Hujan semakin deras. Namun, sosok yang berdiri di depan pintu tetap tak mau pergi.Tangis pilu Yuda bercampur dengan suara hujan, menggema sepanjang malam, tapi hatiku tak melunak sedikit pun.Perasaanku padanya telah lama terkikis habis, seiring kepergian Damar.Beberapa hari berikutnya, Yuda hanya berdiri jauh di luar. Pandangannya tertuju pada altar duka di halaman rumah. Air mata menetes tanpa henti.Meski para tetangga merasa iba dan terus membelanya, aku tetap tak mengizinkannya melangkah mendekat, bahkan setapak pun.“Damar, permintaan terakhirmu .…”“Mama pasti akan menepatinya.”Aku menebang pohon kurma di halaman rumah, lalu membuangnya ke pinggir jalan, tepat di hadapan Yuda.Buah-buah kurma berjatuhan ke tanah, satu per satu.Mata Yuda memerah.Malam itu juga, dia pergi meninggalkan tempat ini.…Enam bulan kemudian.Dari ruang kelas sederhana di desa, terdengar suara anak-anak membaca lantang.“Musim semi datang tanpa terasa, di mana-mana terdengar kicauan burung .…”Yuda
Read more