Sementara itu, Livia tampak duduk melamun di depan jendela. Tatapannya menerawang ke beberapa tahun silam. Saat ia dan Kael masih kecil, saat ia masih sering berkunjung ke istana. Bukan, bukannya tidak ada tujuan kedatangan Livia ke istana. Selain mengunjungi Kael, ia juga datang bersama ibunya menemui Kaisar Vorentis. Pagi itu, ibunya sedang berada di taman belakang, tempat biasanya Kaisar Vorentis menghabiskan waktu senggangnya. Kala itu Kaisar Vorentis belum menjadi kaisar. “Helena, kau datang lagi?” tanya Vorentis. “Ya, aku akan selalu datang setiap seminggu sekali, Vorentis.” Vorentis hanya diam sambil memalingkan wajah. “Kau sudah menikah, Helena. Tidak seharusnya kamu terus berkunjung menemuiku.” “Aku hanya membawa Livia menemui ayahnya, Vorentis!!” Vorentis terperangah kaget mendengar ucapan Helena. “Jaga ucapanmu, Helena!! Kau tidak tahu ada banyak telinga di istana ini!!” Helena ber
Leer más