“APA?!” suara Elowen pecah, mengguncang sunyi di antara mereka. “Lalu apa yang terjadi? Kenapa kamu tidak bilang padaku? Kenapa kamu diam saja, Kael?”Nada suaranya bergetar antara marah, takut, dan cemas yang tak bisa lagi ia sembunyikan. Namun Kael hanya tersenyum tipis.Dengan gerakan lembut, ia menyelipkan helaian rambut Elowen yang terlepas ke balik telinganya, seolah dunia ini tak pernah benar-benar kejam pada mereka.“Untuk sesaat,” gumamnya pelan, “aku marah. Wanita itu… ternyata tidak mati.”Elowen menahan napas. Matanya membesar, menanti kelanjutan yang terasa semakin menyesakkan.“Aku bahkan sudah mencabut pedangku,” lanjut Kael, suaranya rendah, penuh bayang masa lalu. “Dan menghunuskannya tepat di lehernya.”Hening.“Namun… entah kenapa…” Ia menunduk sejenak, lalu kembali menatap Elowen. “Aku memaafkannya begitu
Read more