เข้าสู่ระบบPutri Elowen Lysandra dari Asterra terpaksa menikah dengan Jenderal Kael Dravion Aurelian atas perintah Kaisar. Pernikahan bagi Kael untuk menutupi rumor penyimpangan seksualnya dan bagi Elowen untuk menutupi aib kehamilannya di luar nikah. Dua insan dengan dua tujuan berbeda dipertemukan dalam ikatan pernikahan tanpa cinta. Lalu apa jadinya jika istana tahu soal kehamilan Elowen dan mengancam tahta Kael?
ดูเพิ่มเติมElowen Lysandra mengerat bibir sambil meremas perut, menahan sakit dan mual di sana. Setahunya ia tidak makan apa pun, tapi mengapa sepagi ini perutnya bergolak tak karuan.
“Putri, apa Anda baik-baik saja?” tanya salah satu dayang.
Wanita cantik itu terdiam sambil menyeka bibir. Seketika dayangnya mendekat dan membantu Elowen duduk. Wajahnya putih pucat terlihat berkilauan ditimpa mentari pagi yang menerobos melalui jendela kamar.
Rambut keemasannya yang dikepang longgar terjuntai menghiasi wajah ayunya. Begitu sempurna memantulkan ciptaan sang Dewa.
“Aku baik saja. Ada apa?”
Wanita muda, salah satu dayang Elowen itu kini terdiam. Wajahnya terlihat tegang sambil terus memilin tangan.
Mata Elowen menyipit menatapnya penuh curiga. Ia tahu apa maksud dari gestur tubuh dayangnya kali ini.
“Sudah diputuskan, Putri.”
Elowen menghela napas pelan. Ia sudah tahu sebelum kata-kata itu diucapkan.
Ia akan dinikahkan.
Bukan dengan pangeran negeri sahabat, bukan pula dengan bangsawan muda penuh pujian.
Melainkan dengan satu nama yang membuat istana menahan napas setiap kali disebut.Kael Dravion Aurelian.
Jenderal kekaisaran. Keponakan kesayangan Kaisar. Calon penerus takhta yang tak pernah tersenyum. Dan, menurut rumor, seorang pria yang menyimpang.
Kael Dravion adalah pedang kekaisaran. Dingin, presisi, tak mengenal belas kasihan di medan perang. Ia memenangkan peperangan seolah itu sekadar perhitungan angka, bukan pertumpahan darah. Para prajurit memujanya, musuh gemetar menyebut namanya, namun istana … membencinya dalam diam.
Terlalu kuat. Terlalu tak tersentuh. Terlalu sulit dikendalikan.
Maka mereka menciptakan bisikan, bahwa Kael menolak wanita. Bahwa ia dingin terhadap sentuhan. Bahwa ada sesuatu yang salah dengannya, sesuatu yang tak pantas menjadi kaisar.
“Putri, apa Anda menerimanya?”
Elowen berdiri, berjalan menuju jendela kamar. Matanya kosong memandang taman yang diselimuti kabut pagi. Gaun putih gadingnya jatuh sederhana, nyaris terlalu polos untuk seorang putri bangsawan.
“Apa aku punya kuasa untuk menolak?” ucapnya seperti berbicara sendiri.
Tidak ada jawaban dari sang Dayang. Ia terdiam menatap punggung Elowen.
Sementara Elowen hanya berdiri mematung bagai patung dewa di kuil yang biasa ia puja. Keanggunan tersirat dari dirinya. Kelembutan terlihat dari tatapannya, tapi tanpa ada yang tahu ia sedang menyimpan duka.
Menyimpan sakit yang tidak pernah ia katakan pada siapa pun. Bahkan rasanya tabu untuk membicarakan hal ini. Apalagi untuk seorang Putri Elowen Lysandra dari Asterra.
Ingin rasanya Elowen mendelete kejadian sebulan sebelumnya. Ia ingin menghapus satu masa itu dan membuangnya tak bersisa. Saat seorang pria bejad tak bertanggung jawab dengan sadis merenggut keperawanannya. Menghancurkan kebanggaannya sebagai seorang wanita.
Lalu dua hari yang lalu, Elowen baru sadar jika sudah ada napas baru berhembus dalam rahimnya. Ini aib. Ini memalukan, apa jadinya jika keluarganya tahu.
Yang pasti hamil tanpa suami adalah bencana dan kutukan bagi keluarganya. Status bangsawan dan kedudukan ayahnya sebagai penguasa Asterra akan dicabut. Tidak hanya itu saja, hukuman cambuk dan bahkan lebih menyeramkan jika harus digantung di alun-alun kota karena aib ini.
“Putri.”
Panggilan sang Dayang membuyarkan lamunan Elowen. Ia menoleh dan menatap dayang kesayangannya dengan teduh.
“Anda harus bersiap, enam jam dari sekarang Jenderal Kael akan datang menemui Anda.”
Elowen tertegun tak bereaksi. Ini sudah biasa terjadi pada tradisi di negerinya. Siapa saja yang sudah dijodohkan akan dipertemukan untuk kemudian dinikahkan keesokan harinya. Mau tidak mau Elowen harus menemuinya.
“Saya akan bantu Anda bersiap.”
Tidak ada penolakan juga tidak ada jawaban. Hanya tatapan kosong dari mata hijau yang memikat itu.
Beberapa jam kemudian tampak Elowen Lysandra melangkah menyusuri lorong batu kastil dengan langkah terukur. Setiap tapaknya ringan, nyaris tak bersuara, namun pikirannya bergerak cepat. Ia tahu, pertemuan ini bukan sekadar formalitas. Ini adalah awal dari ikatan yang tidak ia pilih, tapi harus ia menangkan.
Ruang audiensi kecil di sayap barat jarang digunakan. Terlalu dekat dengan barak, terlalu jauh dari kemewahan aula utama. Tempat itu dipilih bukan tanpa alasan.
Di sanalah Kael Dravion Aurelian menunggu.
Elowen berhenti di ambang pintu ketika melihatnya pertama kali.
Jenderal itu berdiri membelakangi jendela tinggi, siluetnya dipotong cahaya sore yang dingin. Seragam hitamnya sederhana, tanpa hiasan berlebihan, namun setiap garisnya tegas. Pedang kekaisaran tergantung di pinggangnya, bukan sebagai ancaman, melainkan pernyataan. Ia tidak pernah datang tanpa kesiapan untuk bertempur.
Kael tidak menoleh ketika pintu ditutup di belakang Elowen.
Ia tidak memberi salam. Tidak pula menundukkan kepala.
Sikap itu saja sudah cukup membuat banyak bangsawan tersinggung. Namun Elowen tidak bereaksi. Ia hanya melangkah maju, berhenti pada jarak yang sopan, lalu menundukkan kepala sedikit, cukup untuk menjaga martabat, tidak cukup untuk merendahkan diri.
“Aku Putri Elowen Lysandra,” ucapnya lembut, “terima kasih telah bersedia menemuiku, Jenderal.”
Hening.
Beberapa detik berlalu sebelum Kael akhirnya berbalik. Tatapannya tajam, dingin, seperti medan perang sebelum darah pertama tertumpah. Mata itu tidak menunjukkan rasa ingin tahu, tidak pula penolakan, hanya kewaspadaan.
“Aku tahu siapa dirimu,” katanya singkat.
Suaranya rendah, datar, tanpa emosi yang bisa ditangkap. Bukan kasar, tapi sama sekali tidak berusaha menyenangkan.
Elowen mengangguk pelan. “Maka izinkan aku langsung pada tujuanku.”
Kael mengangkat alis tipis. Gerakan kecil, namun cukup untuk menunjukkan bahwa ia tidak mengharapkan keberanian semacam itu.
“Pernikahan ini,” lanjut Elowen, menatap lurus ke arahnya, “bukan kehendak kita. Namun istana menginginkannya.”
Keheningan kembali turun, kali ini lebih berat.
Kael menatapnya lama. Terlalu lama bagi seorang pria yang dikatakan tidak tertarik pada wanita. Tatapan itu bukan penuh hasrat, melainkan analisis. Seolah Elowen adalah peta perang yang harus dibaca dengan hati-hati.
“Apakah kau menerimanya?” tanyanya akhirnya.
Elowen tersenyum kecil. Senyum yang lembut, namun tidak goyah.
“Apa Jenderal mengizinkan saya untuk menolak?”
Bukannya menjawab pertanyaan Kael, Elowen malah balik bertanya. Mata Kael berbinar dengan sebuah senyum miring tercetak di wajahnya. Sekilas tangan Kael memegang gagang pedang seolah bersiap menarik pedang dari sarungnya kapan saja.
Kemudian dengan dingin, Kael bersuara, “Kamu tahu konsekuensi penolakanmu, Putri. Mati ditanganku atau digantung di alun-alun kota!”
“Putri sepertinya kelelahan usai menempuh perjalanan jauh, Jenderal,” urai tabib istana.Setelah Kael membawa Elowen keluar dari aula utama, Raja Calleb memerintahkan tabib istana untuk memeriksa kesehatan Elowen.“Setelah istirahat sejenak, pasti akan kembali pulih,” imbuhnya.Kael hanya tersenyum sambil menganggukkan kepala. Kemudian ia melirik ajudannya. Seolah paham apa maksud tatapan Kael, sang Ajudan langsung mengantar tabib istana keluar ruangan.Kael hanya diam menatap Elowen yang masih berbaring lemah. Kemudian tanpa sadar Kael menatap kedua tangannya. Sekelebat bayangan saat dia menggendong Elowen keluar dari aula utama terputar di benaknya.Kael mendengkus kasar. “Apa yang aku lakukan tadi?”Selanjutnya tanpa suara ia sudah berlalu pergi, keluar dari kamar Elowen.Entah berapa lama Elowen terlelap, yang pasti saat ia terjaga ada aroma enak menusuk hidungnya. Pelan Elowen membuka mata dan melihat seorang dayang sedang tersenyum menatap ke arahnya.“Akhirnya Anda siuman, Putr
Tidak ada penolakan, juga tidak ada kesedihan terlihat di wajah Elowen. Dengan anggun, wanita cantik itu memutar tubuhnya dan berlalu pergi. Rambut keemasannya berterbangan tertiup angin dengan gaun biru mudanya yang berkelebatan.Dua insan berdiri saling membelakangi dan berjalan menjauh ke dua arah berbeda. Sinar mentari pagi membentuk bayangan mereka memanjang dan menjauh dengan dramatis.Alaric yang melihat dari kejauhan hanya menghela napas sambil menggelengkan kepala.“Hmm … Kael. Sampai kapan kamu seperti ini?” gumam Alaric.Sejak hari itu, mereka tidur terpisah. Kael menempati kamarnya dan Elowen tetap berada di kamarnya. Mereka hanya bertemu saat makan pagi dan makan malam saja. Selanjutnya keduanya sibuk dengan aktivitas masing-masing.Elowen sama sekali tidak keberatan dengan hal ini. Setiap hari ia lebih sering menghabiskan waktu di perpustakaan. Istana memiliki perpustakaan terlengkap. Tentu saja ini bagai surga untuk Elowen yang kutu buku.Pagi itu seperti biasa, Elowen
Tidak ada kata yang terucap dari Kael, tapi tatapan dingin pria itu sudah mewakili pedang di pinggangnya. Sementara Elowen hanya membisu dengan jantung berdentum.Ia tidak pernah mendengar rumor soal ini. Setahu Elowen, Pangeran Alaric sudah dijodohkan dengan putri negeri tetangga. Bukan dirinya.Alaric mengalihkan pandangan, menoleh ke Elowen kemudian berganti ke Kael. Hening untuk beberapa saat.Hingga tiba-tiba tawa Alaric pecah menggema mengisi kesunyian ruang makan itu.“Astaga, Kael! Kamu tegang sekali. Aku hanya bercanda tadi.”Kael hanya diam, sama seperti tadi. Tidak ada senyuman juga tidak ada tawa yang menemani gelak Alaric.Alaric menghentikan tawanya, menatap Elowen sambil menundukkan kepala.“Maafkan aku, Putri. Aku hanya bercanda. Mana berani aku merebut kamu dari Kael. Bisa-bisa kepalaku putus.”Elowen tersenyum samar sambil melirik Kael yang duduk di depannya. Namun, sepertinya tidak ada reaksi apa pun dari pria dingin itu.Tanpa suara, Kael langsung berdiri dan berla
Mata Elowen melebar, bibirnya membeku dengan gestur tubuh yang menegang. Kemudian tanpa diminta kejadian malam kelam sebulan lalu berkelebatan di benaknya.Saat sosok tak bernama tiba-tiba menyergap, menarik dirinya, melecehkannya habis-habisan hingga Elowen kehilangan mahkotanya.Buru-buru Elowen menunduk, menghindar dari mata dingin yang menusuk dadanya. Ia tahu apa tugasnya sebagai istri di malam pertama. Namun, kejadian malam itu menyisakan trauma dan membuat Elowen menderita.“Kamu tidak mendengar perintahku, Putri?”Suara Kael menggema, memenuhi seisi kamar dan sontak membuat Elowen mengangguk.Perlahan jemari Elowen bergerak membuka ikatan bajunya. Tangannya gemetar, jantungnya berdetak semakin kencang dengan napas yang mulai tersengal.Sementara Kael hanya diam bagai patung memperhatikannya tanpa kedip. Apa ini yang dibilang pria tanpa hasrat pada wanita? Apa dia yang dibilang pria dengan penyimpangan seksual? Pencinta sesama jenis.Namun, nyatanya ia seperti binatang buas yan
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.