LOGINSuamiku … seorang komandan resimen yang telah menikah denganku selama sepuluh tahun, kutahan di luar ruang duka anak kami. Bukan tanpa alasan. Sebelum mengembuskan napas terakhirnya, anakku meninggalkan tiga permintaan terakhir. Permintaan pertama … Untuk sementara waktu, jangan beri tahu ayah tentang kematiannya. Dia takut ayahnya akan bersedih. Permintaan kedua …. Masakkan makanan kesukaan ayah, lalu mintalah ayah menemaninya merayakan ulang tahunnya yang terakhir. Dan permintaan ketiga …. Jika ayah tak datang, maka pastikan, benar-benar pastikan, jangan pernah biarkan pria itu muncul lagi di depan makamnya. Jadi, setelah anakku tiada …. Meski hujan deras mengguyur di luar aula duka. Meski pria itu berdiri dengan mata merah dan tubuh gemetar. Meski tangisnya pecah histeris di balik pintu ruang duka …. Aku tetap tak membiarkannya mendekati anakku. Bahkan selangkah pun tidak. Tiga hari lalu, Yuda Saloka menghabiskan semalaman bersama cinta pertamanya. Bersama anak perempuan itu, mereka menyalakan kembang api. Saat pulang, dia membawa sebuah tas sekolah baru. Katanya … sebagai pengganti karena telah melewatkan ulang tahun anak kami. Tapi dia mengerutkan kening, tak mengerti alasan air mata di sudut mataku. “Cuma ulang tahun saja, ‘kan? Nanti juga bisa dirayakan lagi.” Saat itu, dia belum tahu … Anak kami … yang baru berusia lima tahun … telah meninggal karena asma. Dan takkan pernah lagi punya kesempatan menyambut hari pertamanya bersekolah.
View MoreHujan semakin deras. Namun, sosok yang berdiri di depan pintu tetap tak mau pergi.Tangis pilu Yuda bercampur dengan suara hujan, menggema sepanjang malam, tapi hatiku tak melunak sedikit pun.Perasaanku padanya telah lama terkikis habis, seiring kepergian Damar.Beberapa hari berikutnya, Yuda hanya berdiri jauh di luar. Pandangannya tertuju pada altar duka di halaman rumah. Air mata menetes tanpa henti.Meski para tetangga merasa iba dan terus membelanya, aku tetap tak mengizinkannya melangkah mendekat, bahkan setapak pun.“Damar, permintaan terakhirmu .…”“Mama pasti akan menepatinya.”Aku menebang pohon kurma di halaman rumah, lalu membuangnya ke pinggir jalan, tepat di hadapan Yuda.Buah-buah kurma berjatuhan ke tanah, satu per satu.Mata Yuda memerah.Malam itu juga, dia pergi meninggalkan tempat ini.…Enam bulan kemudian.Dari ruang kelas sederhana di desa, terdengar suara anak-anak membaca lantang.“Musim semi datang tanpa terasa, di mana-mana terdengar kicauan burung .…”Yuda
Di balik pintu, Yuda terduduk bersandar, punggungnya menempel di pintu.Kata-kata Salsa barusan langsung menghapus rasa bersalah yang sempat muncul di hatinya.Dia memegangi kepalanya, sulit menerima kenyataan bahwa selama ini dia berulang kali menyakiti istri dan anaknya … demi wanita seperti itu.Kepalanya tertunduk.Tubuhnya membeku bagai patung, tenggelam sepenuhnya dalam lautan penyesalan yang memenuhi ruangan.Keesokan harinya, Yuda memasukkan daging, beras, dan berbagai bahan makanan yang telah disiapkan ke dalam tas ransel.Dia bersiap pulang ke kampung halaman.Namun tepat saat hendak berangkat, Salsa tiba-tiba berlari menghampirinya.Devan membuat masalah di sekolah.Bocah itu merebut tas baru milik temannya, bahkan mengancam akan memukuli siapa pun yang berani melapor.Di sekolah baru, tak satu pun anak yang mau menuruti kemauannya.Teman-teman sekelas pun mengungkapkan kronologi kejadian satu per satu.Tanpa ragu, pihak sekolah memutuskan Devan harus dijemput orang tuanya.
Di dalam ruangan yang gelap dan tertutup, Yuda hampir lupa akan waktu.Dia sudah berjanji pada Devan.Demi menjaga harga diri anak itu agar tak diremehkan teman-temannya, dia bersedia berpura-pura menjadi ayahnya dan muncul sebentar di acara pembukaan sekolah.“Yuda, sore ini waktunya Devan daftar ulang. Kamu ‘kan sudah janji mau antar dia ke sekolah.”Yuda mengusap pelipisnya yang berdenyut nyeri.Cahaya matahari menembus celah jendela, jatuh tepat di wajahnya, membuatnya refleks memicingkan mata.Mimpi barusan terlalu indah, hingga membuatnya larut dalam kerinduan.Ketukan di pintu yang memecah keheningan justru membuatnya sedikit kesal.Dia bangkit perlahan, mengusap wajah dengan telapak tangan yang kering, lalu melangkah menuju pintu.Begitu pintu terbuka, tatapannya langsung bertemu dengan mata Salsa yang tampak memelas.“Maaf, Salsa. Aku nggak bisa menemanimu hari ini.”Sorot mata Salsa bergetar, memancarkan kebingungan dan kepolosan.“Ah … tapi hari ini kamu sudah janji sama Dev
“Amanda! Aku tahu aku salah. Tolong … beri aku satu kesempatan lagi.”“Aku benar-benar nggak mau kehilanganmu!”“Ini semua salahku! Aku memang bajingan! Pukul aku, maki aku, apa pun … asalkan kamu jangan pergi.”Yuda, seorang pria yang sangat menjaga harga dirinya. Jarang sekali aku melihatnya merendah seperti ini.Sayangnya, aku tak merasa terharu ataupun iba.Hanya saja … aku merasa sedikit lucu.Aku menghela napas panjang.“Yuda! Surat permohonan cerai sudah aku ajukan. Mulai sekarang, sebaiknya kita berhenti saling ganggu.”“Nggak! Aku nggak mau!”Yuda menggeleng cepat, mati-matian menolak melepaskan tanganku.Aku menatap kesedihannya dengan dingin, tanpa sedikit pun goyah.Dari pengeras suara, terdengar pengumuman.Kereta akan segera berangkat.Aku menoleh ke arah peron, dan melihat Yuda kembali gelisah. Seolah begitu melepas genggamannya, aku benar-benar akan pergi selamanya.Melihatnya terus menghalangiku, tiba-tiba aku mendapatkan ide. Aku menunjuk ke belakangnya dan berteriak






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.