Ruangan itu sunyi senyap.Entah sudah berapa lama berlalu.Elara akhirnya membuka suara. Nadanya terdengar tenang, "Deon, tahu kenapa dulu aku memutuskan pulang ke negara ini?"Deon berdiri di tempat, tatapannya terpaku pada punggung ramping Elara. Bibir tipisnya terkatup rapat, tanpa menjawab."Selama lima tahun, kamu terus menunda mengurus perceraian kita. Aku sangat tahu, bahkan kalau sampai dibawa ke pengadilan pun, belum tentu aku bisa benar-benar bercerai darimu."Suara Elara tetap datar, tetapi tersembunyi kesedihan yang nyaris tak terdengar. "Waktu itu aku berpikir, lebih baik memanfaatkan kesempatan ini untuk membalasmu, membuatmu merasakan penderitaan yang dulu pernah kualami. Tapi kamu secerdik itu, mana mungkin nggak menebak isi hatiku?""Karena itu kamu bekerja sama denganku, memainkan sandiwara sebagai pasangan suami istri yang saling mencintai. Kamu ingin membuatku tenggelam dalam perasaan semu, tenggelam dalam kehidupan keluarga yang tampak bahagia bersama Elise, agar a
Leer más