Lantai kayu di depan kamar mandi utama itu terasa sangat dingin, namun Revana tidak bergeming. Dia duduk meringkuk dengan punggung menyandar pada pintu yang masih terkunci rapat.Semalaman, dia tidak memejamkan mata. Dia mendengarkan setiap suara dari dalam sana, gesekan botol pecah, kucuran air yang tidak kunjung berhenti, dan napas pendek yang terdengar seperti rintihan.“Damian, ini sudah pagi,” bisik Revana. Suaranya serak karena terlalu banyak menangis. “Keluarkan aku dari ketakutan ini. Tolong buka pintunya.”Tidak ada jawaban, hanya suara air yang terus mengalir. Revana memejamkan mata, kepalanya pening karena kelelahan. Tepat saat fajar menyingsing dan cahaya abu-abu menembus jendela villa, suara kunci yang berputar pelan terdengar.Klik.Pintu terbuka beberapa inci. Revana segera berdiri, otot-ototnya kaku. Dia mendorong pintu itu perlahan dan menemukan sosok yang nyaris tidak dia kenali. Damian berdiri di sana, bersandar pada wastafel marmer yang kini retak.Kemeja hitamnya
Baca selengkapnya