Short
Tanpa Ayah di Hari Terakhir

Tanpa Ayah di Hari Terakhir

By:  DaunCompleted
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
12Chapters
1views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Suamiku … seorang komandan resimen yang telah menikah denganku selama sepuluh tahun, kutahan di luar ruang duka anak kami. Bukan tanpa alasan. Sebelum mengembuskan napas terakhirnya, anakku meninggalkan tiga permintaan terakhir. Permintaan pertama … Untuk sementara waktu, jangan beri tahu ayah tentang kematiannya. Dia takut ayahnya akan bersedih. Permintaan kedua …. Masakkan makanan kesukaan ayah, lalu mintalah ayah menemaninya merayakan ulang tahunnya yang terakhir. Dan permintaan ketiga …. Jika ayah tak datang, maka pastikan, benar-benar pastikan, jangan pernah biarkan pria itu muncul lagi di depan makamnya. Jadi, setelah anakku tiada …. Meski hujan deras mengguyur di luar aula duka. Meski pria itu berdiri dengan mata merah dan tubuh gemetar. Meski tangisnya pecah histeris di balik pintu ruang duka …. Aku tetap tak membiarkannya mendekati anakku. Bahkan selangkah pun tidak. Tiga hari lalu, Yuda Saloka menghabiskan semalaman bersama cinta pertamanya. Bersama anak perempuan itu, mereka menyalakan kembang api. Saat pulang, dia membawa sebuah tas sekolah baru. Katanya … sebagai pengganti karena telah melewatkan ulang tahun anak kami. Tapi dia mengerutkan kening, tak mengerti alasan air mata di sudut mataku. “Cuma ulang tahun saja, ‘kan? Nanti juga bisa dirayakan lagi.” Saat itu, dia belum tahu … Anak kami … yang baru berusia lima tahun … telah meninggal karena asma. Dan takkan pernah lagi punya kesempatan menyambut hari pertamanya bersekolah.

View More

Chapter 1

Bab 1

Setelah membereskan barang-barang peninggalan anakku, aku membawa surat kematian untuk meminta tanda tangan direktur rumah sakit.

Di lantai tiga, dari celah pintu ruang rawat VIP yang setengah terbuka, aku melihat sosok Yuda. Pria yang telah menghilang selama berhari-hari.

“Komandan, bukannya Nona Salsa cuma tergores sedikit saja? Komandan sudah menemaninya lima hari. Apa nggak ada niatan pulang ke rumah?”

“Beberapa hari ini, istri Komandan datang ke markas berkali-kali. Sesuai perintah Komandan, aku nggak pernah mengizinkannya bertemu Komandan.”

“Bahkan … beberapa kali istri Komandan sampai berlutut, hanya untuk memohon agar Komandan mau menjenguk anak.”

“Apa sikap Komandan seperti ini benar-benar pantas?”

Ajudan pribadi Yuda, Arya Komang, berdiri di dalam ruangan dengan wajah menahan iba.

Ekspresi Yuda tetap datar.

Hanya saat mendengar aku berlutut, bibirnya terkatup tipis. Sekilas, ada gelisah yang muncul entah dari mana.

Namun detik berikutnya, pandangannya beralih pada wanita muda yang terlelap di ranjang rumah sakit. Nada suaranya pun mengeras, penuh ketegasan.

“Nggak ada yang nggak pantas. Salsa baru saja bercerai, emosinya belum stabil. Wajar kalau aku lebih sering menemaninya.”

“Soal Amanda .…”

Dia terdiam sejenak.

“Aku menikahinya memang supaya ada yang mengurus rumah dan keluarga. Soal anak, kehadirannya sudah lebih dari cukup, nggak perlu ada aku.”

“Memangnya tanpa Aku sebagai ayah, Damar bakal mati?”

“Tapi ....”

“Sudah cukup. Aku yang akan mengurus masalah keluargaku sendiri. Cepat lihat apa makanan di kantin sudah siap. Jangan sampai Salsa telat makan.”

Arya pun menghela napas panjang, lalu berjalan keluar.

Saat pintu terbuka, dia langsung menabrakku.

“Kak Amanda ....”

Suara kaget Arya terdengar jelas hingga ke dalam ruangan.

Alis Yuda langsung berkerut.

Dia pun ikut melangkah keluar.

“Kenapa kamu di sini?”

Pria itu berdiri waspada, tubuhnya menutup pintu rapat-rapat, seolah takut aku akan menerobos masuk dan mengganggu harta berharganya.

Aku membuka mulut, ingin mengatakan bahwa aku tak akan mengganggunya.

Aku sudah tak peduli lagi padanya.

Yang tersisa … hanyalah kebencian.

Namun sebelum sempat bicara, dia lebih dulu tak sabar mengusirku.

“Aku nggak tahu dari mana kamu tahu aku di rumah sakit. Tapi kuperingatkan satu hal, aku harus menjaga Salsa. Aku nggak punya waktu meladeni permainan cemburu murahanmu.”

Jika ini terjadi dulu, mendengar kalimat seperti itu, aku pasti sudah kehilangan kendali.

Mempertanyakan apakah dia pernah menganggapku sebagai istrinya.

Namun hari ini ….

Aku hanya merasa lelah. Lelah hingga ke dasar jiwaku.

Aku menggoyangkan lembar rekam medis di tanganku, bersiap memberitahunya kabar tentang kepergian anaknya.

Namun sebelum kata-kata itu sempat terucap … bayangan detik-detik terakhir anakku tiba-tiba kembali muncul di pelupuk mata.
Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
12 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status