu saja untuk menemaninya balapan.Saat aku diserang dan terluka, bahkan terbaring di ranjang rumah sakit, Arthur bilang ingin membantuku menyingkirkan para pengkhianat, tetapi dia justru terbang ke Parisa untuk menemani Bella menonton peragaan busana.Aku pernah menjerit histeris untuk menuntut penjelasan, juga pernah merendahkan diri untuk memohon agar Arthur tetap tinggal.Hanya saja, yang selalu kudapat hanyalah satu kalimat dingin yang sama. "Jangan ribut. Aku dan dia cuma kakak beradik."Aku menarik napas dalam-dalam untuk menekan emosi yang bergolak, lalu berbalik dan hendak pergi.Akan tetapi, Arthur malah mengerutkan kening dan me

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status