Seiring waktu, Yuda akhirnya mengingat … Damar suka kue persik.Namun dia tak tahu ….Damar menderita asma. Makanan kering adalah yang paling dia benci.Yang dia tunggu bukanlah kue persik, melainkan ayahnya, Yuda, yang selalu kembali dengan selamat.Hatiku perih, tapi di wajahku tetap terlukis senyum tipis.“Makasih,” ucapku lembut.Yuda membalas dengan senyum hangat, lalu kembali berbicara, “Anak Salsa suka banget sama baju Damar, jadi kuberikan saja padanya. Lagi pula, sekarang harga kain nggak mahal, kamu bisa buat lagi untuk Damar. Gimana menurutmu?”Aku mengangguk pelan. Entah kenapa, hatiku terasa begitu damai.“Nggak apa-apa,” jawabku.Yuda tampak terkejut, seolah tak terbiasa melihat ketenanganku.“Kamu nggak marah?”Aku menggeleng.“Nggak.”“Oh iya, malam ini ulang tahun Damar. Kamu bisa pulang nemenin dia merayakannya?”Menyadari permintaan itu, Yuda jelas terlihat lega.Dia tersenyum lebar, bahkan memberi hormat kecil padaku.“Siap, laksanakan.”Malam itu, aku menyiapkan sa
Magbasa pa