Share

Bab 4

Author: Tujuh
Sejak hari itu, Arthur tidak pernah pulang ke rumah lagi.

Itu memang cara yang biasa pria itu gunakan.

Arthur memakai sikap dingin dan mengabaikan untuk membuatku hancur perlahan di tengah rasa curiga dan keraguan pada diri sendiri.

Setelah itu, Arthur akan muncul kembali, lalu mengucapkan beberapa kata manis dengan santai dan kami pun berdamai seperti semula.

Dulu aku selalu mengalah karena aku masih mencintainya.

Sekarang, aku sudah tidak peduli lagi.

Aku mulai membereskan barang-barang. Di vila pribadi Arthur, semua yang terlihat adalah barang-barang mewah yang dia beli. Yang benar-benar milikku hanyalah beberapa set pakaian ganti.

Baru saat itu aku menyadari, aku sudah terlalu lama berputar di sekeliling Arthur.

Keesokan harinya, aku kembali ke markas besar keluarga dan menyerahkan surat pengunduran diri.

Aku memutuskan keluar dari keluarga, juga melepaskan semua jabatan dan kekuasaan yang kumiliki saat ini.

Yang menangani serah terima adalah sahabat baikku, Lindsay.

Begitu melihat surat pengunduran diriku, ekspresi Lindsay langsung menunjukkan keterkejutan. Segera setelah itu, dia tersenyum.

"Valerie, akhirnya kamu mau jadi pengantin dan bersiap pensiun?"

Aku menatapnya dengan bingung. "Apa maksudmu?"

Dengan gembira, Lindsay menepuk bahuku. "Nggak usah sembunyi dariku! Beberapa hari lalu, aku mendengar dari tangan kanan Bos bahwa dia sudah memesan aula pesta hotel yang paling mewah dan ingin memberimu pernikahan paling megah!"

"Valerie, selamat ya! Setelah bertahun-tahun, akhirnya pengorbananmu nggak sia-sia!"

Aku terdiam membeku.

Pikiranku kacau balau.

Pernikahan yang kutunggu selama tujuh tahun itu ternyata memang masih Arthur ingat.

Namun, sekarang aku sudah tidak tahu lagi apakah aku harus merasa senang atau justru sedih.

Aku tidak mengatakan apa pun dan hanya menandatangani semua dokumen serah terima.

Berhubung kabar tentang pernikahan itu membuat pikiranku kalut, malam itu juga aku mengajak beberapa teman terdekat ke bar yang biasa kami datangi untuk minum.

Saat bubar, dalam keadaan setengah mabuk, aku berjalan melewati lorong dan tanpa sengaja mendengar suara yang sangat kukenal.

Dari ruang cerutu yang pintunya setengah terbuka, terdengar suara tangan kanan Arthur yang penuh ketidakpercayaan.

"Bos, kamu benar-benar akan menikah dengan Nona Bella? Terus, gimana dengan Valerie?"

"Valerie sudah mengikutimu selama tujuh tahun. Dia sudah banyak berkorban .... Dia juga terus menunggu sebuah pernikahan .... Kalau sampai dia tahu ...."

Arthur menjepit cerutu di antara jarinya. Suaranya mengandung emosi yang rumit.

"Aku tahu Valerie sudah banyak berkorban."

"Tapi kemarin, Bella diserang sama musuh. Dia bilang dia sangat ketakutan. Dia takut kalau suatu hari benar-benar terjadi sesuatu padanya, dia akan sangat menyesal karena bahkan belum pernah merasakan pernikahan impian."

"Aku nggak sanggup menolak permintaannya itu."

Arthur terdiam sejenak, lalu berbicara dengan nada tegas yang tak memberi ruang untuk dibantah.

"Biarkan Valerie sedikit berkorban dulu. Tentang pernikahan dengannya, tunda lagi saja untuk sementara."

Aku berdiri kaku di tempat. Dadaku terasa sesak hingga rasanya tidak bisa bernapas.

Jadi, pernikahan itu sebenarnya bukan untukku.

Di hatinya, aku selalu berada setelah Bella.

Aku terhuyung-huyung melarikan diri dari bar, tetapi justru langsung bertemu dengan Bella.

"Valerie? Lihat wajahmu yang seperti mau menangis tapi ditahan-tahan itu, apa kamu sudah tahu soal pernikahan?" Bella akhirnya memperlihatkan watak aslinya yang kejam dan mentertawakanku tanpa ampun. "Kamu nggak mungkin masih berharap pengantinnya adalah dirimu, 'kan? Jangan bikin orang tertawa deh. Wanita sepertimu paling-paling cuma cocok jadi simpanan. Mana mungkin jadi pengantin Arthur?"

"Padahal, kemarin aku cuma asal bilang kalau aku ketakutan karena musuh dan ingin cepat-cepat menikah dengannya, eh dia malah langsung setuju. Lihatlah, selama aku yang minta, dia pasti akan mengabulkan. Memanjakanku sudah jadi naluri Arthur. Dengan apa kamu mau bersaing denganku?"

Wajahku pucat pasti, tetapi aku tetap mengangkat dagu dan menahan agar air mata tidak jatuh.

"Kamu menang. Aku akan bilang pada Arthur bahwa aku akan segera pergi dan merestukan kalian."

Bella mendengus dingin. "Nggak bisa begitu. Kalau kamu pergi dalam kondisi menyedihkan, bukannya Arthur malah akan terus memikirkanmu? Dasar wanita hina! Nggak kusangka kamu masih punya niat buruk seperti itu."

Begitu kata-katanya selesai dilontarkan, Bella tiba-tiba mengeluarkan sebuah pistol dari tas tangannya dan menembak tangki bensin mobil di samping.

Dor! Tangki bensin langsung meledak. Bersamaan dengan suara ledakan yang menggelegar, dinding dekorasi di luar bar hancur. Pecahan dan asap beterbangan ke mana-mana.

Aku terhempas ke jalan oleh reruntuhan. Pada saat yang sama, pistol itu dipaksa masuk ke tanganku.

Saat berikutnya, Bella menjatuhkan diri ke jalan dan mulai menangis meraung-raung.

"Kak Valerie, tolong jangan bunuh aku! Aku nggak akan lagi berebut kasih sayang Kak Arthur denganmu! Tolong jangan sakiti aku!"

Arthur langsung berlari keluar.

Yang dilihatnya adalah aku memegang pistol dengan cahaya api yang belum sepenuhnya padam di belakangku.

Sementara itu, Bella memeluk lengannya yang berlumuran darah dan meringkuk di jalan sambil gemetar.

Raut wajah Arthur berubah kelam. Dia menyingkirkan pistol itu dari tanganku, lalu memarahi, "Valerie, apa yang kamu lakukan? Kamu sudah gila ya? Cuma karena berebut perhatian, kamu sampai mau membunuh Bella?"

"Bukan aku!" Suaraku gemetar, bahkan hampir menangis karena panik. "Dia yang menyelipkan pistol itu ke tanganku! Dia menjebakku!"

Namun di tengah kobaran api dan noda darah, pembelaanku terdengar sangat lemah.

Bella menangis histeris.

"Sudah kubilang aku rela menyerahkan pernikahan padanya, tapi dia tetap ingin membunuhku! Kak Arthur, dia benar-benar menginginkan nyawaku!"

Suara Arthur terdengar berat. Sorot matanya penuh rasa sakit dan kekecewaan.

"Valerie, aku selalu mengira kamu adalah orang yang paling membuatku tenang. Tapi sekarang, aku nggak tahu lagi harus gimana memercayaimu."

Setelah itu, Arthur menggendong Bella dan berjalan pergi selangkah demi selangkah.

Tubuhku juga tergores oleh serpihan yang beterbangan. Rasa sakitnya menusuk hingga ke tulangku.

Hanya saja, rasa sakit itu sama sekali tidak sebanding dengan robekan di dalam hatiku.

Aku membuka mulut, tetapi dari tenggorokanku hanya keluar suara terputus-putus. "Bukan aku ... benaran bukan aku ...."

Air mata mengaburkan pandanganku. Dunia terasa runtuh seketika dan menekanku sampai hampir tidak bisa bernapas.

Dengan sisa tenaga terakhir, aku berbalik dengan langkah terhuyung-huyung dan berjalan ke arah berlawanan.

Sebuah taksi menuju bandara berhenti di depanku. Aku menyeret tubuhku yang kelelahan ke dalam taksi, lalu bersandar di kursi dan memejamkan mata.

Sopir taksi melirikku dari kaca spion. Dia ragu-ragu sebelum berbicara, "Nona, kamu adalah penumpang beruntung ke-50 hari ini. Kamu berhak mendapatkan kupon diskon taksi untuk perjalanan berikutnya. Apa kamu mau?"

Aku menggeleng pelan. Suaraku serak tetapi mantap.

"Nggak perlu .... Aku nggak akan pernah kembali ke kota ini lagi."
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Dia Gampang Dibujuk   Bab 8

    Sejak hari itu, duniaku akhirnya kembali tenang.Luka tembak Franklin sangat parah, tetapi pemulihannya berjalan dengan sangat baik.Selama dia dirawat di rumah sakit, aku selalu menemaninya tanpa beranjak sedikit pun, sama seperti dulu aku menjaga Arthur berkali-kali.Namun, rasanya tetap berbeda.Saat dia tak sadarkan diri, dia akan tanpa sadar menggenggam erat tanganku. Setelah sadar, hal pertama yang dia tanyakan adalah apakah aku ketakutan. Dia tidak pernah menyebut Arthur, juga tidak pernah menyinggung masa lalu. Dia hanya menemaniku dengan tenang, seolah-olah ingin menggunakan kelembutannya untuk menarikku sedikit demi sedikit keluar dari mimpi buruk tujuh tahun itu.Aku mulai berpikir, mungkin aku juga bisa mencoba berjalan menuju tempat yang penuh cahaya.Aku kira setelah hari itu, Arthur akhirnya akan memahami ketegasanku dan tidak akan pernah muncul lagi.Namun, setengah bulan kemudian, pada suatu malam hujan, dia datang lagi.Kali ini, tidak ada iring-iringan mobil, tidak a

  • Dia Gampang Dibujuk   Bab 7

    Ucapan Bella yang mengatakan "kami sudah memaafkanmu" membuatku seketika tertawa.Tawa itu sangat pelan, tetapi wajah Arthur menjadi semakin suram."Apa yang kamu tertawakan?""Aku mentertawakan diriku sendiri, Arthur." Aku menghentikan tawa, mengangkat kepala. Nada suaraku dingin. "Aku mentertawakan diriku sendiri karena butuh tujuh tahun untuk akhirnya melihat dengan jelas, kamu itu pria seperti apa."Aku maju satu langkah, menatap langsung ke matanya, lalu berkata kata demi kata."Kamu bilang aku adalah kekasihmu? Ternyata kamu juga tahu aku ini kekasihmu.""Pada Hari Valentine itu, hanya karena satu kalimat kesepian darinya, kamu meninggalkanku begitu saja, membiarkanku menunggu sendirian di rumah semalaman. Saat itu, apa kamu menganggapku kekasihmu?""Saat aku diserang, terbaring penuh luka di ranjang rumah sakit, kamu bilang akan pergi mengurus pengkhianat untukku, tapi malah terbang ke Parisa menemani dia menonton peragaan busana. Saat itu, apa kamu menganggapku kekasihmu?""Sek

  • Dia Gampang Dibujuk   Bab 6

    "Nggak apa-apa."Aku menenangkan Lindsay dengan beberapa kalimat, mengatakan padanya bahwa aku hanya keluar untuk menenangkan pikiran dan akan menghubunginya lagi setelah beberapa waktu.Setelah memutus panggilan video, aku menatap ke luar jendela, ke arah malam yang tenang di kota kecil itu. Namun, hatiku sama sekali tidak tenang.Aku tahu, dengan cara-cara Arthur, menemukanku di sini hanyalah soal waktu.Benar saja, sebulan kemudian, dia datang.Sore itu, matahari tidak terlalu terik. Aku mengenakan celemek, berdiri di depan toko sambil merawat satu pot bunga hortensia yang baru tiba. Sebuah iring-iringan mobil hitam berhenti di ujung jalan, tampak sama sekali tidak selaras dengan suasana santai di sekitarnya.Pintu mobil depan terbuka. Arthur turun dari dalam mobil.Dia mengenakan setelan jas custom yang pas, rambutnya tersisir rapi tanpa cela. Penampilannya tak jauh berbeda dari sebulan lalu, tetapi di balik matanya ada kelelahan dan semburat merah yang belum pernah kulihat sebelum

  • Dia Gampang Dibujuk   Bab 5

    Aku pergi ke negara lain. Dengan kesombongan Arthur, kupikir dia tidak akan pernah menghubungiku lagi.Kami akan benar-benar menghilang dari dunia satu sama lain.Tak kusangka, seminggu kemudian dia mengirimkan satu pesan.[Valerie, kamu di mana? Setelah merenungkan kesalahanmu, kembalilah. Pernikahan kita sudah siap.]Aku menatap pesan di layar, lalu perlahan mengetik satu baris kata. Setiap kata membawa ketegasan yang dingin.[Arthur, kita sudah putus. Aku sudah pergi dan nggak akan lagi mengganggumu dan adik angkatmu.]Aku sama sekali tidak menyangka Arthur akan menghubungiku lebih dulu. Bahkan setelah aku mengatakan hal seperti itu, dia masih membombardirku dengan pesan.Aku menatap layar yang penuh dengan deretan kata, tanpa membalas satu pun.Tak lama kemudian, panggilannya langsung masuk.Aku melihat nama yang begitu familier menyala di layar.Tanpa ragu sedikit pun, aku langsung menolak, memblokir, dan menghapus kontak.Hubungan kami benar-benar sudah berakhir.Ucapan "jangan b

  • Dia Gampang Dibujuk   Bab 4

    Sejak hari itu, Arthur tidak pernah pulang ke rumah lagi.Itu memang cara yang biasa pria itu gunakan.Arthur memakai sikap dingin dan mengabaikan untuk membuatku hancur perlahan di tengah rasa curiga dan keraguan pada diri sendiri.Setelah itu, Arthur akan muncul kembali, lalu mengucapkan beberapa kata manis dengan santai dan kami pun berdamai seperti semula.Dulu aku selalu mengalah karena aku masih mencintainya.Sekarang, aku sudah tidak peduli lagi.Aku mulai membereskan barang-barang. Di vila pribadi Arthur, semua yang terlihat adalah barang-barang mewah yang dia beli. Yang benar-benar milikku hanyalah beberapa set pakaian ganti.Baru saat itu aku menyadari, aku sudah terlalu lama berputar di sekeliling Arthur.Keesokan harinya, aku kembali ke markas besar keluarga dan menyerahkan surat pengunduran diri.Aku memutuskan keluar dari keluarga, juga melepaskan semua jabatan dan kekuasaan yang kumiliki saat ini.Yang menangani serah terima adalah sahabat baikku, Lindsay.Begitu melihat

  • Dia Gampang Dibujuk   Bab 3

    Ekspresi Bella terlihat mengejek, seakan-akan sedang menonton sebuah pertunjukan yang seru.Wanita itu sedang menungguku runtuh dan kehilangan kendali, seperti yang selalu terjadi sebelumnya.Memang, aku sudah berkali-kali hancur karena dirinya.Pada hari peringatan hubungan kami, hanya dengan satu panggilan dari Bella, Arthur bisa meninggalkanku begitu saja untuk menemaninya balapan.Saat aku diserang dan terluka, bahkan terbaring di ranjang rumah sakit, Arthur bilang ingin membantuku menyingkirkan para pengkhianat, tetapi dia justru terbang ke Parisa untuk menemani Bella menonton peragaan busana.Aku pernah menjerit histeris untuk menuntut penjelasan, juga pernah merendahkan diri untuk memohon agar Arthur tetap tinggal.Hanya saja, yang selalu kudapat hanyalah satu kalimat dingin yang sama. "Jangan ribut. Aku dan dia cuma kakak beradik."Aku menarik napas dalam-dalam untuk menekan emosi yang bergolak, lalu berbalik dan hendak pergi.Akan tetapi, Arthur malah mengerutkan kening dan me

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status