LOGINHatiku sedikit tenggelam, muncul rasa jengah. Kenapa dia membuat dirinya menjadi seperti ini?Awalnya aku ingin langsung memutar arah dan pergi, tetapi sepertinya dia mendengar suara langkah kakiku, lalu tiba-tiba menoleh.Rambut dan bahunya basah oleh hujan. Dia terlihat lebih tirus dan terpuruk dibanding terakhir kali kulihat.Pipinya cekung, matanya dipenuhi urat merah, janggut di dagunya semakin panjang dan berantakan. Seluruh dirinya memancarkan kelelahan, keputusasaan, dan bau alkohol yang menyengat.Hanya saja saat melihatku, sepasang mata yang tadinya mati itu tiba-tiba meledak dengan cahaya yang mengerikan."Yola ...." Suaranya serak hingga nyaris pecah. Dia terhuyung-huyung berdiri, hampir saja terjatuh.Aku menghentikan langkahku.Dia menarik sudut bibirnya, mencoba tersenyum, tetapi ekspresinya lebih menyakitkan daripada menangis."Kamu baru selesai buat eksperimen? Sudah malam begini, capek nggak?""Nggak terlalu." Tatapanku melirik kaleng-kaleng kosong di dekat kakinya. "
Wajahnya kehilangan seluruh warna darah. Bibirnya bergerak beberapa kali, tetapi sulit mengeluarkan suara."Yola ...." Emran bergumam pelan, lalu maju setengah langkah lagi, mengulurkan tangan seakan-akan ingin menyentuhku, tetapi justru membeku di udara."Aku benar-benar sudah sadar aku ini bajingan. Antara aku dan dia nggak ada apa-apa. Setiap hari aku menyesal kenapa aku nggak jujur padamu, kenapa aku sengaja membuatmu marah. Konser itu untuk anniversary ketiga kita. Aku sudah menyiapkan ....""Emran." Aku kembali memotong ucapannya. Kali ini nadaku jelas, tegas, dan tak menyisakan ruang tawar-menawar, sepenuhnya berniat mengusir."Soal urusan masa lalu, entah baik atau buruk, aku nggak ingin membicarakannya lagi. Kebenaran atau kebohongan pun sudah nggak ada hubungannya denganku. Antara kita, semuanya sudah benar-benar berakhir. Tolong jangan datang mencariku lagi. Itu sangat menggangguku."Setelah mengatakan itu, aku tak lagi menoleh pada wajahnya yang seketika memucat atau tubuhn
Musim gugur di Kota Bajira datang dengan cepat. Sejak tiba di Kota Bajira, hidupku pun berubah seperti pergantian musim ini, menjadi lebih jelas dan terang.Kehidupan tahun pertama pascasarjana ternyata lebih sibuk dari yang kubayangkan. Dosen pembimbingku memang tegas, tetapi selalu memisahkan urusan pribadi dan pekerjaan.Selama data eksperimen solid dan alur laporan jelas, dia tidak pernah pelit memberi pengakuan. Hampir seluruh waktuku kuhabiskan di laboratorium dan perpustakaan.Aku juga mulai memiliki lingkaran pergaulan yang baru. Senior-senior satu laboratorium masing-masing punya keanehan sendiri, tetapi kebanyakan tulus dan lugas.Ada seorang kakak kelas bernama Widy yang kepribadiannya blak-blakan. Melihatku selalu sendirian, dia menarikku beberapa kali ke kantin untuk mencoba menu baru, dengan dalih memperbaiki asupan gizi anak penyendiri.Sesekali di akhir pekan, aku akan pergi ke museum bersama Widy atau berjalan-jalan di tepi danau.Kami mengobrol soal perkembangan ekspe
Wajah Nessa langsung pucat. Dia tidak menyangka Emran mengingat semuanya dengan begitu jelas, apalagi menyangka dia akan membongkarnya secara terus terang seperti ini."Kak Emran, aku bukan bermaksud begitu. Aku cuma takut kamu dibohongi sama dia ....""Dibohongi sama dia?" Emran akhirnya duduk tegak, lalu menekan puntung rokok ke asbak dengan gerakan yang penuh amarah."Nessa, kita sudah kenal berapa tahun? Aku selalu menganggapmu sebagai adik, merasa kamu cuma agak keras kepala dan manja. Yola bertengkar denganku sebelas kali, sepuluh kali di antaranya gara-gara kamu. Dulu aku selalu merasa dia berlebihan, merasa kamu itu polos dan nggak punya niat apa-apa."Dia menatap mata Nessa yang semakin lama semakin panik. Kata demi kata keluar dengan jelas dan dingin."Tapi sekarang kalau aku pikir-pikir lagi, ternyata aku memang buta. Setiap kali aku dan dia punya sedikit masalah, kamu selalu muncul di waktu yang tepat. Entah sambil nangis minta aku hibur atau ngomong sesuatu yang bikin dia
Keramaian di ruang VIP bar seperti terhalang oleh lapisan kaca buram yang tebal. Emran bersandar di sudut sofa. Rokok di antara jarinya sudah terbakar setengah, abu memanjang dan menumpuk, tetapi dia sama sekali tidak menyadarinya.Di telinganya terdengar hiruk-pikuk teman-temannya yang minum sambil bersulang dan bermain tebak angka. Juga ada suara Nessa yang manja sedang berbagi cerita soal belanja barang mewah terbaru dengan orang lain, sesekali diselingi tawa centil.Namun, semua suara itu tidak masuk ke kepala Emran. Pandangannya terus tertuju pada layar ponsel.Asisten ayahnya mengirim pesan.[ Maaf, saya juga nggak tahu ke mana Bu Yola pergi. ]Mana mungkin tidak ketemu! Bukannya tidak bisa mencari, mereka hanya tidak mau membantu! Yola jelas-jelas ada di Kota Bajira. Bahkan Emran sendiri yakin Yola pergi ke sana!"Kak Emran, kok minum sendirian?" Di saat Emran semakin kesal, Nessa malah mendekat, membawa aroma parfum yang menyengat. "Jangan kebanyakan minum, nggak baik buat bada
Musik pun mengalun. Mengandalkan ingatan otot, Emran memetik dan bernyanyi. Suaranya tetap disambut tepuk tangan meriah, tetapi pandangannya berulang kali melayang ke kursi kosong itu.Setiap kali lampu meredup lalu menyala kembali, dia berharap saat terang lagi, di sana akan duduk sosok yang dikenalnya.Ketika Nessa muncul sebagai tamu spesial, suasana penonton mencapai puncak. Dia mengenakan gaun yang khusus dipersiapkan Emran untuknya, tersenyum cerah sambil berjalan mendekat, hendak mengait lengannya.Hampir tanpa sadar Emran menghindar. Senyuman di wajah Nessa pun membeku sesaat. Di bagian duet, pikirannya melayang, nyaris salah masuk ketukan.Nessa mencoba berinteraksi dengannya saat jeda musik. Sorot matanya lembut, tetapi yang Emran rasakan hanya gangguan.Kepalanya dipenuhi Yola. Mata Yola yang berbinar saat mendengarnya bernyanyi. Ujung hidung Yola yang memerah setelah dia membuatnya menangis.Setahun lalu, Yola berjinjit dengan kikuk, tetapi terlihat bersungguh-sungguh saat







