Nero tidak langsung menjawab. Senyumnya tetap terpasang, tetapi ada sesuatu yang berubah di sorot matanya—lebih tajam, lebih dalam, seolah mencoba menembus setiap lapisan kebohongan yang mungkin disembunyikan Lunara. “Menarik,” gumamnya pelan. “Kau mencoba membuatku tertarik dengan apa yang terjadi padamu. Itu sudah menunjukkan bahwa kau mengalami sesuatu. Dan, diantara banyak orang, kau sangat berani sampai mencoba memanfaatkanku ya? Kau pikir aku bodoh? Tetapi, aku tahu. Kau seperti itu karena sudah paham bagaimana diriku, benar?" Lunara tidak berkedip. Tatapannya tetap dingin, penuh perhitungan. Salah langkah sedikit saja, nyawanya bisa melayang. Tapi di sisi lain, jika berhasil… ia akan mendapatkan sekutu paling berbahaya di kekaisaran. “Atau mungkin,” lanjut Nero, “kau hanya sedang menggertak.” “Kalau aku menggertak, kau tidak akan bereaksi seperti itu,” balas Lunara cepat. Hening sejenak. Angin berembus pelan, membawa sisa-sisa bau darah dan bangkai monster dari medan pert
Last Updated : 2026-05-04 Read more