Di Bawah Kuasa Tiga Majikan Tampan

Di Bawah Kuasa Tiga Majikan Tampan

last updateLast Updated : 2026-01-22
By:  Leona ValeskaUpdated just now
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
Not enough ratings
12Chapters
129views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

"Kau adalah putri seorang pengkhianat, dan kau akan membayar segalanya dengan hidupmu." Revana Jovanka, 24 tahun tidak pernah menyangka hidupnya akan berakhir di tangan Damian Leonardo, 34 tahun, pria tanpa hati yang kini memegang takhta tertinggi mafia. Dianggap sebagai jaminan atas pengkhianatan ayahnya, Revana dipaksa tunduk dalam dominasi Damian yang gelap dan menyesakkan. Bukan hanya Damian saja yang ada di dalam mansion itu, melainkan tiga putra sekaligus dan Revana harus tunduk di bawah kuasa tiga majikannya!

View More

Chapter 1

Bab 1

“Lantai ini harus cukup bersih sampai kau bisa melihat bayangan wajah menjijikkanmu di sana, Revana.”

Revana Jovanka, gadis cantik berusia 24 tahun itu kini tengah bersimpuh dengan lutut gemetar.

Baru seminggu yang lalu dia berdiri tegak dengan toga wisudanya sambil memegang ijazah sarjana dengan mimpi setinggi langit.

Kini, mimpi itu runtuh. Sebagai ganti nyawa Carlo Leonardo yang tewas dalam kecelakaan sabotase yang didalangi ayahnya, Revana harus menanggalkan harga dirinya.

Seragam pelayan yang dikenakannya terasa terlalu tipis, kasar, dan menghina, potongan kain abu-abu kusam yang menandakan kasta terendahnya di rumah ini.

Damian Leonardo berdiri di hadapannya, menjulang seperti malaikat maut dengan setelan jas seharga ribuan dolar. Sepatu pantofelnya yang mengkilap menginjak ujung jemari Revana yang sedang memegang kain pel.

“Kau dengar aku, Revana?” Damian menekan sepatunya hingga membuat Revana meringis tertahan.

“D-dengar, Tuan Damian,” bisik Revana parau. Matanya yang sembap menatap lantai karena tak berani mendongak.

“Bicara lebih keras! Di mana harga diri putri tangan kanan ayahku yang hebat itu?” Damian menjambak rambut Revana dan memaksa gadis itu mendongak hingga lehernya terasa ingin patah.

“Ayahmu membunuh ayahku. Dia mengkhianati kepercayaan keluarga ini demi tumpukan uang Moretti. Dan sekarang, kau adalah cicilan pertama dari utang itu.”

“Ayahku tidak mungkin melakukan itu,” rintih Revana. Air mata jatuh melewati pipinya yang memar. “Dia sangat setia pada Tuan Carlo. Dan Anda pun tahu itu, Tuan Damian.”

Pria berusia 34 tahun itu menyunggingkan senyum sinis lalu menekan bahu Revana dengan keras hingga membuat Revana meringis kesakitan.

“Aturan pertama di rumah ini,” Damian membungkuk dan membisikkan kata-katanya tepat di telinga Revana yang berdenging.

“Kau tidak punya hak untuk membela pengkhianat. Kau tidak punya hak untuk bicara kecuali aku memerintahkannya. Jika kau membuka mulutmu lagi tanpa izin, aku akan memastikan adik SMA-mu, Arkan, tidak akan pernah sampai ke sekolahnya besok pagi.”

Revana tersedak isak tangisnya sendiri. Nama adiknya adalah rantai yang mengunci seluruh keberaniannya. Dia tahu Damian tidak main-main. Keluarga Leonardo menguasai polisi, pelabuhan, dan nyawa di kota ini.

“Maafkan aku, Tuan,” bisik Revana dan tubuhnya gemetar hebat. “Aku akan bekerja sebaik mungkin di rumah ini.”

Damian berdiri tegak lalu merapikan jasnya dengan gestur yang sangat tenang, seolah dia tidak baru saja menyiksa seorang wanita.

“Bagus. Habiskan sisa malam ini dengan membersihkan seluruh koridor sayap barat. Jangan berani-berani tidur sebelum semuanya selesai!”

Langkah kaki berat Damian mulai menjauh, namun suara langkah kaki lain terdengar mendekat. Terlalu santai, tidak seperti langkah Damian yang begitu tegas dan menakutkan.

“Wah, wah. Jadi ini 'pembayar utang' yang kau bicarakan, Damian?”

Sebuah suara yang lebih ringan dan bernada ceria terdengar. Revana tetap menunduk, namun dia bisa melihat sepasang sepatu sneakers mahal berhenti di depannya.

Itu Raphael, si bungsu berdiri dengan tangan terlipat di dada, tengah menatapnya dengan ekspresi yang lebih ceria dibanding Damian. 

“Namanya Revana, kan? Cantik juga,” Raphael berjongkok di depan Revana bahkan dia mengabaikan tatapan tajam Damian.

Dia lalu mengulurkan tangannya dan mencoba menyentuh dagu Revana yang kotor. “Hei, manis. Jangan menangis begitu, nanti matamu yang indah jadi bengkak.”

“Jauhkan tanganmu darinya, Raphael,” geram Damian dari kejauhan.

Raphael sontak tertawa kecil, suara tawanya terasa seperti musik yang salah di tempat yang salah.

“Ayolah, Damian. Dia pelayan baru kita, kan? Aku hanya ingin menyapa mainan baru di mansion ini. Siapa tahu dia lebih asyik diajak bicara daripada patung-patung di lorong ini.”

“Dia bukan mainan, Raphael,” ucap Damian dengan nada rendah dan tenang. “Dia adalah peringatan. Peringatan tentang apa yang terjadi pada orang-orang yang mencoba menusuk punggung Leonardo.”

Damian kembali mendekat satu langkah hingga bayangannya menutupi tubuh mungil Revana. “Bersihkan noda-noda sisa kopi itu dari lantai sampai bersih, Revana.”

Revana hanya bisa mengangguk pelan, jemarinya yang gemetar kembali memeras kain pel di ember yang airnya sudah mulai kotor akibat noda kopi yang tumpah di ruang tengah itu.

Damian kemudian berjalan ke arah adik bungsunya, matanya menyipit tidak suka melihat perhatian yang adik bungsunya itu berikan pada Revana. Dia kemudian mencengkeram bahu Raphael dan menariknya menjauh.

“Jangan pernah menganggapnya lebih dari sampah, Raphael,” tegas Damian dengan nada memerintah.

“Dia ada di sini bukan untuk menghiburmu. Dia adalah anak dari pria yang membuat ayah kita terkubur di bawah tanah. Dia pelayan rendahan yang menanggung dosa ayahnya. Perlakukan dia sebagaimana mestinya seorang budak.”

Raphael mengangkat bahunya dan memberikan kedipan mata sekilas pada Revana saat Damian berbalik.

Raphael kemudian melangkah mendekati Revana dan menatapnya dengan tatapan lekatnya. Tangannya terulur pada pucuk kepala Revana dan mengusapnya seperti peliharaan baru di rumah itu. 

“Tentu, Bos. Tapi budak pun perlu diberi makan, kan? Kalau dia mati kelaparan, siapa yang akan membersihkan sepatuku?”

“Dia akan makan jika pekerjaannya selesai. Dan sejauh ini, aku belum melihat lantai ini mengkilap,” potong Damian dingin.

Damian kemudian menatap Revana untuk terakhir kalinya malam itu. “Ingat, Revana. Setiap tetes keringatmu adalah penebusan. Jangan coba-coba melarikan diri, atau kau akan menerima potongan tubuh adikmu di depan pintu kamar pelayanmu!” 

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
12 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status