“Anda memanggil hamba, Yang Mulia.”Varro menunduk dalam.“Aku memanggilmu bukan tanpa alasan, Jenderal.”Suara Livia meluncur tenang, tetapi dinginnya menusuk seperti bilah tipis yang diselipkan di balik sutra. Ia duduk di singgasana, anggun, tak tergoyahkan—namun matanya… matanya penuh perhitungan.Varro melangkah mendekat, setiap pijakannya terasa berat, seolah lantai istana menyimpan sesuatu yang tak kasat mata.“Apa kau masih ingat Nocturnia?”Nama itu saja sudah cukup membuat udara berubah. Varro mengangkat wajah sedikit, lalu mengangguk. Ia hadir di sana. Ikut membantu Kael menumpas pemberontakan itu.“Nocturnia… pemberontakan itu sudah berakhir, Yang Mulia. Saya ada di sana. Saya melihatnya sendiri.”“Apa kau yakin semua gerombolan pemberontak itu mati? Tanpa sisa?”“Iya, Yang Mulia. Saya bisa memastikannya. Saat itu Jenderal Ka
Baca selengkapnya