Lampu kamar VVIP 901 diredupkan hingga hanya menyisakan pendar kuning di sudut ruangan.Di atas nakas, semangkuk bubur ayam yang masih hangat mengepulkan uap tipis, namun Revana tidak meliriknya sedikit pun.Ia meringkuk di atas ranjang, memeluk lututnya erat-alih-alih bersandar pada bantal. Matanya yang sembab terus bergerak gelisah, menatap bayangan gorden yang bergoyang ditiup angin pendingin ruangan.Damian duduk di tepi ranjang. Ia telah menukar kemeja hitamnya yang berdarah dengan kaus polos berwarna gelap. Ia mengaduk bubur itu perlahan, denting sendok perak yang beradu dengan mangkuk keramik menjadi satu-satunya suara di kamar itu.“Hanya tiga suap, Revana. Kau butuh tenaga agar obatnya bekerja,” ucap Damian lembut.Revana menggeleng cepat, tubuhnya gemetar. “Dia ada di sana, Damian. Di balik gorden itu. Aku melihat bayangan gaun merahnya.”Damian meletakkan mangkuk itu sejenak, lalu berdiri, berjalan menuju jendela, dan menyentakkan gorden itu hingga terbuka lebar, memperliha
Última atualização : 2026-03-04 Ler mais